Hingga 21 Oktober 2026, Kota Ambon mencatat 157 kejadian kebakaran sepanjang 1 Januari 2026, dan jumlah itu melonjak dalam dua bulan terakhir. Pemkot Ambon menyiapkan pengumuman terbuka atau sayembara berhadiah bagi warga yang dapat membuktikan pelaku pembakaran lahan, sementara Dinas Kehutanan Maluku memantau 369 titik panas yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota.

Lonjakan Api di Awal Oktober

Pencatatan kejadian berubah tajam pada dua bulan terakhir. Agustus menyumbang 15 kejadian, September 33 kejadian, dan sampai 21 Oktober sudah 60 kejadian. Sementara itu, bulan-bulan sebelumnya relatif tenang: Januari dan Februari masing-masing 11 kejadian, Maret 6, April 5, Mei 5, Juni 5, dan Juli 6 kejadian.

Karhutla Naik Hampir Dua Kali Lipat

Pada September, jumlah kejadian karhutla tercatat 26 kejadian. Oktober, hingga tanggal 21, sudah 54 kejadian. Selisihnya 28 kejadian atau sekitar 107,7 persen. Lonjakan dua digit seperti ini jarang muncul dalam catatan kejadian selama beberapa tahun terakhir, dan membuat perhatian publik tertuju ke dua minggu terakhir Oktober.

Nusaniwe Jadi Titik Terpanas

Di tingkat kecamatan, Nusaniwe tertinggi pada Oktober dengan 33 kejadian, melonjak dari 9 kejadian pada September. Sirimau bergerak turun, dari 12 menjadi 11 kejadian. Teluk Ambon naik dua kejadian menjadi 6, Teluk Ambon Baguala bertahan di 3 kejadian pada September dan Oktober, sementara Leitimur Selatan mencatat 1 kejadian pada Oktober. Gelombang api terkonsentrasi di kawasan padat, yang juga memiliki tutupan lahan luas di lereng.

Titik yang Terus Terbakar Ulang

Damkar Kota Ambon yang dipimpin Yanes Leunussa menangani 21 kejadian karhutla sepanjang 1 hingga 6 Oktober 2026, sebagian besar di Gunung Nona, Pensi, STAIN, dan Benteng. Sebagian kejadian berulang di titik yang sama. Pada September, volume penanganan bahkan melampaui 50 kejadian. BPBD Kota Ambon mencatat 24 kejadian kebakaran lahan pada 5 hingga 11 Oktober, tanpa korban jiwa. Gunung Nona, Pensi, serta area pemancar TVRI di Nusaniwe terus terbakar berulang sejak 5 Oktober. Laporan 11 Oktober menyebut kebakaran di Batu Gantung, Tampa Putar, RT002/RW003, Kudamati, Nusaniwe, pukul 06.29 WIT, dan Gunung Nona samping pemancar TVRI, Urimesing, pukul 07.42 WIT. Luas areanya sekitar satulicensed hektar, sebagian lebih besar.

Cuaca yang Memperpanjang Api

Sepanjang 5 hingga 11 Oktober, cuaca berubah dari kabur hingga berawan tebal. Suhu berada di kisaran 24 hingga 31 derajat Celsius dengan kelembapan 63 sampai 94 persen, sementara angin bertiup 10 hingga 11 kilometer per jam dari arah barat laut. Kondisi lembap seperti ini menjaga bahan bakar tetap mudah terbakar begitu api mulai menyala.

Sinyal dari Satelit

Dishut Maluku melalui Haikal Baadilla memantau 369 titik panas: 11 titik berkategori tinggi, 352 sedang, dan 6 rendah. Titik berkategori tinggi tersebar di tiga wilayah, delapan di MBD, dua di SBT, dan satu di Tanimbar. Untuk penanganannya, Pemadaman melibatkan mobil slip-on, kendaraan operasional, mobil tangki air, hingga jetshooter, dengan pendinginan atau mopping up dan pemetaan lanjutan memakai drone.

Wali Kota Tawarkan Hadiah

Wali Kota Bodewin menyatakan, "Saya sudah meminta camat membuat sayembara kepada masyarakat. Kalau ada yang bisa membuktikan seseorang membakar lahan, kita kasih hadiah. Orang yang membakar itu harus ditangkap." Ia menyebut kejadian tersebut diduga terkait aktivitas manusia. Pemantauan kualitas udara bersama BMKG, Dinkes, dan DLHP menyebut secara umum masih berada dalam batas normal, dengan parameter ozon (O3) menjadi perhatian. Bila ambang bahaya tercapai, PJJ dan WFH akan menjadi rujukan kebijakan. Bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan penderita asma, saran yang diberikan adalah tetap di rumah saja dan tidak usah keluar bila tidak berkepentingan.

Abu Terakhir Musim: Karhutla Mengubah Ritme Ambon

Sepanjang 1 Januari hingga 21 Oktober 2026, tercatat 157 kejadian kebakaran di wilayah Kota Ambon. Angka itu bergerak cepat Toward akhir tahun.September mencatat 33 kejadian, lalu 21 hari pertama Oktober sudah mencatat 54 kejadian kebakaran hutan dan lahan, naik 28 kejadian atau 107,7 persen dari 26 kejadian pada September. Di balik deretan angka itu ada rutinitas yang tak bisa diabaikan: anak sekolah beristirahat, aparatur bekerja dari rumah, maskapai membatalkan penerbangan.

Api menyala di titik-titik yang berulang. Damkar Kota Ambon menangani 21 kejadian karhutla di Gunung Nona, Pensi, area STAIN, dan Benteng dalam rentang 1 hingga 6 Oktober, sementara 24 kejadian lahan lain terpantau pada 5 hingga 11 Oktober tanpa korban jiwa. Wilayahnya meluas ke lima kecamatan, yaitu Nusaniwe, Sirimau, Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, dan Leitimur Selatan. Titik fokusnya berada di Hutumuri, Passo Baguala, Kahena, serta Batu Merah di Sirimau. Karena Gunung Nona berulang menyala sejak 5 Oktober, kabut asap tidak lagi berhenti di halaman rumah, melainkan merambat ke ruang kerja dan ruang kelas.

Dampak ekonomi terasa paling cepat di Bandara Pattimura. Pada 7 Oktober, tiga pesawat yang awalnya menuju tujuan lain dialihkan mendarat ke Ambon. Pada 12 Oktober, sembilan penerbangan terganggu. Puncaknya terjadi pada 20 Oktober 2026, ketika seluruh penerbangan dibatalkan karena jarak pandang asap berada di bawah standar. Penumpang yang tertunda, kargo yang berhenti mengalir, dan ruang tunggu yang biasanya ramai berubah sepi. Bagi pulau yang bergantung pada koneksi udara, pembatalan mendadak bukan sekadar angka di kertas, melainkan jam kerja yang hilang, pesanan yang tak bisa dikirim, dan janji kepada keluarga yang harus ditunda.

Sosial, kebijakan publik berubah mengikuti arah angin. Pemerintah Provinsi Maluku memperlakukan kejadian ini sebagai keadaan darurat yang memaksa aparatur bekerja dari rumah dan meliburkan sekolah selama tiga hari. Pemerintah Kota Ambon, yang wilayahnya paling dekat dengan titik-titik api, memilih langkah lebih panjang, yakni pembelajaran jarak jauh dan bekerja dari rumah selama empat hari. Selisih satu hari itu bukan sekadar hitungan kalender, melainkan penanda bahwa ancaman asap belum benar-benar reda ketika keputusan diambil. Bagi keluarga, berarti menjaga anak di rumah, mengatur jadwal, dan menghadapi ketidakpastian apakah kelas akan tatap muka lagi minggu depan.

Lingkungan menanggung beban jangka panjang. Asap yang melumpuhkan bandara juga menyusup ke saluran pernapasan warga, terutama anak-anak dan lansia. Lahan yang terbakar kehilangan penutup vegetasi, sehingga tanah lebih mudah tererosi saat hujan datang. Kebakaran berulang di Gunung Nona sejak 5 Oktober menunjukkan siklus yang sulit diputus: lahan kering mudah menyala, asap mengganggu pemantauan, dan pemadaman butuh waktu lebih lama.

Dari sisi pendidikan, pembelajaran jarak jauh memang menjaga keselamatan, tetapi tidak semua rumah siap menjadi kelas. Tidak semua orang tua punya perangkat memadai, dan tidak semua anak bisa belajar mandiri. Kehilangan beberapa hari tatap muka mungkin terasa kecil, tetapi bagi mereka yang sedang mengejar target kurikulum, setiap hari terasa berat.

Menyikapi situasi ini, pemerintah mengandalkan beberapa saluran. Call Center 112 menjadi jalur pelaporan utama, diperkuat grup WhatsApp dan media sosial. Imbauan disebar melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, hingga TikTok agar menjangkau warga dari berbagai usia. Pemantauan dilakukan lewat kamera CCTV di Command Center yang mencakup lima kecamatan, sementara koordinasi dengan BMKG dan BNPB membantu membaca arah angin serta potensi kekeringan berikutnya.

Pada akhirnya, angka 157 kejadian dan lonjakan 107,7 persen bukan hanya statistik. Ia adalah potret musim yang menuntut kewaspadaan bersama, dari pemerintah, warga, hingga pelaku usaha, agar Ambon tidak lagi kehilangan langitnya begitu lama setiap kali kabut asap datang.

Kronologi Karhutla Ambon: Pola Sepanjang 2026 dan Arti Kebijakan

Sepanjang 1 Januari hingga 21 Oktober 2026, tercatat 157 kejadian karhutla di Kota Ambon. Angka itu tumbuh perlahan di semester pertama: 11 kejadian pada Januari, 11 pada Februari, lalu turun ke 6 pada Maret, 5 pada April, 5 pada Mei, 5 pada Juni, dan 6 pada Juli. Pola itu berubah drastis pada paruh kedua tahun. Agustus menyumbang 15 kejadian, September melonjak ke 33, dan 21 Oktober pertama saja sudah mencatat 60 kejadian.

Perbandingan dengan tahun sebelumnya memperlihatkan pola yang berbeda. September hingga Desember 2025 hanya menghasilkan 27 kejadian: 5 pada September, 6 pada Oktober, 3 pada November, dan 13 pada Desember. Artinya, 2026 bergerak pada level yang jauh lebih tinggi, dan Oktober bahkan melampaui seluruh akhir tahun 2025 dalam hitungan minggu.

Lonjakan Oktober menjadi perhatian utama. Jumlah karhutla pada Oktober mencapai 54, naik 107,7 persen dari 26 pada September. Sebaran geografisnya terkonsentrasi di Nusaniwe, yang mencatat 33 kejadian pada Oktober, melonjak dari 9 pada September. Sirimau turun sedikit, dari 12 menjadi 11, Teluk Ambon naik dari 2 menjadi 6, Teluk Ambon Baguala menyumbang 3, dan Leitimur Selatan 1.

Unit pemadam kebakaran yang selama ini menjadi ujung tombak penanganan bekerja keras pada 1-6 Oktober, menangani 21 karhutla di wilayah Gunung Nona, Pensi, STAIN, dan Benteng. Bandingkan dengan September, ketika jumlah penanganan melampaui 50 kejadian, sehingga beban September jauh lebih berat. Yanes Leunussa menyatakan laporan masuk melalui Call Center 112, kanal yang menjadi tulang punggung penyampaian informasi warga.

Data dari sektor tanggap darurat juga tercatat: 24 kejadian dalam rentang 5-11 Oktober tanpa korban jiwa. Kondisi medan yang sulit menyulitkan proses penanganan, terutama dari akses wilayah yang sempit. Dua kejadian pada 11 Oktober menjadi yang paling dicatat: pukul 06.29 WIT di Kudamati RT002/RW003, lalu pukul 07.42 WIT di Urimesing.

Konfirmasi satelit dari BMKG yang diadopsi Dishut menunjukkan 369 titik panas. Sebelas di antaranya kategori tinggi: delapan di Maluku Barat Daya, dua di Seram Bagian Timur, dan satu di Tanimbar. Selebihnya terbagi 352 titik kategori menengah dan 6 titik rendah. Salah satu karhutla yang menuntut perhatian adalah enam hektar di Dusun Siwang (Kezia), Negeri Urimessing, yang ditangani melalui APL, dua titik sekitar tiga hektar, mopping up, dan bantuan drone.

Kebijakan pemerintah kota bergerak dalam dua arah: respons lapangan dan pencegahan. Wali Kota meminta camat melakukan sayembara berhadiah kepada warga yang melapor aktivitas pembakaran. PJJ dan WFH masuk sebagai opsi bila ambang bahaya tercapai.

Pencegahan diarahkan ke lima kecamatan, didukung Call Center 112, kanal WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, serta CCTV Command Center. BMKG dan BNPB menjadi rujukan. Data cuaca juga dibaca: kabur-berawan tebal, suhu 24-31 derajat Celsius, kelembapan 63-94 persen, angin 10-11 km/j dari arah barat laut. Kondisi itu menjelaskan mengapa api mudah menyala dan sulit padam, dan mengapa laporan cepat dari warga menjadi vital.

Kronologi itu memperlihatkan pola yang bukan kebetulan. Angka rendah pada Maret-Juli menunjukkan musim yang relatif terkendali; lonjakan Agustus-Oktober menandai fase yang lebih kering dan berbahaya, ketika bahan bakar mengering, pembakaran lebih mudah terjadi, dan pemusatan karhutla bergeser ke kawasan padat. Arti kebijakan kata ini: pencegahan sama beratnya dengan penanganan. Sistem laporan cepat, pengawasan titik panas, dan kanal komunikasi warga menjadi garis depan, sementara mopping up dan dukungan udara menjadi jaring pengaman.

Ambon belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang api. Sejak 1 Januari hingga 21 Oktober 2026, Kota Ambon mencatat 157 kejadian kebakaran. Di bulan Oktober saja, angka itu mencapai 54 kejadian, lebih dari dua kali lipat dibanding 26 kejadian pada September. Di antarawilayah yang terpadat, Nusaniwe mencatat 33 kebakaran sepanjang Oktober. Dari bulan ke bulan polanya berulang: lahan dibakar, lalu bara merambat ke pemukiman, dan jumlah yang tercatat tidak pernah bisa dianggap kecil.

Kasus yang paling banyak dibicarakan warga adalah karhutla di Dusun Siwang (Kezia), Negeri Urimessing, Kota Ambon, yang membakar sekitar 6 hektar lahan. Dinas Kehutanan Maluku mencatat 369 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di provinsi ini. Angka itu menjadi dasar untuk mengukur seberapa luas wilayah yang terbakar dan berapa banyak titik yang masih perlu diwaspadai. Damkar Kota Ambon telah menangani 21 kejadian karhutla hanya dalam rentang 1 hingga 6 Oktober, sementara pada September jumlah yang tercatat sudah lebih dari 50 kejadian. Itu berarti baik catatan pemadamannya maupun data titik panas menunjukkan api tidak pernah benar-benar padam, meski pada beberapa hari ia sempat turun.

Wali Kota Ambon Bodewin membuka sayembara berhadiah yang disampaikan melalui para camat. Pelaku pembakaran lahan dan hutan diminta segera tertangkap, dan warga diminta melapor kepada aparat yang berwenang. Imbauan itu keluar setelah kebakaran ternyata tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan tersebar di beberapa wilayah, sebagian di area yang setiap tahun mengalami kemarau panjang. Pesan yang disampaikan sederhana: pelaku harus tertangkap, dan pelaporan yang cepat sangat menentukan.

Dari sisi kualitas udara, catatan saat ini umumnya masih berada dalam batas normal. Ozon (O3) dipantau bersama BMKG, Dinas Kesehatan, dan DLHP. Pemantauan itu disertai skema tertentu: bila ambang bahaya tercapai, diminta sekolah menerapkan PJJ atau WFH. Dinkes juga mengingatkan bahwa ISPA tidak selalu disebabkan asap. Namun kelompok rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan penderita asma, perlu lebih ekstra: "Kalau tidak berkepentingan, tetap di rumah saja, tidak usah keluar."

Pencegahan adalah bagian yang tak terpisahkan dari penanganan. Call Center 112 menjadi pintu laporan, sementara laporan pembakaran juga bisa disampaikan lewat WhatsApp, TikTok, Instagram, dan Facebook. Pemantauan mencakup lima kecamatan, dengan catatan cuaca berupa kabur hingga berawan tebal, suhu 24 sampai 31 derajat Celsius, kelembapan 63 sampai 94 persen, dan angin barat laut berkecepatan 10 sampai 11 km/j. Cuaca seperti itu sendiri tidak berbahaya, tetapi kombinasi panas kering dan angin yang konsisten membuat bara mudah merambat ke lahan dan pemukiman di sekitarnya. Laporan warga juga menjadi bahan penting bagi penanganan berikutnya.

Bagian yang diketahui warga sederhana saja: api belum sepenuhnya padam, dan yang paling bisa dilakukan adalah menjaga, melaporkan, serta tidak membuka lahan yang bisa menyengat orang lain. Aktivitas harian di lima kecamatan yang dipantau berlangsung seperti biasa, dengan kewaspadaan terhadap titik-titik yang berulang menjadi pemicu. Pengamatan lapangan, laporan yang masuk ke Call Center 112, dan catatan pemadamannya akan menjadi dasar penilaian berikutnya tentang apakah pola yang sama masih berlanjut atau tidak. Untuk sementara, warga diminta tetap waspada, melaporkan segera bila melihat ada pembakaran, dan tetap di rumah ketika tidak ada keperluan. Tiga hal yang paling penting bagi warga sederhana: awasi titik-titik yang berulang, laporkan cepat, dan jangan menyalakan api di lahan terbuka.