Dinas Kesehatan Provinsi Maluku menggencarkan kegiatan edukasi pencegahan tuberkulosis di lingkungan sekolah-sekolah Kota Ambon. Kepala Dinas Kesehatan Maluku dr. Elna Anakotta menyampaikan hal tersebut di Ambon pada Selasa (20/10/2026). Menurut Elna, pemberian edukasi kepada pelajar merupakan bagian penting dari upaya memperluas pengetahuan masyarakat mengenai tuberkulosis, mulai dari gejala yang perlu diwaspadai, cara menular, hingga pentingnya pemeriksaan dan pengobatan sejak dini.

Edukasi Tuberkulosis di SMA Negeri 11 Ambon

Kegiatan itu dimulai pukul 10.00 WIT.

Tujuannya meningkatkan pemahaman pelajar mengenai penyakit tuberkulosis, mulai dari gejala, cara menular, hingga langkah pencegakannya.

Berdasarkan catatan dalam surat pemberitahuan tertanggal 9 Oktober 2026, kegiatan ini melibatkan sekitar 200 siswa kelas XI SMA Negeri 11 Ambon.

Pelaksanaan sosialisasi tersebut mendapat dukungan dari pihak sekolah melalui partisipasi dalam kegiatan edukasi kesehatan bagi peserta didik.

Menurut Zaskiyah Dwi Saputri, edukasi kesehatan di lingkungan sekolah sangat penting guna agar siswa memiliki pengetahuan yang memadai tentang penyakit menular dan pentingnya menjaga kesehatan diri serta lingkungan.

Melalui kegiatan tersebut, edukasi kesehatan diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap pencegahan tuberkulosis dan menghindari stigma terhadap pasien.

Pemahaman gejala dan pencegakannya penting agar pelajar mampu mengenali risiko, serta memahami pentingnya pemeriksaan dan pengobatan.

Salah satu kegiatan yang dilakukan UPTD Klinik Utama Lawamena Bhakti Kesehatan Provinsi Maluku, unit pelayanan kesehatan milik Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, adalah sosialisasi tuberkulosis di SMA Negeri 11 Ambon pada 12 Oktober 2026. Kegiatan itu menyasar sekitar 200 siswa kelas XI. Para siswa memperoleh pemahaman mengenai gejala tuberkulosis yang perlu diwaspadai, cara penyakit itu menular, serta pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-62 yang akan berlangsung pada 12 November 2026. Kepala SMA Negeri 11 Ambon Zaskiyah Dwi Saputri menilai edukasi kesehatan di lingkungan sekolah sangat penting. Menurut dia, siswa perlu memiliki pengetahuan memadai mengenai penyakit menular dan pentingnya menjaga kesehatan diri serta lingkungan.

Elna menambahkan, penemuan kasus saja belum tentu selesai. Untuk anak-anak, yang dituju adalah penanganannya, pengobatannya, dan pencegakannya, sebab anak-anak adalah generasi bangsa. Menurut dia, penanganan tuberkulosis pada anak menuntut keterlibatan tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, keluarga, sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Target Penemuan Kasus Masih Jauh dari Capaian

Angka itu memberi gambaran yang jelas tentang posisi penemuan kasus tuberkulosis anak di Maluku. Pada 2025, target penemuan kasus tuberkulosis anak di Maluku berjumlah 1.793 kasus, sementara yang ditemukan 494 kasus, atau sekitar 27,6 persen dari target.

Untuk 2026, target penemuan kasus tuberkulosis anak ditetapkan 1.488 kasus, sedangkan kasus anak yang sudah ditemukan berjumlah 310 kasus, atau sekitar 20,8 persen.

Elna menyebut angka tersebut belum memadai. Salah satu tantangan yang disebutnya adalah menjangkau anak-anak yang diduga menderita tuberkulosis agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan tepat waktu.

Tantangan geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan juga memengaruhi jangkauan pelayanan kesehatan, terutama terkait jarak antarpulau, transportasi, ketersediaan tenaga kesehatan, dan fasilitas diagnosis.

Menurut Elna, penemuan kasus harus disertai kepastian bahwa anak yang teridentifikasi mendapat pengobatan berkelanjutan serta pencegahan bagi kontak erat yang memenuhi kriteria.

Selain deteksi dini dan pengobatan, Dinkes Maluku juga mendorong perlindungan terhadap anak penderita tuberkulosis dari stigma dan diskriminasi agar mereka tetap memperoleh hak yang sama untuk belajar, bermain, dan tumbuh sehat.

Pojok Peduli TBC dan Kesenjangan Angka yang Terlihat

Penanganan tuberkulosis di Maluku juga berjalan melalui pojok peduli TBC, yaitu fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan preventif dan kuratif terhadap penyakit tuberkulosis.

Dalam program itu disediakan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan untuk pasien tuberkulosis, pengobatan anti-tuberkulosis dan pengawasan pengobatan, kegiatan pencegahan dan promosi kesehatan, tes diagnosa dan deteksi dini, konseling dan edukasi, serta pelaporan kasus tuberkulosis ke Dinas Kesehatan.

Di Kota Ambon ada dua pojok peduli TBC yang banyak dikunjungi masyarakat, yakni di Batu Merah dan Laha.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Maluku dr. Samsila Mona Rumata menyatakan bahwa deteksi dan penemuan kasus terus digencarkan karena masih banyak stigma yang melekat pada penyakit ini di masyarakat.

Kepala UPTD Klinik Utama BKPM Provinsi Maluku dr. Elenora Wattimena mencatat, tingkat keberhasilan pengobatan tuberkulosis sensitif obat di Maluku berada di kisaran 78 persen berdasarkan jumlah kasus terlapor.

Menurut dia, yang paling sukses adalah Kabupaten Kepulauan Aru dengan total 72,06 persen, dan yang paling rendah adalah Kabupaten Seram Bagian Timur dengan 36,55 persen.

Sementara tingkat keberhasilan pengobatan tuberkulosis resisten obat masih rendah, sekitar 40 persen berdasarkan jumlah kasus terlapor, dengan data hanya di dua kabupaten dari 11 kabupaten/kota di Maluku, yaitu Kepulauan Aru sekitar 12,40 persen dan Maluku Tengah 30 persen.

Pemerintah menetapkan target eliminasi tuberkulosis pada 2030, dan program pojok peduli TBC di Maluku disebut sebagai dukungan terhadap program tersebut.

Elna berharap keterlibatan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat membuat upaya penanganan tuberkulosis menjangkau lebih banyak anak, meningkatkan penemuan kasus, serta menekan risiko penularan di lingkungan keluarga dan sekolah.

Mengapa Deteksi Dini Penting

Tuberkulosis, atau TB, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri yang umumnya menyerang paru-paru. Bakteri itu menyebar melalui udara ketika orang dengan TB mengeluarkan dahak, bersin, atau meludah.

Sekitar seperempat populasi dunia diperkirakan pernah tertular dengan bakteri TB. Pada umumnya, orang yang tertular tidak merasa sakit dan tidak menjadi sumber penyakit.

Karena itu, tuberkulosis bisa menjadi penyakit yang diam dan tidak disadari. Gejala sering kali muncul perlahan, sehingga orang lain dapat tertular tanpa menyadarinya.

Gejala yang perlu diwaspadai meliputi batuk berkepanjangan, kadang disertai darah, nyeri dada, lemas, berat badan menurun, demam, dan keringat pada malam hari.

Sekitar 5 sampai 10 persen orang yang tertular akhirnya menunjukkan gejala dan berkembang menjadi sakit TB.

Bayi dan anak-anak memiliki risiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi sakit apabila tertular.

Gizi kurang, sistem imunitas yang melemah, diabetes, penggunaan tembakau, serta konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko seseorang berkembang sakit TB.

Vaksinasi BCG yang diberikan pada bayi atau anak kecil mencegah kematian akibat TB dan melindungi anak dari bentuk-bentuk TB berat.

WHO merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat sebagai tes awal bagi semua orang dengan gejala dan tanda TB, termasuk tes berbasis biomarker dan uji molekuler yang dapat memberi hasil dalam 48 jam sejak pengambilan sampel.

Pengobatan TB memakai antibiotik khusus dengan regimen harian 4 sampai 6 bulan.

Menghentikan obat lebih awal atau tanpa advice dokter berbahaya, karena dapat membuat bakteri TB menjadi resisten terhadap antibiotik.

Tuberculosis yang tidak merespons obat standar disebut TB resisten obat, dan membutuhkan jenis obat yang berbeda.

Resistensi obat muncul ketika obat TB dipakai secara tidak tepat, termasuk resep yang keliru, obat bermutu rendah, atau pasien berhenti lebih awal.

Tuberkulosis resisten banyak obat adalah tuberkulosis yang disebabkan bakteri yang tidak merespons rifampisin dan isoniazid, dua obat lini pertama yang paling efektif, dan kondisi ini tetap dapat disembuhkan dengan obat lain, meski tendensinya lebih mahal dan lebih banyak efek samping.

Hanya sekitar 2 dari 5 orang dengan tuberkulosis resisten banyak obat yang bisa mendapat pengobatan pada 2024, dan tuberkulosis resisten banyak obat tetap menjadi krisis kesehatan masyarakat.

Orang yang hidup dengan HIV berisiko 12 kali lebih besar untuk sakit tuberkulosis dibandingkan orang yang tidak hidup dengan HIV, dan tuberkulosis menjadi penyebab kematian utama di kalangan mereka.

Pada 2024, sekitar 150.000 orang meninggal karena tuberkulosis yang berkaitan dengan HIV, sementara 82 persen dari orang yang menderita tuberkulosis telah mempunyai hasil tes HIV yang terdokumentasi.

Pencegahan yang Bisa Dilakukan Setiap Hari

Menurut WHO, langkah pencegahan yang perlu dilakukan meliputi mencari perhatian medis segera bila muncul gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, dan penurunan berat badan yang tidak jelas, karena penanganan dini dapat membantu menghentikan penyebaran penyakit.

Bagi orang yang sudah menderita tuberkulosis, WHO merekomendasikan praktik kebersihan yang baik saat batuk, termasuk memakai masker, menutup mulut dan hidung, serta membuang dahak dan tisu bekas secara benar.

Tindakan khusus seperti penggunaan masker dan ruang yang berventilasi baik juga penting untuk mengurangi infeksi di fasilitas kesehatan dan institusi lain.

Orang yang berisiko lebih tinggi, misalnya mereka yang tinggal serumah atau bekerja bersama orang dengan tuberkulosis, disarankan untuk melakukan pemeriksaan.

Situasi Tuberkulosis di Indonesia dan Maluku Utara

Pada 2024, secara global terdapat 10,7 juta orang yang menderita TB, termasuk 1,2 juta anak, dan 1,23 juta orang meninggal karena penyakit ini.

Indonesia memiliki jumlah kasus tuberkulosis tertinggi kedua di dunia setelah India.

Menurut data WHO, hampir 87 persen kasus baru TB muncul di 30 negara dengan beban TB tertinggi, dan dua pertiga dari total kasus berada di delapan negara, termasuk India dengan 25 persen dan Indonesia dengan 10 persen.

Di Indonesia, setidaknya satu dari empat orang dengan TB dilaporkan atau terdiagnosis, sehingga lebih dari 140.000 orang tidak terdiagnosis pada 2023.

Cakupan pelaporan kasus tuberkulosis di Indonesia membaik dari 41 persen pada 2017 menjadi 16 persen pada 2023, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi turun sedikit dari 18 persen menjadi 14 persen.

Di tingkat nasional, estimasi kasus tuberkulosis mencapai sekitar 1,08 juta kasus, sehingga upaya pengendalian tuberkulosis masih perlu diperkuat secara optimal.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara dr. Julys Giscard Kroons menyebut tuberkulosis masih menjadi tantangan serius baik secara global maupun nasional, dengan Indonesia menempati posisi kedua tertinggi kasus setelah India.

Di Maluku Utara, capaian penemuan kasus tuberkulosis pada 2025 tercatat 3.961 kasus atau 81 persen dari target 90 persen, sementara penemuan kasus tuberkulosis pada anak baru mencapai sekitar 23 persen.

Menurut Kroons, penanggulangan tuberkulosis tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata, dan diperlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan fasilitas pelayanan kesehatan swasta dan organisasi profesi.

Target nasional eliminasi tuberkulosis tahun 2030 dan mengakhiri epidemi tuberkulosis pada 2050 tertuang dalam kebijakan nasional dan amanat Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021.

Rencana tindak lanjut yang disepakati menekankan pada penguatan kolaborasi Public Private Mix, optimalisasi skrining dan pemberian terapi pencegahan tuberkulosis, serta peningkatan kualitas pencatatan dan pelaporan program.

Agenda yang dibahas meliputi kebijakan dan situasi terkini program tuberkulosis, strategi pemberian terapi pencegahan pada kontak serumah, evaluasi ketersediaan logistik, serta penguatan peran organisasi profesi.

Secara global, sekitar 34.000 orang dengan tuberkulosis resisten banyak obat dilaporkan memulai regimen pada 2024, naik dari 5.653 orang pada 2023.

Biaya yang ditanggung rumah tangga menjadi hambatan tersendiri. Secara global, sekitar 50 persen orang yang mendapat pengobatan tuberkulosis dan anggota keluarganya menanggung biaya yang katastrofal, yaitu lebih dari 20 persen dari total pendapatan rumah tangga.

Pada 2024, secara global terdapat 0,97 juta kasus tuberkulosis baru yang dapat dikaitkan dengan gizi kurang, 0,93 juta dengan diabetes, 0,74 juta dengan gangguan konsumsi alkohol, 0,70 juta dengan asap rokok, dan 0,57 juta dengan infeksi HIV.

Kebutuhan investasi untuk mengakhiri tuberkulosis mencapai 22 miliar dolar AS per tahun untuk pencegahan, diagnosis, perawatan, dan terapi agar target global tercapai pada 2027.

Peran Orang Tua dan Guru

Orang tua dan pihak sekolah tidak perlu menunggu gejala memburuk sebelum membawa siswa ke fasilitas kesehatan, karena penanganan dini dapat membantu menghentikan penyebaran penyakit.

Orang tua adalah orang pertama yang melihat perubahan pada anak, dari pola makan, berat badan, sampai kebiasaan tidur dan semangat belajar.

Orang tua juga perlu menjaga kebersihan rumah, menyediakan makanan bergizi, dan memastikan anak cukup beristirahat agar daya tahan tubuhnya terjaga, sebab gizi kurang dan sistem imun yang melemah meningkatkan risiko seseorang berkembang sakit tuberkulosis.

Guru dan pengelola sekolah dapat memperhatikan siswa yang sering absen karena sakit, tampak lemas di kelas, atau berat badannya berubah dalam waktu singkat, dan meneruskan pengamatan itu kepada orang tua dan tenaga kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Maluku, dr. Elna Anakotta, mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap anak penderita tuberkulosis dari stigma dan diskriminasi agar mereka tetap bisa belajar, bermain, dan tumbuh sehat.

Kepala UPTD Klinik Utama BKPM Provinsi Maluku dr. Elenora Wattimena menjelaskan bahwa penderita tuberkulosis terbagi dalam dua kategori, yaitu tuberkulosis sensitif obat dan tuberkulosis resisten obat.

Menurut Wattimena, tuberkulosis resisten obat adalah infeksi yang disebabkan bakteri yang kebal obat, terutama pada pasien yang tidak rutin atau berhenti mengonsumsi obat di awal program.

Kegiatan edukasi di sekolah ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-62 pada 12 November 2026.

Kepala SMA Negeri 11 Ambon, Zaskiyah Dwi Saputri, mengatakan edukasi kesehatan di lingkungan sekolah sangat penting agar siswa punya pengetahuan memadai tentang penyakit menular dan pentingnya menjaga kesehatan diri serta lingkungan.

Penutup

Keterlibatan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat diharapkan menjangkau lebih banyak anak, meningkatkan penemuan kasus, serta menekan risiko penularan di lingkungan keluarga dan sekolah.

Penemuan kasus yang lebih banyak bukan sekadar angka di laporan, tetapi berarti lebih banyak anak mendapat pengobatan dan kembali belajar tanpa kehilangan kesempatan.

Karena itu, setiap anak yang menunjukkan gejala perlu segera diperiksakan, dan setiap keluarga berhak memperoleh pelayanan tuberkulosis yang mudah dijangkau.

Kegiatan yang sama seperti yang dilakukan di SMA Negeri 11 Ambon dapat terus berlanjut di sekolah-sekolah lain di Kota Ambon dan kabupaten/kota lain di Maluku, mengikuti rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-62 pada 12 November 2026.