Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon mengeluarkan peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Maluku pada Rabu, 23 September 2026. Peringatan tersebut diterbitkan setelah analisis sistem SPARTAN menunjukkan sejumlah wilayah berada dalam tingkat kewaspadaan yang perlu diperhatikan masyarakat.
Peringatan ini bukan laporan bahwa kebakaran sedang terjadi di seluruh Maluku. Informasi BMKG merupakan penilaian terhadap kondisi cuaca dan bahan bakar yang dapat membuat api lebih mudah muncul serta menyebar apabila terjadi pembakaran. Karena itu, perhatian utama diarahkan pada pencegahan, terutama di sekitar hutan, padang rumput, lahan terbuka, kebun, dan kawasan yang dipenuhi vegetasi kering.
Peringatan berbasis analisis SPARTAN
BMKG menggunakan sistem peringatan kebakaran hutan dan lahan atau SPARTAN untuk membaca tingkat kerawanan berdasarkan beberapa indikator. Dalam rilis yang dikutip RRI Ambon, dokumen analisis bernomor ACWM-PTM-22 memetakan kondisi Maluku melalui empat indeks utama, yaitu Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Duff Moisture Code (DMC), Initial Spread Index (ISI), dan Fire Weather Index (FWI).
Keempat indeks tersebut membantu menjelaskan mengapa satu kawasan dapat menjadi lebih rentan terhadap kebakaran dibanding kawasan lain. Indeks tidak berdiri sebagai ramalan pasti bahwa api akan muncul. Indeks tersebut menggambarkan keadaan bahan bakar, kekeringan, angin, dan potensi intensitas api jika kebakaran terjadi.
FFMC digunakan untuk melihat tingkat kemudahan terbakar bahan ringan di lapisan atas tanah. Contohnya ialah dedaunan kering, rumput, alang-alang, dan material vegetasi lain yang cepat kehilangan kelembapan. Berdasarkan analisis BMKG, kondisi wilayah Maluku berada pada rentang aman hingga sangat mudah terbakar.
Rentang tersebut menunjukkan bahwa risiko tidak sama di semua tempat. Namun, kawasan dengan bahan bakar kering tetap perlu mendapat perhatian karena api kecil dapat menjalar ketika terdapat cukup material yang mudah terbakar. Sampah daun yang dibakar, pembersihan lahan dengan api, atau bara dari aktivitas memasak di sekitar kawasan terbuka dapat menjadi sumber penyulut.
Kekeringan tidak hanya di permukaan
Indikator berikutnya adalah Duff Moisture Code atau DMC. Indeks ini mengukur tingkat kekeringan lapisan tanah organik pada kedalaman sekitar 5 hingga 10 sentimeter serta bahan kayu ringan. Dalam analisis BMKG, DMC di wilayah yang dipetakan bergerak dari kategori tidak mudah hingga sangat mudah terbakar.
Kondisi tersebut berarti persoalan kelembapan tidak hanya berada pada daun atau rumput di permukaan. Lapisan bahan organik yang lebih dalam juga dapat mengalami pengeringan. Ketika bagian permukaan terbakar, material yang lebih kering di bawahnya dapat mempertahankan bara dan membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit.
Bagi masyarakat, informasi itu penting saat melakukan pembersihan kebun atau lahan. Api yang terlihat kecil belum tentu benar-benar padam setelah bagian atas dibasahi. Bara dapat tersimpan di tumpukan daun, tanah organik, atau potongan kayu ringan. Pemeriksaan ulang diperlukan sebelum lokasi ditinggalkan, terutama ketika angin bertiup atau lingkungan sekitar terlihat kering.
Pembakaran terbuka juga berisiko menyebarkan asap ke permukiman. Asap dapat mengganggu jarak pandang pengguna jalan, mengurangi kenyamanan warga, dan berisiko bagi orang yang memiliki gangguan pernapasan. Karena itu, pencegahan tidak hanya berkaitan dengan hutan, tetapi juga dengan keselamatan lingkungan tempat tinggal dan aktivitas harian.
Angin dapat mempercepat penyebaran api
BMKG menjelaskan bahwa angin menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan kebakaran. Indeks Initial Spread Index atau ISI digunakan untuk melihat potensi penyebaran api berdasarkan keadaan angin dan kondisi bahan bakar halus.
Dalam penjelasan BMKG, setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 kilometer per jam atau setara sekitar 3,6 meter per detik dapat membuat nilai ISI berlipat dua. Artinya, api yang pada awalnya masih kecil dapat berubah menjadi lebih sulit dikendalikan apabila angin meningkat dan bahan bakar di sekelilingnya cukup kering.
Risiko menjadi lebih besar di padang rumput, lahan yang ditumbuhi alang-alang, semak, dan area terbuka yang memiliki jalur vegetasi kering. Api dapat membentuk pola penyebaran ke arah angin atau yang dalam analisis kebakaran disebut head fire. Perubahan arah angin juga dapat membuat warga salah memperkirakan jalur aman.
Masyarakat sebaiknya tidak mendekati titik api untuk mencoba memadamkannya seorang diri ketika api telah membesar, asap menebal, atau angin bertiup kencang. Jarak aman perlu dijaga dan laporan harus segera disampaikan kepada aparat desa, petugas pemadam, BPBD, kepolisian, atau instansi terkait. Informasi yang disampaikan sebaiknya mencakup lokasi, patokan terdekat, arah penyebaran, dan apakah terdapat rumah atau fasilitas umum di sekitar titik api.
Potensi intensitas api berada pada rentang sedang hingga sangat tinggi
Indeks keempat, Fire Weather Index atau FWI, menggambarkan potensi intensitas api apabila kebakaran terjadi. Dalam peringatan BMKG pada 23 September, FWI berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi di wilayah yang dianalisis.
Kategori tersebut tidak boleh dimaknai sebagai kepastian bahwa setiap wilayah akan mengalami kebakaran. Namun, kategorinya menunjukkan bahwa tindakan pencegahan menjadi lebih penting. Api yang muncul dalam situasi bahan bakar kering, lapisan organik yang kehilangan kelembapan, dan angin yang mendukung dapat berkembang lebih cepat daripada kemampuan warga untuk mengendalikannya dengan alat sederhana.
Pencegahan juga perlu dilakukan oleh pelaku usaha, pengelola kebun, komunitas, dan pemilik lahan. Tumpukan bahan mudah terbakar sebaiknya tidak dibiarkan berdekatan dengan rumah, gudang, kabel listrik, atau akses jalan. Peralatan pemotong rumput dan mesin yang panas perlu dijauhkan dari rumput kering. Puntung rokok harus dipastikan padam dan tidak dibuang di area bervegetasi.
Sekolah, kantor desa, kelompok tani, dan pengelola kawasan wisata dapat menggunakan peringatan cuaca sebagai bahan pengingat bersama. Pengumuman sederhana mengenai larangan membakar sampah atau membuka lahan dengan api dapat membantu mencegah kebakaran yang bermula dari aktivitas sehari-hari.
BMKG minta warga tidak melakukan pembakaran
BMKG mengimbau masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan dan lahan, untuk tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu karhutla. Imbauan ini mencakup pembakaran sampah, pembersihan semak, pembukaan kebun, dan kegiatan lain yang menghasilkan api di ruang terbuka.
Pengelolaan sampah tanpa pembakaran menjadi pilihan yang lebih aman selama periode rawan. Sampah organik dapat dipisahkan untuk diolah menjadi kompos apabila tersedia fasilitas dan pengetahuan yang memadai. Material lain dapat dikumpulkan sesuai layanan pengangkutan di wilayah masing-masing. Jika pembakaran tidak dapat dihindari dalam kondisi yang benar-benar diizinkan oleh aturan setempat, warga tetap perlu memastikan prosedur keselamatan, pengawasan, sumber air, dan pemadaman akhir tersedia. Dalam situasi peringatan karhutla, pilihan paling aman adalah menunda pembakaran.
Warga juga perlu berhati-hati terhadap informasi yang tidak mencantumkan sumber. Peringatan BMKG berlaku sebagai informasi resmi mengenai kondisi meteorologi dan potensi bahaya. Informasi mengenai titik api, penutupan akses, evakuasi, atau penanganan lapangan tetap harus dikonfirmasi kepada instansi berwenang. Foto dan video dari media sosial dapat menjadi petunjuk awal, tetapi tidak otomatis membuktikan lokasi, waktu, dan skala kejadian.
Langkah yang dapat dilakukan masyarakat
Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kebakaran di lingkungan masing-masing. Pertama, hindari menyalakan api di dekat rumput kering, semak, tumpukan daun, atau lahan yang berbatasan langsung dengan hutan. Kedua, bersihkan material mudah terbakar dari sekitar rumah dan fasilitas umum tanpa membakarnya. Ketiga, simpan bahan bakar dan peralatan yang menghasilkan panas di tempat aman.
Keempat, lakukan pengawasan setelah kegiatan yang menggunakan api. Bara kecil yang masih menyala dapat tertiup angin dan memicu kebakaran baru. Penyiraman harus dilakukan sampai bara, asap, dan panas benar-benar hilang. Kelima, jangan membuang korek api atau puntung rokok di jalan, kebun, pantai, hutan, atau lahan kosong.
Keenam, kenali jalur keluar dari kawasan tempat tinggal atau tempat kerja. Warga yang tinggal dekat lahan terbuka perlu memastikan akses kendaraan darurat tidak tertutup. Jika muncul asap tebal, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, dan mengikuti arahan petugas.
Anak-anak juga perlu diberi pemahaman agar tidak bermain dengan korek api atau membuat api di area terbuka. Orang dewasa di sekitar mereka harus menyimpan bahan pemantik di tempat yang tidak mudah dijangkau. Pencegahan sejak rumah tangga dapat mengurangi kejadian yang sebenarnya bermula dari kelalaian kecil.
Perlu pemantauan lanjutan
Peringatan pada Rabu, 23 September 2026 perlu dibaca bersama pembaruan cuaca dan informasi lapangan berikutnya. Kondisi angin, kelembapan, hujan, dan keadaan vegetasi dapat berubah dari waktu ke waktu. BMKG menyediakan informasi cuaca Kota Ambon berdasarkan kecamatan, termasuk Nusaniwe, Sirimau, Baguala, Teluk Ambon, dan Leitimur Selatan, sehingga warga dapat memantau prakiraan sesuai wilayahnya.
Data prakiraan cuaca bukan pengganti laporan kejadian. Jika warga melihat api atau asap yang mengarah pada kebakaran, laporan segera kepada aparat setempat akan membantu proses pemeriksaan dan penanganan. Masyarakat tidak perlu menunggu api membesar untuk menyampaikan informasi, tetapi juga perlu menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi.
Sampai informasi yang menjadi dasar artikel ini diterbitkan, peringatan BMKG menjelaskan potensi dan langkah pencegahan, bukan konfirmasi adanya kebakaran besar yang melanda seluruh Maluku. Pemerintah daerah, petugas penanggulangan bencana, aparat keamanan, dan masyarakat perlu menjaga koordinasi agar titik api dapat dicegah atau ditangani sedini mungkin.
Dengan kondisi bahan bakar yang di beberapa wilayah berada pada tingkat mudah terbakar, keputusan untuk tidak menyalakan api di lahan terbuka merupakan langkah sederhana yang berdampak besar. Warga Maluku diharapkan mengikuti pembaruan resmi BMKG dan melaporkan kejadian yang terlihat kepada instansi terkait demi mencegah kerusakan hutan, gangguan kesehatan, serta ancaman terhadap permukiman dan aktivitas masyarakat.
Mengapa peringatan dini penting bagi wilayah kepulauan
Maluku memiliki banyak pulau, kawasan pesisir, hutan, kebun, dan lahan terbuka yang dipisahkan oleh jarak serta akses transportasi. Dalam keadaan seperti ini, penanganan kebakaran di satu lokasi dapat membutuhkan waktu lebih lama apabila titik kejadian berada jauh dari pusat layanan atau sulit dijangkau kendaraan. Pencegahan di tingkat keluarga, negeri, desa, dan komunitas menjadi lapisan pertama sebelum petugas tiba.
Karakter wilayah kepulauan juga membuat informasi lokasi harus disampaikan secara rinci. Nama dusun atau desa saja kadang belum cukup untuk membantu petugas menemukan titik api. Warga dapat menambahkan patokan jalan, sungai, pantai, kebun, menara, atau fasilitas umum terdekat. Jika memungkinkan, laporan juga menyebutkan apakah api bergerak menuju rumah, kebun, sekolah, jalan, atau kawasan hutan.
Pelaporan yang baik bukan berarti warga harus mendekati api. Keselamatan pelapor tetap menjadi prioritas. Foto atau video hanya boleh diambil dari tempat aman, tanpa memasuki area berasap atau memotong jalur petugas. Anak-anak dan warga lanjut usia sebaiknya segera dijauhkan dari lokasi apabila asap mulai mengganggu pernapasan atau jarak pandang.
Peran pemerintah dan pengelola lahan
Peringatan BMKG dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan pengelola kawasan untuk memperkuat pemantauan. Aparat di tingkat kecamatan dan desa dapat menyebarkan informasi kepada warga, memeriksa titik rawan, serta memastikan nomor kontak darurat diketahui masyarakat. Kelompok masyarakat yang biasa melakukan kegiatan di hutan dan kebun juga perlu mendapat pengingat mengenai risiko pembakaran terbuka.
Pengelola lahan bertanggung jawab memastikan aktivitas pekerja tidak meninggalkan sumber api. Pemeriksaan terhadap area setelah pekerjaan selesai perlu dilakukan, khususnya pada sore dan malam hari ketika bara dari pembakaran siang dapat kembali menyala. Alat pemadam sederhana, sumber air, dan akses menuju lahan perlu disiapkan sesuai karakter lokasi.
Koordinasi lintas lembaga juga penting untuk membedakan informasi potensi dari laporan kejadian. BMKG berperan menyediakan analisis meteorologi, sedangkan konfirmasi titik api dan penanganan lapangan melibatkan instansi teknis serta pemerintah daerah. Pembagian peran tersebut membantu masyarakat menerima informasi yang tepat dan menghindari kepanikan.
Informasi yang harus dihindari
Masyarakat perlu menghindari pembagian pesan berantai yang menyebut seluruh Maluku sedang terbakar apabila tidak disertai sumber resmi. Peringatan potensi bukan berarti semua wilayah mengalami kejadian yang sama. Judul atau unggahan yang berlebihan dapat membuat warga salah mengambil keputusan, termasuk mendatangi lokasi berbahaya atau menyebarkan identitas orang yang belum tentu terkait.
Informasi mengenai korban, kerusakan, penyebab kebakaran, dan dugaan pelaku juga tidak boleh disimpulkan dari gambar saja. Penentuan penyebab membutuhkan pemeriksaan pihak berwenang. Warga yang memiliki informasi awal dapat menyampaikannya kepada petugas, tetapi tidak perlu menyebarkan tuduhan di media sosial.
Pemantauan informasi resmi sebaiknya dilakukan melalui kanal BMKG, BPBD, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, kepolisian, atau kanal resmi lain yang relevan. Pembaruan dapat berubah mengikuti hasil pengamatan terbaru. Dengan mengikuti sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, masyarakat dapat membedakan antara peringatan dini, laporan kejadian, dan kabar yang belum terkonfirmasi.
Kesimpulan
Peringatan BMKG pada 23 September 2026 menempatkan potensi karhutla sebagai hal yang perlu diwaspadai di Maluku, terutama karena kombinasi bahan bakar yang mengering, kondisi lapisan organik, angin, dan potensi intensitas api. Belum ada dasar dalam informasi yang diperiksa untuk menyatakan seluruh provinsi sedang dilanda kebakaran besar.
Langkah yang paling dapat dilakukan warga adalah tidak menyalakan api di lahan terbuka, memastikan bara benar-benar padam, membersihkan lingkungan tanpa pembakaran, dan segera melaporkan api atau asap dari jarak aman. Pemantauan prakiraan BMKG serta koordinasi dengan petugas menjadi bagian penting untuk mencegah risiko berkembang menjadi bencana nyata.
Pemantauan bersama perlu dilakukan secara berkala oleh warga, pemerintah negeri, dan petugas terkait sepanjang masa peringatan ini.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.