Amboina International Music Festival (AIMF) 2026 mulai berlangsung di Kota Ambon, Jumat (30/10/2026). Festival dua hari ini mengusung tema Music for Education dan konsep Music as a Bridge, dengan pusat kegiatan di Taman Budaya Provinsi Maluku serta Lapangan Merdeka Ambon.
Penyelenggara menempatkan pendidikan musik sebagai inti, bukan sekadar panggung hiburan. Sebanyak 320 siswa dari 16 sekolah di Kota Ambon dijadwalkan tampil dalam resital kurikulum muatan lokal wajib musik tradisional, membawakan karya yang mengangkat identitas budaya lokal.
AIMF 2026 diselenggarakan Ambon Music Office (AMO) bersama Pemerintah Kota Ambon, dengan dukungan Pemerintah Provinsi Maluku dan Kementerian Pariwisata melalui program Karisma Event Nusantara. Festival ini juga masuk dalam daftar 125 event Karisma Event Nusantara 2026 yang diumumkan pada 23 Januari 2026.
Forum Kota Musik Dibuka Pagi
Rangkaian hari pertama dimulai pukul 08.00 WIT dengan Music and Cities Forum di Taman Budaya Provinsi Maluku, dijadwalkan berlangsung hingga pukul 15.00 WIT. Forum ini mempertemukan pemerintah kota, akademisi, dan pemerhati musik.
Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena dijadwalkan hadir, bersama Wakil Wali Kota Malang, Bupati Ponorogo, dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Manokwari. Menteri Pariwisata juga dijadwalkan menyampaikan pidato utama sekaligus membuka Ambon Music Cities Forum 2026 secara virtual melalui konferensi video.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon Christian Tukloy menyebut forum itu membahas pengembangan kota kreatif, penguatan identitas budaya, ekonomi kreatif, hubungan musik dan pariwisata, hingga pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan dalam pengembangan kota musik.
"Pembahasan forum mencakup pengembangan kota kreatif, penguatan identitas budaya, ekonomi kreatif, hubungan musik dan pariwisata, hingga pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengembangan kota musik," kata Tukloy seperti dikutip Siwalima.id.
Pilihan menjadikan pendidikan sebagai tema utama bukan tanpa alasan. Ambon menyandang status UNESCO City of Music sejak 2019, dan penyelenggara menilai status itu perlu diterjemahkan menjadi praktik harian di sekolah, bukan berhenti sebagai label.
Direktur AMO Ronny Loppies mendorong festival ini menjadi platform kolaborasi melalui pertunjukan musik dan pertukaran pengetahuan. Interaksi semacam itu diharapkan memperluas kesempatan generasi muda mengenal berbagai pendekatan pendidikan musik.
AIMF 2026 memiliki lima program utama: International Music Performance, Music and Cities Forum, Music Education Recital – From Classroom to Stage, Cultural Exchange Through Music, dan Music Collaboration.
Resital Siswa dan Instrumen Tradisional
Selepas forum, agenda berlanjut dengan resital Kurikulum Muatan Lokal Wajib Musik Tradisional pada pukul 15.00-19.00 WIT. Sekitar 320 siswa dari 16 sekolah di Kota Ambon tampil membawakan karya musik yang mengangkat kekayaan budaya lokal.
Menurut Tukloy, para siswa akan memainkan sejumlah instrumen tradisional, di antaranya suling bambu, jukulele, tifa, rebana, dan totobuang. Instrumen-instrumen itu bukan pilihan acak, melainkan bagian dari khazanah musik Maluku yang selama ini hidup di negeri-negeri di jazirah Leitimur dan Leihitu.
Jukulele mendapat perhatian tersendiri dalam kebijakan musik Kota Ambon. Wali Kota Bodewin Wattimena sebelumnya menyebut jukulele tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga media membangun karakter dan mempererat hubungan persaudaraan masyarakat Ambon.
"Jukulele mesti menjadi alat pemersatu kita untuk bersama-sama menghidupkan musik serta membangun hubungan persaudaraan di Kota Ambon. Pengakuan UNESCO bukanlah sekadar narasi atau label, tetapi motivasi untuk mencetak musisi hebat yang mampu tampil di panggung nasional maupun internasional," kata Bodewin saat Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon 2026.
Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian menjelang Hari Ulang Tahun ke-451 Kota Ambon yang diperingati 7 September. Pada kesempatan yang sama, Bodewin juga menyampaikan rencana Pemkot Ambon menggelar pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan melibatkan pemain jukulele dalam jumlah besar pada kegiatan serupa tahun berikutnya.
Kebijakan yang Mendahului Festival
Resital 320 siswa pada AIMF 2026 bukan acara yang muncul tiba-tiba. Kebijakan musik sebagai muatan lokal wajib di tingkat SD dan SMP sudah berjalan lebih dulu, dan festival menjadi panggung bagi hasil pembelajarannya.
Wali Kota Bodewin Wattimena pada 31 Agustus 2026 meminta Dinas Pendidikan serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon mengaktifkan kembali kurikulum musik pada jenjang SD dan SMP. Ia memberi tenggat satu bulan agar kebijakan itu berjalan di sekolah-sekolah.
"Dalam waktu satu bulan, pastikan kurikulum musik terus berjalan di sekolah-sekolah," ujarnya.
Menurut Bodewin, pengembangan musik sejak usia sekolah penting untuk mempersiapkan generasi muda Ambon sekaligus memperkuat identitas kota sebagai Kota Musik Dunia yang diakui UNESCO.
Dasar hukum kebijakan ini sudah ada sejak lama. Kota Ambon memiliki Peraturan Wali Kota Nomor 39 Tahun 2020 tentang Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Musik pada Satuan Pendidikan Dasar, yang diundangkan pada 27 Oktober 2020 dan tercatat berstatus berlaku di Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kota Ambon.
Sebelum diperluas, kurikulum tersebut diuji coba di 10 sekolah. Bodewin menyampaikan hal itu di Manise Hotel, Kamis (24/9/2026), dalam forum yang membahas perluasan penerapan kurikulum musik.
"Kurikulum musik sebenarnya sudah kita terapkan dalam bentuk uji coba di 10 sekolah. Saatnya pengalaman itu kita perluas agar dirasakan lebih luas," kata Wali Kota seperti dikutip Sentral Politik.
Respons sekolah muncul setelah arahan itu. Kepala SMP Negeri 2 Ambon Elfi Suatrat menyatakan kesiapan sekolahnya menerapkan kembali kurikulum musik, dengan alasan pengembangan musik di lingkungan SMPN 2 Ambon sudah berjalan sejak lama.
"Kalau kita SMPN 2 Ambon sudah dari dulu mengembangkan itu. Jadi kalau saat ini arahan Pak Wali Kota untuk sekolah wajib menerapkan itu, ya kami di sekolah sudah siap untuk itu," ujar Elfi kepada fokusmaluku.com, Kamis (24/9/2026).
Panggung Malam di Lapangan Merdeka
Pada Jumat malam, rangkaian berpindah ke Lapangan Merdeka Ambon untuk World Music Concert yang dijadwalkan berlangsung pukul 17.00-23.00 WIT. Acara diawali aktivitas stan dan pameran, dilanjutkan permainan dan kompetisi, sebelum memasuki agenda sambutan dari Wali Kota Ambon, Gubernur Maluku, dan Menteri Pariwisata.
Musisi dan kelompok seni yang dijadwalkan tampil pada hari pertama antara lain Reog Ponorogo dari Ponorogo, Hatuena Jukulele dari Ambon, Sanggar Monggokersoo dari Malang, TexoPrint dari Belanda, Daniel Verstappen dari Belgia, Argonex dari Kepulauan Kei, serta Ebeng Acom dari Ambon.
Komposisi itu mencampur kelompok dari Maluku dengan peserta dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Eropa. Kehadiran Reog Ponorogo di panggung Ambon menandai pertukaran budaya dua arah: seni tradisi Jawa Timur tampil di kota yang identitasnya dibangun dari musik, sementara kelompok Ambon membawa jukulele dan repertoar Maluku ke audiens yang lebih luas.
Konser hari kedua, Sabtu (31/10/2026), kembali berlangsung di Lapangan Merdeka Ambon hingga pukul 23.00 WIT. Panggung hari kedua dijadwalkan menampilkan Forestry Band dari Universitas Pattimura, Pesta Kampong, Amboina Bananas, Palita Project, Given, Miben Voice dari Malang, Kamba Ipa dari Ambon, serta Miguel Kaidel yang dijadwalkan tampil bersama Kamba Ipa.
Keterlibatan Universitas Pattimura melalui Forestry Band memberi dimensi kampus pada festival, dengan mahasiswa tampil di panggung yang sama dengan kelompok seni dari luar negeri.
Jejak Tujuh Tahun Kota Musik
AIMF 2026 berlangsung pada tahun ketujuh setelah Ambon ditetapkan sebagai UNESCO City of Music. Jaringan Kota Musik UNESCO mencatat Ambon masuk dalam jejaring itu sejak 2019, dengan musik ditempatkan sebagai denyut kehidupan kota, bukan sekadar cabang seni.
Deskripsi resmi jejaring tersebut menyebut musik telah menjadi budaya masyarakat Ambon dan representasi Maluku. Sejumlah penyanyi asal Ambon dinilai membuat Indonesia dikenal di kompetisi nasional dan internasional, sekaligus mendominasi pasar musik pada periode tertentu dengan warna suara yang khas.
Dalam kerangka itu, AIMF bukan peristiwa tunggal, melainkan simpul dari rangkaian kerja yang lebih panjang. Penetapan UNESCO menuntut kota anggota menjalankan program berkelanjutan di bidang kreativitas, dan bagi Ambon bidang itu adalah musik.
Pemerintah Kota Ambon menempatkan kegiatan budaya sebagai penggerak ekonomi. Wali Kota Bodewin Wattimena menyebut 70 acara pariwisata dan budaya di Kota Ambon sepanjang 2026 perlu dioptimalkan untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial.
"Setiap acara harus memberikan dampak bagi masyarakat, termasuk dengan melibatkan pelaku UMKM lokal agar kegiatan yang dilaksanakan turut menggerakkan perekonomian," katanya di Ambon, Senin (26/10/2026).
Pernyataan itu memberi konteks pada penyelenggaraan festival: stan dan pameran di Lapangan Merdeka bukan pelengkap, melainkan bagian dari rancangan agar perputaran uang terjadi di tingkat lokal.
Angka yang Berbeda, Satu Kegiatan
Dalam pemberitaan menjelang festival, jumlah sekolah dan siswa yang terlibat disebut dengan angka yang tidak seragam. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon menyebut 16 sekolah dengan sekitar 320 siswa, sementara Ambon Music Office menyebut 13 sekolah dengan total peserta diperkirakan lebih dari 300 siswa.
Selisih itu bukan pertanda kegiatan berbeda. Keduanya merujuk pada resital kurikulum muatan lokal wajib musik tradisional yang sama pada 30 Oktober 2026, dengan rentang peserta yang sama-sama berada di kisaran tiga ratusan siswa. Perbedaan lebih mungkin berasal pada cakupan penghitungan: sekolah percontohan, sekolah inklusif, dan jenjang SMA yang masuk dalam daftar terakhir.
Yang tidak berubah adalah intinya, yakni pelajar Kota Ambon tampil di panggung festival internasional sebagai bagian dari pembelajaran, bukan sebagai atraksi tambahan. Angka pasti peserta baru bisa dipastikan setelah resital berlangsung.
Dari Bunyi Alam sampai Legenda
Materi yang dibawakan siswa juga tidak dibatasi pada repertoar lagu daerah. Direktur Ambon Music Office Ronnie Loppies menyebut para siswa mengeksplorasi bunyi-bunyian alam dan mengangkat legenda sebagai inspirasi karya.
Siswa juga didorong menciptakan notasi sendiri, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada notasi balok. Menurut Loppies, pendekatan itu mengembangkan kreativitas, kepekaan pendengaran, dan kemampuan berekspresi.
"Melalui tema ini, kita ingin mempertegas bahwa Ambon mendapatkan pengakuan karena kekuatan pendidikan musiknya. Identitas itu harus terus dijaga, terutama melalui upaya mengembangkan musik untuk pendidikan," ujarnya.
Arah itu sejalan dengan pengalaman sekolah yang lebih dulu menjalankan kurikulum musik. Kepala SMPN 2 Ambon Elfi Suatrat menyebut pembelajaran musik di sekolahnya tidak hanya soal bernyanyi atau memainkan alat musik, tetapi juga ruang bagi peserta didik mengenali dan mengembangkan potensi.
Kebijakan yang dijalankan Pemkot Ambon menempatkan musik sebagai muatan lokal wajib, bukan kegiatan ekstrakurikuler pilihan. Konsekuensinya, pembelajaran musik masuk ke jam pelajaran dan menuntut kesiapan guru, materi, serta instrumen di setiap sekolah.
Porsi Musisi Lokal Diperbesar
Pada sisi pertunjukan, AIMF 2026 mengubah komposisi peserta dibandingkan edisi sebelumnya. Loppies menyatakan porsi musisi lokal dan nasional diperbesar, dengan penampil dari Belgia dan Belanda serta peserta dari Sorong, Jakarta, dan Maluku.
"Berbeda dengan tahun sebelumnya yang lebih banyak menghadirkan musisi dari luar negeri, kali ini kita berupaya mengangkat musisi lokal. Ini sejalan dengan tema Music for Education," jelasnya.
Pergeseran itu masuk akal bila dilihat dari tujuan festival. Edisi-edisi awal AIMF dibangun untuk mendatangkan dunia ke Ambon; edisi 2026 dibangun untuk membawa Ambon ke panggung yang lebih luas melalui karya warganya sendiri.
Forum yang digelar pagi hari juga tidak hanya membahas kota kreatif secara umum. Agenda forum mencakup hubungan musik dengan kecerdasan buatan, lingkungan, dan kecerdasan emosional, dengan perwakilan dari Ambon, Ponorogo, Malang, dan daerah lain berbagi pengalaman.
Dalam rangkaian pertunjukan, direncanakan penyerahan piagam penghargaan kepada penyelenggara sebagai bagian dari pengakuan atas masuknya AIMF dalam Karisma Event Nusantara. Amboina International Music Fest tercatat sebagai salah satu dari 125 event KEN 2026, diumumkan melalui kanal YouTube Karisma Event Nusantara pada 23 Januari 2026.
Cuaca Malam Konser
Faktor cuaca layak diperhitungkan penonton yang datang ke Lapangan Merdeka. Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika untuk Kota Ambon pada 30 Oktober 2026 menunjukkan kondisi udara kabur di lima kecamatan dengan suhu berkisar 26-30 derajat Celsius.
Pada 31 Oktober 2026, BMKG memperkirakan hujan ringan di Kecamatan Sirimau dan Baguala, sementara Nusaniwe, Teluk Ambon, dan Leitimur Selatan masih berstatus udara kabur. Suhu di kelima kecamatan pada hari kedua berada pada rentang 24-30 derajat Celsius dengan kelembapan 75-95 persen.
Konser hari pertama dijadwalkan berlangsung hingga pukul 23.00 WIT, dan hari kedua juga berakhir pada jam yang sama. Penonton yang berada di lapangan terbuka sejak sore perlu menyiapkan antisipasi terhadap hujan ringan, terutama pada malam kedua.
Jejak Dua Edisi Sebelumnya
AIMF bukan agenda baru. Pada 2024, festival ini menghadirkan lebih dari 37 musisi internasional, dan forum ASEAN Music Cities menjadi salah satu ruang pertemuannya.
"Keberhasilan AIMF 2024 menjadi fondasi penting untuk melangkah lebih jauh," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Ambon Christian Tukloy di Ambon, Kamis (2/10/2025), seperti dikutip Potret Maluku.
Edisi 2025 mempertemukan musisi dari Ipoh (Malaysia), Suphanburi (Thailand), Belanda, dan Korea Selatan, dengan tema "Nature's Harmony, Melody of Joy" serta gelaran Asia's Music Cities Forum. Tukloy menyebut festival itu sebagai ruang dialog, diplomasi, dan kerja sama regional yang menghidupkan ekosistem kreatif lokal.
Pengalaman tiga edisi berturut-turut memperlihatkan pola yang konsisten: setiap tahun jumlah penampil asing berubah, tetapi kerangka acaranya tetap, yakni forum kota, pertunjukan, dan ruang kolaborasi. Yang bergeser pada 2026 adalah penekanan pada siswa sebagai pelaku utama.
Pengakuan yang Diuji Setiap Tahun
Status Ambon sebagai UNESCO City of Music melekat sejak 2019. Jaringan Kota Musik UNESCO mencatat Ambon masuk dalam jejaring kota kreatif itu pada bidang musik, dengan musik ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari warga, bukan sekadar cabang seni.
Status tersebut tidak berlaku permanen tanpa evaluasi. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat Ambon meraih predikat tertinggi, Excellent, dalam evaluasi berkala Jaringan Kota Kreatif UNESCO pada 2025. Penilaian itu disebut mencerminkan kekuatan kolaborasi antar pemangku kepentingan lokal.
"Sebagai Kota Musik UNESCO, Ambon berdiri sebagai bukti bahwa identitas budaya dan potensi ekonomi dapat berjalan beriringan," kata Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya pada 25 Juli 2025, seperti dikutip laman kementerian.
Data Ambon Music Office menggambarkan ukuran ekosistem yang menjadi objek penilaian tersebut: 537 musisi, 749 usaha kecil dan menengah kreatif, serta puluhan kelompok alat musik, termasuk 15 kelompok totobuang dan 80 brass band. Angka-angka itu memperlihatkan bahwa kota musik bukan hanya soal panggung, tetapi juga soal jumlah orang yang bekerja di dalamnya.
Yang Perlu Diketahui Warga
Dua lokasi kegiatan berada di pusat kota dan mudah dijangkau. Taman Budaya Provinsi Maluku menjadi tempat forum pagi, sementara Lapangan Merdeka Ambon menjadi tempat resital siswa dan konser malam. Keduanya berada dalam jarak dekat dari kawasan pusat pemerintahan dan perdagangan Kota Ambon.
Festival ini tidak memungut tiket. Laman resmi promosi pariwisata Indonesia mencatat Amboina International Music Fest 2026 berlangsung 29-31 Oktober 2026 dengan harga tiket gratis. Catatan itu berbeda satu hari dari jadwal yang diumumkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon serta Ambon Music Office, yang menyebut 30-31 Oktober 2026 sebagai tanggal pelaksanaan.
Untuk warga yang ingin menyaksikan resital siswa, waktu yang perlu diingat adalah pukul 15.00-19.00 WIT pada Jumat (30/10/2026). Penampilan malam menyusul pukul 17.00 WIT di Lapangan Merdeka, sehingga dua agenda beririsan selama dua jam di dua lokasi berbeda.
Pelaku usaha kecil mendapat tempat melalui stan dan pameran yang dibuka sebelum konser dimulai. Wali Kota Bodewin Wattimena menegaskan bahwa setiap acara harus memberi dampak bagi masyarakat, termasuk dengan melibatkan pelaku UMKM lokal. Festival dengan dua hari kegiatan dan penonton yang datang dari luar kota berpotensi menggerakkan sektor kuliner, penginapan, dan transportasi di sekitarnya.
Penutup
Rangkaian AIMF 2026 berakhir Sabtu (31/10/2026) malam. Penyelenggara menempatkan festival ini sebagai titik lanjut dari kebijakan yang sudah berjalan di sekolah-sekolah, bukan sebagai puncak yang selesai begitu panggung dibongkar.
Bagi warga Kota Ambon, yang bisa diikuti perkembangannya adalah bagaimana kurikulum musik berjalan setelah festival usai: apakah jumlah sekolah bertambah dari 16 sekolah peserta resital, dan apakah pembelajaran musik tradisional berlanjut dengan materi yang sama.
Bagi pemerintah kota, tantangannya ada pada konsistensi. Predikat Excellent dalam evaluasi Jaringan Kota Kreatif UNESCO pada 2025 menuntut kerja yang berkelanjutan, bukan sekali gelaran. Festival tahunan dengan panggung besar mudah diukur; yang lebih sulit diukur adalah berapa anak yang benar-benar belajar memainkan totobuang, tifa, atau jukulele di ruang kelas.
Informasi resmi mengenai perubahan jadwal, susunan penampil, atau penutupan akses jalan di sekitar Lapangan Merdeka belum diumumkan penyelenggara. Warga yang hendak hadir disarankan memantau kanal resmi Pemerintah Kota Ambon dan Ambon Music Office untuk pembaruan terakhir.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.