Kabut asap belum juga pergi dari langit Maluku. Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon memprakirakan kabut asap kategori sedang masih menyelimuti 11 kabupaten dan kota di Provinsi Maluku selama sepekan, terhitung 23 sampai 29 Oktober 2026.

Peringatan dini itu disampaikan setelah hasil observasi sepekan terakhir menunjukkan asap tipis hingga sedang membatasi jarak pandang di sejumlah wilayah. Pada 22 Oktober, kabut asap cukup tebal menyelimuti Kota Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru, Buru Selatan, Kepulauan Aru, dan bagian utara Kepulauan Tanimbar pada pagi hari, dengan jarak pandang di bawah lima kilometer.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, Kamari, menyatakan akumulasi asap di berbagai daerah Maluku terpantau semakin pekat sejak tanggal tersebut. Menurut dia, kondisi itu yang mendorong BMKG mengeluarkan peringatan dini untuk sepekan ke depan, bukan sekadar laporan harian.

Asap Kiriman dari Papua Selatan

Analisis citra satelit Himawari 9 menunjukkan sebagian besar kabut asap yang mengganggu udara Maluku bukan berasal dari dalam daerah. Arah angin yang bertiup dari timur hingga selatan membawa sebaran asap dari luar wilayah, terutama dari Provinsi Papua Selatan, khususnya Merauke. Sisanya berasal dari kebakaran atau titik panas di Pulau Seram dan Pulau Buru.

Temuan itu penting bagi warga karena menjelaskan mengapa udara keruh bisa muncul di kota yang tidak sedang terbakar. Selama angin masih bertiup dari arah yang sama, upaya pemadaman di dalam Maluku saja tidak cukup untuk memperbaiki jarak pandang. Persoalannya melewati batas provinsi.

Di sisi lain, Maluku juga punya titik panas sendiri yang harus ditangani. Pada 22 Oktober, BMKG mencatat 11 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, dan seluruhnya berada di wilayah Buru. Titik panas adalah indikator awal, bukan kepastian kebakaran permukaan, tetapi jumlahnya menjadi peringatan bahwa lahan kering di pulau itu mudah terbakar pada musim kemarau panjang seperti sekarang.

369 Titik Panas dan Sebelas yang Paling Meyakinkan

Sehari sebelumnya, Dinas Kehutanan Provinsi Maluku melaporkan 369 titik panas terdeteksi di sejumlah kabupaten dan kota. Kepala Dishut Maluku Haikal Baadilla menyebut pemantauan titik panas sebagai indikator awal yang krusial agar api tidak meluas ke kawasan hutan maupun lahan produktif masyarakat.

Rinciannya, 11 titik masuk kategori tinggi, 352 titik kategori menengah, dan enam titik kategori rendah. Untuk kategori tinggi, delapan titik terpantau di Kabupaten Maluku Barat Daya, dua titik di Kabupaten Seram Bagian Barat, dan satu titik di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Titik panas kategori menengah dan rendah tersebar di Kabupaten Buru, Buru Selatan, Kepulauan Tanimbar, Maluku Barat Daya, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, hingga Kota Ambon. Sebaran itu menunjukkan persoalan kebakaran lahan tidak terkonsentrasi di satu pulau, melainkan menyebar mengikuti kondisi lahan kering di banyak wilayah.

Dishut Maluku juga menangani kebakaran lahan di Dusun Siwang, Negeri Urimessing, Kota Ambon. Kebakaran terjadi di dua titik pada areal penggunaan lain, masing-masing sekitar tiga hektare, sehingga total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar enam hektare. Pemadaman melibatkan mobil slip-on, mobil tangki air, dan jetshooter, lalu dilanjutkan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.

Setelah api padam, Dishut memetakan lokasi menggunakan pesawat nirawak untuk memastikan luas lahan terbakar sekaligus mengantisipasi titik api baru. Haikal meminta warga tidak membakar lahan sembarangan dan segera melaporkan indikasi kebakaran kepada petugas.

Beban Kesehatan yang Sudah Terukur

Dampak asap di Ambon bukan lagi perkiraan. Dinas Kesehatan Kota Ambon mencatat lebih dari 800 kasus infeksi saluran pernapasan akut hingga 13 Oktober 2026. Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon Johan Norimarna mengatakan jumlah pasien ISPA meningkat sejak awal September, dari hampir 700 orang menjadi lebih dari 800 orang.

Kasus itu ditemukan di seluruh puskesmas yang tersebar di lima kecamatan Kota Ambon. Dinas Kesehatan juga mencatat kenaikan jumlah pasien dengan riwayat asma dan bronkitis dalam beberapa hari terakhir. Menurut Johan, peningkatan tersebut perlu diwaspadai karena asap yang menyelimuti Ambon tidak hanya berasal dari kebakaran di wilayah kota, tetapi juga terbawa dari daerah lain.

Kabut asap mengandung sejumlah polutan, termasuk partikel PM10, PM2.5, dan ozon yang dapat berdampak pada sistem pernapasan. Kelompok yang paling berisiko adalah balita, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan riwayat asma dan bronkitis.

Pemerintah Kota Ambon sudah membagikan masker dan meningkatkan sosialisasi bahaya paparan asap. Pembelajaran daring sementara juga diterapkan bagi peserta didik sambil memantau perkembangan kualitas udara. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum membaik, dan menghindari olahraga di luar ruangan karena frekuensi serta volume pernapasan meningkat saat berolahraga sehingga lebih banyak polutan masuk.

Di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Maluku meningkatkan kesiagaan fasilitas pelayanan kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dr Elna Anakotta mengatakan langkah itu untuk memastikan warga yang terdampak penurunan kualitas udara memperoleh penanganan medis cepat, terutama mereka yang mengalami ISPA.

Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, terutama anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat asma dan penyakit paru. Mereka yang terpaksa beraktivitas di luar perlu memakai masker, memperbanyak minum air putih, menutup pintu dan jendela saat asap menebal, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Elna juga meminta warga tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Siapa pun yang mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata diminta segera mendatangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Di Kota Ambon, layanan penanganan ISPA dapat diakses di puskesmas sesuai wilayah domisili, dan pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan akan dirujuk berdasarkan kondisi klinis.

Pemprov Maluku melalui Dinas Kesehatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah juga telah membagikan 1.500 masker KN95 kepada masyarakat di Kota Ambon. Jumlah itu kecil dibanding populasi kota, sehingga warga yang mampu diminta menyiapkan masker sendiri, sementara kelompok rentan diprioritaskan dalam distribusi bantuan.

Penerbangan dan Pelayaran di Titik Paling Rawan

Asap paling cepat terasa di sektor transportasi karena jarak pandang adalah syarat operasional, bukan sekadar kenyamanan. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melaporkan sebanyak 2.775 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026, berdasarkan data per 21 Oktober. Jumlah itu bertambah 171 penerbangan dibanding data per 19 Oktober.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa menyatakan penyesuaian jadwal pada penerbangan terdampak karhutla semata-mata dilakukan demi keselamatan. Selama jarak pandang belum memenuhi batas minimum operasional, penerbangan tidak akan dipaksakan.

Kemenhub meminta penyelenggara bandar udara di wilayah terdampak menjaga kesiapsiagaan, antara lain dengan menerapkan prosedur operasi jarak pandang rendah atau Low Visibility Procedures bersama AirNav Indonesia dan BMKG. Pelayanan penumpang dioptimalkan melalui penyampaian informasi penerbangan berkala dan penyediaan masker.

Bandar udara di wilayah terdampak juga diminta menyediakan area parkir pesawat dan helikopter, prioritas slot penerbangan, serta posko pemantauan karhutla. Dukungan lain berupa pendataan sumber air dan ketersediaan bahan bakar.

Bagi penumpang, imbauan Kemenhub sederhana tetapi penting: periksa status penerbangan secara berkala melalui kanal resmi maskapai dan bandara, serta hubungi maskapai untuk informasi penjadwalan ulang atau pengembalian biaya tiket bila terjadi pembatalan.

Di Ambon, Bandara Pattimura sudah beberapa kali merasakan dampaknya. Pada 20 Oktober, seluruh penerbangan dibatalkan karena jarak pandang akibat asap berada di bawah standar operasional, dan operasional bandara dilaporkan kembali pulih setelah gangguan berlalu. Riwayat itu menunjukkan kepada warga bahwa pembatalan bisa datang mendadak, sehingga penumpang perlu menyiapkan rencana cadangan perjalanan pada pekan-pekan berasap.

Transportasi laut menghadapi risiko yang tidak selalu terlihat. BMKG meminta pengguna jalan raya, pelaku jasa transportasi laut, dan maskapai penerbangan waspada terhadap potensi penurunan jarak pandang signifikan. Bagi nelayan dan operator kapal kecil, kabut yang menebal pada pagi hari dapat menutupi pulau dan tanjung yang biasa dijadikan patokan, sehingga navigasi harus mengandalkan peralatan dan perhitungan, bukan penglihatan.

Kabut Pagi dan Ritme Harian Warga

Pola yang terlihat dari laporan BMKG adalah asap cenderung tebal pada pagi hari. Pada 22 Oktober, sejumlah wilayah Maluku diselimuti asap cukup tebal pada pagi hari dengan jarak pandang di bawah lima kilometer. Bagi warga, ini berarti jam berangkat sekolah dan berangkat kerja adalah periode dengan paparan tertinggi.

Karena itu, imbauan memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, dan menutup jendela rumah ketika asap terasa pekat menjadi relevan terutama pada pagi hari. Kelompok rentan diminta mengurangi kegiatan luar ruangan, bukan karena aktivitasnya tidak penting, tetapi karena paru-paru mereka lebih cepat terpengaruh.

Sekolah-sekolah di Ambon sudah merasakan penyesuaian itu melalui pembelajaran daring sementara. Kebijakan semacam ini selalu menimbulkan pertanyaan tentang kapan sekolah boleh kembali tatap muka, dan jawabannya bergantung pada data kualitas udara, bukan pada perasaan bahwa langit sudah tampak lebih cerah.

BMKG juga mengimbau warga memperbarui informasi cuaca melalui situs resmi BMKG atau aplikasi Info BMKG di telepon pintar. Informasi resmi itu penting karena foto dan pesan berantai di media sosial sering kali berasal dari hari atau daerah yang berbeda, sehingga bisa membuat warga salah menilai tingkat bahaya di lingkungannya sendiri.

Bantuan Pemerintah Pusat dan Posisi Maluku

Pada 22 Oktober, pemerintah pusat mentransfer bantuan tahap kedua untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono menyatakan total bantuan pemerintah pusat sebesar Rp1,235 triliun, dengan tahap pertama disalurkan pada 7 September 2026.

Provinsi yang disebut menerima bantuan adalah Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Riau, ditambah 35 pemerintah kabupaten dan kota yang terdampak di provinsi-provinsi tersebut. Maluku tidak termasuk dalam daftar yang disampaikan Menko PMK itu.

Ketiadaan Maluku dalam daftar tersebut bukan berarti tidak ada persoalan di daerah ini. Provinsi Maluku mencatat 369 titik panas, 11 di antaranya berkategori tinggi, dan kotanya menanggung lebih dari 800 kasus ISPA. Yang berbeda adalah skala lahan gambut dan luas area terbakar, dua faktor yang tampaknya menjadi dasar penetapan daerah prioritas nasional.

Bantuan itu diprioritaskan untuk tiga kebutuhan: perlindungan masyarakat melalui pelayanan kesehatan, pembagian masker, oksigen portabel, rumah oksigen, dan penanganan ISPA; sarana pemadaman seperti alat pelindung diri, pompa air, tangki air, selang, alat suntik air untuk lahan gambut, dan sumur bor; serta dukungan logistik dan mobilisasi personel.

Artinya, wilayah yang tidak masuk daftar penerima harus mengandalkan anggaran daerah, dukungan instansi vertikal, dan swadaya masyarakat. Bagi Maluku, hal ini menempatkan Dishut, BPBD, dinas kesehatan, serta pemerintah kabupaten dan kota sebagai institusi yang paling menentukan kecepatan respons di lapangan.

Titik Panas Bukan Kebakaran, tetapi Tidak Bisa Diabaikan

Perlu ditegaskan satu hal agar warga tidak salah membaca angka. Haikal menjelaskan bahwa titik panas merupakan indikator awal yang perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi atau pemeriksaan lapangan untuk memastikan keberadaan titik api. Karena itu pemantauan berkala dan koordinasi dengan pihak terkait terus ditingkatkan.

Dengan logika yang sama, angka 369 tidak sama dengan 369 kebakaran. Sebagian besar berada pada kategori menengah, dan sebagian bisa saja berasal dari sumber panas lain. Namun jumlah sebesar itu pada musim kering tetap menjadi peringatan, terutama karena lahan di Maluku banyak berupa semak belukar dan kebun campuran yang mudah menyala.

Kebakaran di Dusun Siwang menunjukkan bagaimana api di lahan campuran bisa membesar. Dua titik di areal penggunaan lain masing-masing membakar sekitar tiga hektare, dan pemadaman memerlukan mobil tangki air serta jetshooter, bukan hanya pemukulan manual. Setelah api mati, pendinginan tetap harus dilakukan agar bara tidak menyala lagi.

Cara paling murah tetap pencegahan. Warga diminta tidak membakar lahan untuk membersihkan kebun, tidak melempar puntung rokok ke semak kering, dan segera melaporkan asap atau bau hangus kepada petugas. Pada kondisi kering seperti sekarang, satu pembakaran kecil bisa berubah menjadi kebakaran yang menahan perhatian banyak instansi selama berhari-hari.

Mengapa Asap Bertahan Lama: El Nino Sangat Kuat

Akar persoalan cuaca ini sudah diumumkan BMKG sejak September. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83, dengan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September sebesar +2,63 yang mengindikasikan El Nino sangat kuat. Di Samudra Hindia, indeks IOD bulan Agustus tercatat +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

Kombinasi El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan memperparah serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang terlambat dan berlangsung lebih singkat. Bagi Maluku, konsekuensinya konkret: bahan bakar kebakaran lahan tetap kering jauh lebih lama dari biasanya.

BMKG mencatat 556 zona musim yang mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia sedang mengalami musim kemarau. Banyak titik pengamatan melaporkan hari tanpa hujan lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi, dengan yang terpanjang di Bantul mencapai 131 hari.

Untuk Maluku, awal musim hujan diprediksi tidak serentak. Sebagian Maluku termasuk dalam wilayah yang mengawali musim hujan pada November 2026, sebagian lagi pada Desember 2026. Puncak musim hujan di sebagian kecil Maluku diprediksi Desember 2026, Maluku bagian barat pada Januari 2027, dan sebagian Maluku pada Februari 2027.

Artinya, warga Maluku masih harus melewati periode kering dan berasap sebelum hujan rutin tiba. BMKG mengingatkan seluruh pihak waspada terhadap kekeringan dan karhutla terutama pada September-Oktober, lalu bersiap menghadapi risiko banjir dan longsor pada awal serta puncak musim hujan.

Bagi sektor kesehatan, BMKG merekomendasikan kesiapan mekanisme respons terhadap kualitas udara kurang sehat yang berkepanjangan akibat mundurnya awal musim hujan. Fasilitas kesehatan juga diminta bersiap mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah dan penyakit akibat genangan pascahujan.

Yang Bisa Dilakukan Warga Sepekan Ini

Untuk periode 23 sampai 29 Oktober, yang paling mungkin dihadapi warga adalah kabut asap kategori sedang, terutama pada pagi hari. Karena itu langkah paling sederhana tetap yang paling berguna: memakai masker saat keluar rumah, mengurangi aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan, menutup jendela ketika asap menebal, dan memperbanyak minum air putih.

Warga yang mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata diminta tidak menunda pemeriksaan. Puskesmas di wilayah domisili adalah pintu masuk pertama, dan rujukan akan diberikan bila kondisi klinis memerlukan. Bagi penderita asma, memastikan obat rutin tersedia sebelum asap menebal adalah persiapan yang masuk akal, meski bukan bagian dari imbauan resmi.

Pengguna jalan perlu menambah kewaspadaan, terutama pada pagi hari ketika jarak pandang paling rendah. Pengemudi disarankan menyalakan lampu, menjaga jarak, dan menurunkan kecepatan. Nelayan serta operator kapal kecil diminta memeriksa prakiraan cuaca sebelum berlayar dan menunda perjalanan bila jarak pandang dinilai terlalu rendah.

Calon penumpang pesawat diminta memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai dan bandara. Jika terjadi pembatalan, penumpang dapat menghubungi maskapai untuk penjadwalan ulang atau pengembalian biaya tiket.

Warga juga diminta tidak membakar lahan atau sampah pada musim kering ini dan segera melaporkan asap atau bau hangus kepada petugas. Pada kondisi bahan bakar alami yang sekering sekarang, satu puntung rokok di semak belukar dapat memicu kebakaran yang menahan banyak instansi selama berhari-hari.

Yang Perlu Dipantau Selanjutnya

Ada tiga hal yang layak diikuti perkembangannya dalam sepekan ke depan. Pertama, apakah BMKG memperpanjang atau mencabut peringatan dini asap untuk 11 wilayah Maluku setelah 29 Oktober. Kedua, apakah jumlah titik panas di Buru, Maluku Barat Daya, dan Seram Bagian Barat menurun setelah pemantauan dan pemadaman dilakukan.

Ketiga, apakah pemerintah pusat membuka peluang bantuan tambahan bagi daerah terdampak asap di luar tujuh provinsi yang sudah ditetapkan. Tanpa itu, penanganan di Maluku akan bergantung pada kapasitas anggaran daerah dan dukungan instansi vertikal yang ada.

Sementara menunggu, informasi resmi dari BMKG, pemerintah daerah, dan instansi penanggulangan bencana tetap menjadi rujukan utama. Warga diminta memeriksa sumber dan tanggal informasi sebelum meneruskannya, karena kabut asap di Maluku sebagian berasal dari daerah lain dan kondisinya bisa berbeda jauh antarpulau pada hari yang sama.