Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar bersama INPEX Masela Ltd membuka 84 kuota beasiswa untuk tahun akademik 2026-2027. Seluruh kuota diperuntukkan bagi mahasiswa dan calon mahasiswa Universitas Lelemuku Saumlaki (UNLESA), perguruan tinggi yang beroperasi di kabupaten kepulauan itu.

Kesepakatan ditandai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Specialist External Relation INPEX Masela Ltd Hanny Grasius Gladius Tanamal dan Rektor UNLESA Ferly Agustina Sairmaly. Penandatanganan berlangsung di Saumlaki pada Kamis, 29 Oktober 2026. Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar Juliana Ch. Ratuanak menyebut program tersebut sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah bersama pihak swasta membuka jalan pendidikan tinggi bagi putra-putri Tanimbar.

Angka 84 itu terbagi tiga: 70 kuota untuk program sarjana, baik mahasiswa aktif maupun mahasiswa baru UNLESA. Sepuluh kuota lain dialokasikan bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. Empat kuota tersisa untuk pendidikan doktoral, dua di antaranya bagi yang sudah menjalani studi dan dua untuk pendaftar baru.

Bagi Tanimbar, penambahan kuota ini bukan urusan kecil karena kabupaten di ujung selatan Maluku itu baru memiliki universitas sendiri sejak 2022. Kampus tersebut lahir setelah sejumlah sekolah tinggi di bawah Yayasan Perguruan Tinggi Lelemuku Saumlaki digabung menjadi UNLESA. Sebelumnya, mahasiswa dari kepulauan itu harus meninggalkan daerah dan menyeberang ke Ambon atau kota lain untuk kuliah, dengan biaya yang tidak ringan bagi keluarga nelayan dan petani.

Skema yang Berubah dari Tahun ke Tahun

Program Beasiswa INPEX di UNLESA bukan hal baru. Perusahaan operator Lapangan Gas Abadi di Blok Masela itu menyalurkan beasiswa di kampus tersebut sejak 2014. Hingga pertengahan 2025, program itu telah membantu lebih dari 550 mahasiswa sarjana, enam dosen studi magister, dan tiga dosen studi doktoral.

Pada tahun akademik 2025-2026, kuotanya 30 mahasiswa S1 ditambah dua dosen untuk studi doktoral. Untuk periode 2026-2027, jumlahnya menjadi 84 kuota dengan komposisi yang lebih berlapis: bukan hanya mahasiswa baru, tetapi juga mahasiswa aktif, mahasiswa tahap akhir, dan pendaftar doktoral.

Sr Manager Communication & Relations INPEX Masela Puri Minari, dalam pengumuman tahun lalu, menyebut beasiswa bagi dosen sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan dan akreditasi UNLESA. Rektor UNLESA Ferly Agustina Sairmaly menyatakan pihaknya sedang menyiapkan kampus menuju akreditasi unggul dan tidak ingin kerja sama dengan INPEX berhenti pada urusan beasiswa.

Logika di balik skema itu mudah dibaca: kampus yang dosennya bergelar doktor lebih mudah memperbaiki peringkat akreditasi, dan akreditasi yang lebih baik menarik lebih banyak mahasiswa serta membuka akses kerja sama.

Empat Kuota Doktoral dan Nasib Akreditasi

Komposisi 84 kuota itu menyimpan satu pesan yang mudah terlewat: dari empat kuota doktoral, dua dialokasikan untuk yang sudah menjalani studi dan dua untuk pendaftar baru. Artinya perusahaan dan pemerintah daerah tidak hanya mengejar angka mahasiswa, tetapi juga menyiapkan jalur kaderisasi dosen.

Sejak 2014 hingga 2025, program ini telah membiayai tiga dosen UNLESA menempuh doktor dan enam dosen menempuh magister. Jumlahnya kecil, dan itu masuk akal karena menyelesaikan doktor butuh biaya besar dan waktu panjang. Namun bagi kampus yang baru berdiri 2022, setiap doktor menambah bobot penilaian akreditasi dan membuka peluang membuka program studi baru.

Rektor Ferly Sairmaly menyebut UNLESA tengah mempersiapkan diri menuju akreditasi unggul. Ia juga menyatakan kampus akan mengupayakan program lain yang relevan dengan kegiatan sosial INPEX di Tanimbar, agar kolaborasi akademik dan industri tidak berhenti pada beasiswa.

Bagi mahasiswa, konsekuensinya praktis: kampus dengan lebih banyak dosen bergelar doktor cenderung punya kapasitas riset lebih baik, lebih mudah mengakses hibah, dan lebih dipercaya perusahaan saat membuka program magang atau rekrutmen. Efeknya tidak terasa dalam satu semester, tetapi terasa bagi angkatan yang masuk setelahnya.

Kampus Muda di Tengah Kepulauan

UNLESA berdiri pada 8 Juni 2022 melalui Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 407 Tahun 2022. Kampus itu lahir dari penggabungan sejumlah sekolah tinggi di bawah Yayasan Perguruan Tinggi Lelemuku Saumlaki.

Situs resminya mencatat dua fakultas dengan 12 program studi. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora menaungi Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, Hukum, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Administrasi Niaga, Manajemen, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, serta Pendidikan Matematika. Fakultas Sains dan Teknologi mengelola Akuakultur, Sosial Ekonomi Perikanan, dan Teknologi Hasil Perikanan.

Beberapa hari sebelum pengumuman beasiswa, kampus ini melepas 150 sarjana dari lima fakultas, yaitu Ekonomi, Ilmu Administrasi, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Hukum, serta Perikanan. Rektor Ferly Agustina Sairmaly menyebut keberadaan perguruan tinggi di Tanimbar sebagai upaya memperluas kesempatan warga memperoleh pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan daerah.

Kabupaten Kepulauan Tanimbar sendiri tersebar dalam 10 kecamatan, dua kelurahan, dan 80 desa. Saumlaki, ibu kota kabupaten, berada di Pulau Yamdena, sementara sebagian desa berada di pulau-pulau lain dalam wilayah yang sama. Konsekuensinya, tidak semua calon mahasiswa bisa datang ke kampus dengan sekali naik angkutan darat, dan biaya menuju Saumlaki ikut menentukan apakah seseorang jadi mendaftar atau tidak.

Angka 84 di Tengah 131 Ribu Penduduk

Untuk membaca arti 84 kuota, perlu dilihat konteks ekonominya. Persentase penduduk miskin di Kabupaten Kepulauan Tanimbar tercatat 23,38 persen pada data per 30 November 2025, turun 0,28 persen dari tahun sebelumnya. BPS mencatat jumlah penduduk kabupaten itu 131,37 ribu jiwa pada 2024.

Artinya, hampir satu dari empat warga hidup di bawah garis kemiskinan. Di Maluku, hanya Kabupaten Maluku Barat Daya yang angkanya lebih tinggi, yaitu 27 persen, sementara Kabupaten Kepulauan Aru berada di kisaran 23 persen.

Dalam konteks itu, uang kuliah bukan satu-satunya penghalang. Ada biaya transportasi, biaya hidup di kota kampus, dan kehilangan pendapatan karena seorang anak tidak lagi membantu orang tua mencari ikan atau mengolah kebun. Beasiswa yang hanya menutup uang kuliah sering tidak cukup menahan mahasiswa agar bertahan sampai lulus.

Upah minimum di kabupaten itu pun tidak besar. UMK Kabupaten Kepulauan Tanimbar tahun 2026 mengikuti UMP Maluku sebesar Rp 3.334.490 per bulan, karena Tanimbar termasuk 10 daerah di Maluku yang tidak menetapkan UMK sendiri. Hanya Kota Ambon yang punya angka mandiri, Rp 3.381.225.

Angka itu menjelaskan mengapa beasiswa berbasis perusahaan menjadi penentu di daerah dengan garis kemiskinan setinggi Tanimbar. Bagi keluarga dengan dua anak usia kuliah, tanpa bantuan pihak ketiga pilihannya biasanya sempit: satu anak melanjutkan, yang lain bekerja membantu rumah tangga.

Jalur Pembiayaan Lain yang Sudah Ada

Beasiswa INPEX bukan satu-satunya pintu. Pemerintah pusat menjalankan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) yang membiayai kuliah plus biaya hidup bagi siswa dari keluarga tidak mampu. Untuk tahun 2026, pendaftaran akun siswa dibuka 3 Februari hingga 31 Oktober 2026, sementara seleksi mandiri perguruan tinggi negeri berlangsung 15 Juni sampai 31 Oktober 2026.

Halaman FAQ resmi program itu menyatakan KIP Kuliah hanya ditujukan bagi perguruan tinggi negeri di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. UNLESA berstatus perguruan tinggi swasta di bawah yayasan, sehingga mahasiswanya tidak bisa mengandalkan KIP Kuliah sebagai sumber pembiayaan utama.

Halaman yang sama menyebut KIP Kuliah dibuka untuk beberapa jalur seleksi masuk, dari SNBP, UTBK-SNBT, hingga seleksi mandiri. Namun semua jalur itu bermuara pada perguruan tinggi negeri. Bagi warga Tanimbar, pilihan kuliah praktis terbelah dua: tinggal di daerah dengan masuk UNLESA dan mengandalkan skema seperti beasiswa INPEX, atau merantau ke Ambon untuk membidik Universitas Pattimura, Politeknik Negeri Ambon, atau kampus lain yang lebih besar.

Jalan kedua menuntut biaya awal, keberanian meninggalkan kampung, dan kesiapan bersaing dengan pendaftar dari seluruh Indonesia. Tidak ada data resmi yang dirilis mengenai berapa banyak mahasiswa Tanimbar yang setiap tahun memilih salah satu dari dua jalan itu. Yang bisa dipastikan, kapasitas kampus lokal maupun kemampuan keluarga menanggung biaya sama-sama terbatas, dan di situlah 84 kuota beasiswa menjadi berarti.

Mengapa Perusahaan Gas Membiayai Kuliah

Blok Masela adalah wilayah kerja minyak dan gas bumi di Laut Arafura, lepas pantai Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dengan Lapangan Gas Abadi sebagai pusat pengembangannya. Proyek itu dikelola INPEX Masela Ltd sebagai operator bersama PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas Masela Sdn Bhd, dengan nilai investasi diperkirakan mencapai 20,9 miliar dolar Amerika Serikat.

Pengembangan Lapangan Abadi dirancang berkapasitas produksi 9,5 juta ton gas alam cair per tahun, 150 juta kaki kubik gas per hari, dan 35.000 barel kondensat per hari. Produksi komersial ditargetkan mulai 2029.

Skala proyek sebesar itu membutuhkan tenaga kerja terampil dalam jumlah besar pada tahap konstruksi dan operasi. SKK Migas, lewat Kepala Departemen Sekuriti M Indarto Wibowo, menyatakan pengawasan terhadap INPEX diarahkan agar masyarakat lokal terlibat aktif, termasuk tokoh adat, nelayan, dan pemerintah desa, sejak tahap awal operasional proyek.

Dalam peta risiko keamanan dan hasil Social Risk Assessment pada proyek Lapangan Gas Abadi, potensi gangguan tidak didominasi ancaman fisik, melainkan dinamika sosial-adat, tuntutan ekspektasi ekonomi, serta persoalan legitimasi lokal. Sengketa ulayat dan ekspektasi manfaat ekonomi yang tinggi menjadi perhatian utama.

Di titik itu beasiswa punya dua fungsi sekaligus: memenuhi janji manfaat bagi daerah dan memasok tenaga terdidik yang dibutuhkan industri. Namun jarak antara lulusan sarjana lokal dan kebutuhan teknis industri migas tetap lebar. Dari 12 program studi UNLESA, tidak ada satu pun yang bergerak di ranah teknik perminyakan, teknik gas, atau teknik sipil.

Pemerintah Daerah dan Taruhan pada Proyek Strategis

Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa menyatakan pengembangan Blok Masela tidak hanya berkaitan dengan ketahanan energi nasional, tetapi juga peluang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah. Ia menegaskan Pemkab siap mengawal proses itu, termasuk memastikan kepentingan masyarakat dan daerah terakomodasi di setiap tahap pelaksanaan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Pemkab Kepulauan Tanimbar menghadap Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mempercepat tahapan Proyek Strategis Nasional Blok Masela. Dalam pertemuan itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menekankan pentingnya mempercepat penyelesaian tahapan lahan sebagai bagian dari kesiapan pembangunan Lapangan Abadi.

Bupati menyebut keberadaan Blok Masela diharapkan memberi dampak ekonomi nyata bagi Kepulauan Tanimbar melalui pembukaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas usaha masyarakat, serta tumbuhnya sektor pendukung proyek. Ia juga menyatakan keinginan agar masyarakat Tanimbar tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang muncul.

Blok Masela berjarak sekitar 150 kilometer dari Pulau Yamdena. Lapangan utamanya, Lapangan Abadi, ditemukan pada 2000. Dalam pengembangannya, INPEX Masela Ltd bertindak sebagai operator dengan kepemilikan participating interest 65 persen, sementara PT Pertamina Hulu Energi memegang 20 persen dan Petronas Masela Sdn Bhd 15 persen.

Dari sisi pemerintah daerah, taruhannya jelas: proyek berinvestasi 20,9 miliar dolar Amerika Serikat ini adalah peluang ekonomi terbesar yang pernah datang ke kabupaten berpenduduk sekitar 131 ribu jiwa. Dari sisi warga, pertanyaannya lebih mendasar: manfaat itu datang dalam bentuk apa, kapan, dan siapa yang mendapatkannya.

Dari Beasiswa ke Kebutuhan Tenaga Terampil Proyek

Ada satu benang yang menghubungkan beasiswa dengan dinamika lapangan di Tanimbar. Pada 20 Oktober 2026, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Maluku menggelar pertemuan dengan PT Petrosea Tbk untuk membahas penyerapan tenaga kerja lokal pada pekerjaan konstruksi dan fasilitas pendukung proyek Blok Masela. Kepala Disnakertrans Maluku M Rizal Latuconsina menyebut koordinasi perlu diperkuat agar kebutuhan tenaga kerja disesuaikan dengan ketersediaan dan kompetensi warga setempat.

Petrosea menyampaikan rencana perekrutan untuk sejumlah posisi pendukung, antara lain pembantu operasional dan tenaga topografi, dengan sasaran warga Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya. Rizal juga menekankan pentingnya pemenuhan hak pekerja, terutama kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, mengingat pekerjaan konstruksi punya risiko kecelakaan kerja yang tinggi.

Posisi-posisi itu berada di lapis bawah struktur kerja proyek. Untuk jabatan teknis yang lebih tinggi, kontraktor tetap mensyaratkan kualifikasi yang belum tentu dimiliki lulusan kampus lokal. Di sinilah beasiswa bekerja sebagai jembatan yang tidak instan: satu angkatan sarjana butuh empat tahun, satu gelar doktor butuh lebih lama lagi, sementara konstruksi berjalan menurut kalender proyek.

Karena itu, membaca beasiswa hanya sebagai bantuan biaya kuliah akan melewatkan bagian pentingnya. Program ini juga soal siapa yang nanti duduk di kursi teknis ketika kilang mulai beroperasi, dan apakah orang Tanimbar termasuk di dalamnya.

Harapan agar Doktor Meneliti Pertanian dan Perikanan

Dalam penandatanganan di Saumlaki, Senior Manager Communication and Relations INPEX Masela Zaki Zein menyatakan dukungan pendidikan kepada UNLESA telah menjangkau lebih dari 500 penerima beasiswa sejak program itu berjalan, mencakup jenjang S1, S2, hingga S3. Ia berharap beasiswa doktoral diarahkan ke bidang yang sesuai kebutuhan pembangunan daerah, terutama pertanian dan perikanan.

Permintaan itu tidak muncul dari ruang kosong. Kabupaten Kepulauan Tanimbar adalah wilayah kepulauan dengan 10 kecamatan, dua kelurahan, dan 80 desa. Penghidupan sebagian besar warga bertumpu pada laut dan lahan kering, sementara akses pasar dan teknologi pengolahan masih terbatas. Kalau ada doktor lokal yang meneliti budidaya, penanganan pascapanen ikan, atau ketahanan pangan pulau kecil, hasilnya bisa langsung menyentuh persoalan harian warga.

Namun ada ketegangan yang perlu jujur disebut. Program studi S3 yang tersedia di kampus lokal belum tentu mencakup bidang pertanian dan perikanan. Kandidat doktor dari Tanimbar hampir pasti harus menempuh studi di universitas luar Maluku, dan itu berarti biaya hidup di kota besar, kebutuhan meninggalkan pekerjaan, serta proses bimbingan yang panjang. Beasiswa yang menutup uang kuliah saja bisa tetap menyisakan beban besar.

Rektor UNLESA Ferly Agustina Sairmaly menyampaikan bahwa perjalanan kampusnya hingga kini ditopang dukungan besar dari INPEX untuk membantu anak-anak Tanimbar yang terancam putus kuliah karena persoalan biaya. Ia juga menyebut kampus itu kini berada di jajaran delapan besar dari sekitar 40 perguruan tinggi swasta di Maluku dan Maluku Utara. Klaim peringkat tersebut belum tercantum dalam dokumen resmi yang bisa diperiksa publik, sehingga sebaiknya dibaca sebagai pernyataan pihak kampus, bukan angka yang terverifikasi independen.

Apa yang Bisa Dilakukan Calon Pendaftar Sekarang

Wakil Bupati Juliana Ratuanak meminta kesempatan tersebut dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa asal Kepulauan Tanimbar dengan mempersiapkan persyaratan serta meningkatkan prestasi akademik. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di lapangan persyaratan administratif sering menjadi hambatan pertama.

Dokumen yang lazim diminta dalam seleksi beasiswa perusahaan antara lain kartu tanda penduduk, kartu keluarga, transkrip nilai, surat keterangan aktif kuliah, dan rekomendasi dari fakultas. Bagi mahasiswa yang keluarganya tidak menyimpan arsip rapi, mengumpulkan berkas itu bisa memakan waktu berminggu-minggu, apalagi jika harus meminta salinan dari dinas di Saumlaki sementara mahasiswa sedang kuliah di tempat lain.

Belum ada keterangan resmi mengenai tenggat pendaftaran, besaran bantuan, dan mekanisme seleksi untuk periode 2026-2027. Informasi yang tersedia sejauh ini hanya komposisi kuota dan para pihak yang menandatangani kerja sama. Calon pendaftar sebaiknya memantau kanal resmi UNLESA dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk jadwal serta syarat terbaru, bukan mengandalkan pesan berantai di grup percakapan.

Berdasarkan pola tahun sebelumnya, setelah penandatanganan kerja sama, perwakilan INPEX dan universitas menjalankan tahapan seleksi hingga penetapan penerima. Artinya prosesnya tidak otomatis dan tidak merata: kuota yang tersedia akan diperebutkan, dan yang paling siap berkas serta prestasinya punya peluang lebih besar.

Yang Perlu Ditunggu

Sampai Sabtu, 31 Oktober 2026, belum ada pengumuman resmi soal jadwal, besaran bantuan, atau formulir pendaftaran Beasiswa INPEX 2026-2027. Yang sudah dipastikan dalam penandatanganan kerja sama hanya jumlah kuota 84, pembagiannya antara S1, tugas akhir, dan doktoral, serta para pihak yang menandatangani.

Untuk mahasiswa yang ingin mendaftar, langkah paling masuk akal adalah menyiapkan berkas lebih awal, memastikan status aktif kuliah tercatat di sistem akademik kampus, dan memantau pengumuman resmi UNLESA. Bagi dosen yang berminat menempuh doktor, percakapan dengan program studi dan pimpinan fakultas perlu dimulai sekarang, karena proses penerimaan di universitas tujuan butuh waktu tersendiri.

Untuk pemerintah daerah, angka 84 itu menuntut tindak lanjut yang tidak berhenti pada seremoni. Kampus perlu memastikan penerima beasiswa benar-benar menyelesaikan studi, bukan sekadar terdaftar. Perusahaan perlu membuka ruang magang atau praktik kerja agar lulusan punya pengalaman sebelum masuk pasar kerja. SKK Migas, yang sudah menyoroti risiko sosial di sekitar proyek, punya kepentingan langsung agar janji manfaat itu terlihat nyata di kampung-kampung pesisir, bukan hanya di dokumen kerja sama.

Bagi warga Tanimbar, pertanyaan yang dilontarkan Wakil Bupati dalam acara itu masih relevan: apakah anak-anak daerah ini siap menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Beasiswa 84 kuota adalah satu jawaban kecil dari pertanyaan besar itu, dan jawabannya akan diuji bertahun-tahun kemudian, bukan pada hari penandatanganan.