Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan di Kota Ambon baru akan tiba pada Maret 2027, jauh lebih lambat dari kebiasaan. Prakiraan itu disampaikan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Asisten II Sekretariat Daerah Maluku, Kasrul Selang, di Kantor Gubernur Maluku, Kamis (8/10/2026), bersama BPBD, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, sejumlah organisasi perangkat daerah, serta TNI/Polri.
Kabar itu sekaligus mempertegas kekhawatiran yang sudah berbulan-bulan melingkupi warga: periode kering tahun ini disebut-sebut sebagai yang terpanjang dalam lima tahun terakhir. Pemprov Maluku menilai kondisi tersebut berpotensi menaikkan risiko kebakaran hutan dan lahan, keterbatasan air bersih, serta gangguan terhadap aktivitas harian warga.## Musim Hujan Datang Bertahap di Maluku
BMKG memetakan awal musim hujan di Maluku tidak berlangsung serentak. Sejumlah wilayah diprakirakan mulai diguyur hujan pada November dan Desember 2026. Satu zona musim di Seram Bagian Barat baru masuk musim hujan pada Januari 2027. Adapun Kota Ambon bersama dua zona musim di Maluku Tengah menempati jadwal paling akhir, yakni Maret 2027.
BMKG menegaskan waktu tersebut masih bersifat prakiraan dan bisa bergeser sekitar satu bulan. Karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah diminta terus mengikuti pembaruan informasi cuaca dan iklim dari kanal resmi.Perbedaan jadwal itu membuat Pemprov Maluku menyusun langkah antisipasi berbasis karakteristik cuaca masing-masing wilayah, bukan kebijakan seragam. Jurubicara Pemprov Maluku, Kasrul Selang, menyebut kondisi ini bagian dari anomali cuaca tahun ini. Musim penghujan menurutnya mundur cukup jauh di sejumlah wilayah.
"Katong ada anomali cuaca. Katong musim penghujan terjadi mundur, dan sangat-sangat jauh," ujar Kasrul dalam keterangan pers di kantor Gubernur, Kamis (8/10/2026).## Curah Hujan Pulau Ambon Terendah dalam Lima Tahun
Data BMKG menunjukkan penurunan curah hujan di Pulau Ambon terpantau sejak April 2026 dan mencapai titik terendah pada Oktober 2026. Kondisi itu menjadikan periode kering tahun ini sebagai yang paling kering dalam lima tahun terakhir.
Kasrul menegaskan kondisi tersebut bukan sekadar kabar buruk, melainkan dasar bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersiap."Ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, tetapi menjadi informasi bagi kita semua agar dapat melakukan langkah-langkah antisipasi. Pemerintah, TNI-Polri dan masyarakat harus bersama-sama menghadapi kondisi ini," ujar Kasrul.
Secara nasional, BMKG mencatat 529 zona musim atau 61,08 persen wilayah daratan Indonesia diprakirakan mengalami awal musim hujan yang mundur dari kondisi normal. Fenomena El Nino yang sangat kuat disebut menjadi salah satu pemicu berkurangnya curah hujan dan mundurnya awal musim hujan.## Risiko Karhutla dan Krisis Air Bersih
Periode kering yang lebih panjang menaikkan risiko kebakaran lahan, menekan ketersediaan air, dan mengganggu sektor pertanian. Pemprov Maluku melalui BPBD akan memperkuat koordinasi dengan OPD dan instansi terkait, termasuk sektor kehutanan, pertanian, pekerjaan umum, dan kesehatan.
BPBD juga didorong memperkuat posko dan satuan tugas siaga karhutla di tingkat kabupaten dan kota, sehingga pemantauan serta penanganan awal dapat dilakukan lebih cepat. Kesiapan personel gabungan dari BPBD, TNI-Polri, dan relawan menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.Pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan anggaran kedaruratan untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan bencana, termasuk distribusi air bersih bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan air akibat kekeringan. Pada sektor kehutanan, penguatan peran Kesatuan Pengelolaan Hutan diperlukan untuk meningkatkan pencegahan dan kesiapsiagaan di tingkat tapak, terutama melalui pemantauan kawasan rawan kebakaran dan penyampaian informasi dini kepada masyarakat.## Kabut Asap dan Hotspot Masih Jadi Perhatian
Rapat koordinasi itu juga menyoroti kabut asap yang sempat menyelimuti Ambon. Kasrul menjelaskan, asap yang menurunkan jarak pandang tidak selalu bersumber dari Pulau Ambon, karena bisa terbawa angin dari wilayah lain.
Dampak asap terhadap jarak pandang dan aktivitas penerbangan menjadi salah satu alasan pemerintah daerah memperkuat koordinasi lintas sektor. Pemantauan BMKG mencatat 50 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di wilayah Maluku pada 7 Oktober 2026, dengan jumlah terbanyak di Buru Selatan.Sebaran asap itu membuat sejumlah pemerintah daerah bergerak. Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tengah membagikan 4.000 masker kepada warga di Masohi dan Seram Utara, dengan prioritas bagi anak-anak dan lansia. Kepala Dinas Kesehatan Maluku Tengah, M. Djali Talaohu, meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap menebal dan mewaspadai gangguan pernapasan.
Peringatan Sepekan dan Wilayah Terdampak
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon mengeluarkan peringatan dini soal potensi kabut asap kategori sedang selama sepekan, terhitung 7 hingga 14 Oktober 2026. Wilayah yang diminta waspada meliputi Kota Ambon, Buru, Buru Selatan, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Kota Tual, Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, dan Kepulauan Tanimbar.Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon, Kamari, menyebut asap yang menyelimuti langit Maluku sebagian bersumber dari luar Pulau Ambon. Berdasarkan pantauan satelit Himawari-9, sebaran asap dipengaruhi arah angin dari timur hingga barat laut dan diprakirakan berasal dari wilayah Papua, Pulau Buru, dan Pulau Seram. Jarak pandang di sejumlah daerah sempat merosot hingga di bawah dua kilometer pada pagi hari.## Dampak bagi Warga Ambon dan Maluku
Mundurnya musim hujan menyentuh langsung kehidupan warga. Petani di sejumlah daerah berisiko menghadapi gagal tanam dan penurunan hasil panen karena pasokan air yang menipis. Rumah tangga yang selama ini bergantung pada penampungan air hujan atau sumber air permukaan berpotensi mengalami kesulitan air bersih saat kemarau berlanjut.
Kualitas udara yang memburuk akibat asap juga menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat gangguan pernapasan. BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak minum air putih, dan menutup jendela ketika asap terasa pekat.## Transportasi Laut dan Aktivitas Harian
Maluku sebagai provinsi kepulauan membuat sebagian besar mobilitas warga bergantung pada transportasi laut. Jarak pandang yang menurun dan potensi gelombang dapat mengganggu jadwal pelayaran, sehingga warga yang hendak bepergian antarpulau perlu memperhatikan informasi cuaca terkini sebelum berangkat.
Pengelola jasa penyeberangan dan operator kapal diminta mengutamakan keselamatan, terutama pada rute yang melintasi perairan dengan kondisi cuaca kurang bersahabat. Selain itu, sektor penerbangan juga perlu mengantisipasi potensi gangguan jarak pandang, khususnya pada penerbangan pagi hari saat asap biasanya lebih pekat.## Imbauan bagi Masyarakat
Pemprov Maluku meminta warga tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menghemat penggunaan air bersih, menghindari pembakaran sampah atau lahan yang dapat memicu kebakaran, serta segera melaporkan titik api kepada aparat setempat.
Pemerintah daerah juga mendorong masyarakat memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD, bukan dari pesan berantai yang belum jelas sumbernya. Koordinasi antara pemerintah, TNI-Polri, dan warga dinilai penting agar langkah antisipasi berjalan tepat sasaran.## Kebakaran di Gunung Nona: Titik Api Kembali Muncul
Di tengah antisipasi itu, kebakaran lahan kembali terjadi di kawasan hutan Gunung Nona, Ambon, pada Jumat (9/10/2026) malam. Api membakar lahan di sekitar Perumahan Telkom, Kecamatan Nusaniwe. Menurut laporan, personel pemadam menerima informasi kebakaran pada pukul 20.32 WIT dan tiba di lokasi pukul 20.42 WIT, lalu situasi dinyatakan terkendali pada malam itu.
Kejadian tersebut menegaskan bahwa titik api tidak hanya muncul di daratan luas, tetapi juga di wilayah perkotaan yang berbatasan langsung dengan hutan. Karena itu, kewaspadaan karhutla perlu dijaga sampai musim hujan benar-benar tiba.## Penutup
Prakiraan BMKG soal hujan yang baru turun Maret 2027 masih bisa berubah seiring dinamika atmosfer. Yang pasti, warga dan pemerintah daerah kini memiliki waktu untuk bersiap menghadapi periode kering yang lebih panjang dari biasanya.
Langkah kecil seperti hemat air, tidak membakar sampah, dan memakai masker saat asap menebal dapat mengurangi dampak yang lebih besar. Kabar Amboina akan terus menyampaikan perkembangan informasi cuaca dan kebijakan Pemprov Maluku selanjutnya.## Mengapa Musim Hujan Datang Lebih Lambat
BMKG menjelaskan kemunduran awal musim hujan tahun ini dipicu oleh El Nino dengan intensitas sangat kuat yang berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia. Dua fenomena itu mengurangi pasokan uap air dan menekan pertumbuhan awan hujan, sehingga musim hujan datang terlambat sekaligus berlangsung lebih singkat.
Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik pada Agustus 2026 tercatat mencapai +2,83, sementara indeks ENSO periode Juli-Agustus-September berada di angka +2,63. Di Samudra Hindia, indeks IOD bulan Agustus tercatat +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun. BMKG memprediksi kondisi ENSO bertahan pada fase El Nino hingga awal 2027.## Gambaran Nasional: Kemarau Masih Berlangsung
Kondisi di Maluku merupakan bagian dari gambaran yang lebih luas. BMKG mencatat 556 zona musim atau 61,91 persen luas daratan Indonesia saat ini masih berada dalam musim kemarau. Sejumlah titik pengamatan melaporkan hari tanpa hujan lebih dari 60 hari, tersebar di 25 provinsi, dengan durasi terpanjang tercatat di wilayah Bantul selama 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Awal musim hujan di Indonesia juga tidak datang serentak. Sebanyak 185 zona musim atau 24,66 persen wilayah diprediksi mulai masuk musim hujan pada November 2026, sedangkan 266 zona musim atau 17,31 persen wilayah baru masuk pada Desember 2026. Wilayah Maluku termasuk di antara yang bertahap memasuki musim hujan pada dua bulan tersebut, dengan bagian tertentu, termasuk Ambon, baru pada Maret 2027.Puncak musim hujan 2026/2027 di sebagian besar Indonesia diprediksi terjadi pada Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027. Pada Desember 2026, puncak hujan diprakirakan terjadi di 155 zona musim atau 36,94 persen luas daratan, sebagian di antaranya mencakup wilayah Maluku. Durasi musim hujan tahun ini juga diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 zona musim atau 51,90 persen luas daratan Indonesia.
Artinya, meskipun hujan akhirnya turun, periode basah tahun ini diprediksi tidak berlangsung selama biasanya di sebagian besar wilayah. Bagi Maluku, ini berarti jendela waktu bercocok tanam dan pengisian cadangan air menjadi lebih sempit, sehingga pengelolaan air perlu dilakukan lebih hati-hati sejak sekarang.## Survei Kondisi Lahan dan Dampak Pertanian
Data BMKG juga menunjukkan sektor pertanian menjadi salah satu yang paling merasakan dampak. Hari tanpa hujan yang panjang membuat sebagian lahan sawah dan ladang di Maluku mengalami kekeringan, sehingga petani kesulitan memulai tanam. Kondisi serupa terjadi di banyak daerah lain di Indonesia, dengan BMKG mencatat titik pengamatan hari tanpa hujan di atas 60 hari tersebar di 25 provinsi.
Dalam menghadapi kondisi itu, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dan pemilihan varietas tanaman yang memiliki siklus tanam lebih pendek, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman. Rekomendasi tersebut relevan bagi petani di Maluku yang mengandalkan hujan sebagai sumber utama pengairan.## Kewaspadaan Air Bersih dan Kesehatan
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan warga menghemat air, menambah kapasitas tampungan air pada skala rumah tangga, serta mengidentifikasi potensi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor. Imbauan itu disampaikan seiring kondisi kering yang masih berlangsung dan diprediksi berlanjut hingga awal 2027.
Bagi warga Ambon dan Maluku, langkah sederhana seperti memperbaiki talang dan memperbesar penampungan air hujan menjadi investasi yang berguna. Ketika hujan akhirnya turun pada Maret 2027, kapasitas tampungan yang memadai akan membantu mengurangi ketergantungan pada pasokan air bersih yang terbatas selama musim kering.## Surat Gubernur ke Bupati dan Wali Kota
Pemprov Maluku menindaklanjuti hasil rapat dengan menyusun konsep surat Gubernur Maluku kepada para bupati dan wali kota. Surat itu meminta pemerintah kabupaten dan kota memperhatikan pemetaan kondisi wilayah, kesiapan sarana dan prasarana, hingga kesiapan sumber daya manusia, termasuk membentuk posko jika diperlukan.
Langkah itu menegaskan bahwa penanganan dampak kekeringan tidak cukup hanya dilakukan pemerintah provinsi. Pemerintah kabupaten dan kota diharapkan bergerak dalam satu langkah agar mitigasi dan antisipasi berjalan terpadu sesuai karakteristik wilayah masing-masing.## Peran Masyarakat dalam Mitigasi
Kasrul menegaskan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi karhutla dan kekeringan. Warga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menggunakan air secara hemat selama kondisi kering. Masyarakat juga dapat memanfaatkan penampungan air hujan sebagai salah satu upaya menghadapi keterbatasan air sekaligus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.
"Kami berharap masyarakat rajin melihat informasi, tetapi informasi yang betul. BMKG akan terus menyampaikan informasi melalui kanal-kanal resmi yang tersedia," ujar Kasrul.
Pesan itu penting karena informasi cuaca yang keliru atau belum terverifikasi dapat memicu kepanikan. Prakiraan musim hujan, kata Kasrul, akan menjadi acuan pemerintah daerah dalam mengambil langkah-langkah ke depan.## Kesiapan Fasilitas Publik dan Layanan Dasar
Selain sektor pertanian dan air bersih, kesiapan fasilitas publik menjadi perhatian. Pemerintah daerah diminta memastikan kesiapan personel, fasilitas pendukung, dan mekanisme penanganan apabila kekeringan maupun karhutla terjadi, termasuk memastikan layanan dasar bagi warga tetap berjalan.
Rumah sakit, puskesmas, dan sekolah juga terdampak secara tidak langsung. Kualitas udara yang memburuk akibat asap membuat warga, terutama anak-anak dan lansia, rentan mengalami gangguan pernapasan. Karena itu, imbauan penggunaan masker dan pengurangan aktivitas luar ruangan saat asap menebal menjadi langkah yang perlu diperhatikan bersama.## Pengalaman Kebakaran di Kawasan Rawan Ambon
Ambon memiliki beberapa kawasan yang berbatasan langsung dengan hutan dan lereng, seperti sekitar Gunung Nona. Ketika kemarau panjang melanda, sisa vegetasi yang kering mudah terbakar, terutama pada siang hari ketika suhu meningkat. Kejadian kebakaran di kawasan hutan Gunung Nona pada Oktober 2026 menjadi contoh bagaimana titik api dapat muncul kembali meski kejadian kebakaran secara umum mulai menurun.
Pemadaman di lereng bukit juga menghadapi tantangan tersendiri karena akses dan sumber air yang terbatas. Karena itu, kesiapsiagaan personel gabungan, ketersediaan peralatan, serta dukungan warga sekitar menjadi kunci agar kebakaran tidak meluas ke permukiman.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.