AMBON — Dinas Kehutanan Maluku menyebut kabut asap yang menyelimuti Kota Ambon dalam beberapa hari terakhir bukan murni berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Pulau Ambon, melainkan kiriman dari wilayah lain. Kepala Dinas Kehutanan Maluku Haikal Baadila menyebut Papua sebagai sumber terbesar, disusul sebagian kecil dari Pulau Buru dan Pulau Seram yang sama-sama mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Pernyataan itu disampaikan di Ambon, Kamis (8/10/2026), ketika kabut asap tidak hanya mengganggu warga Kota Ambon, tetapi juga mulai berdampak pada aktivitas sekolah di Kabupaten Seram Bagian Timur. Pada hari yang sama, Pemerintah Kabupaten SBT mengeluarkan imbauan kesehatan bagi warganya agar terlindung dari paparan asap.

Gambar sampul: ilustrasi kabut asap yang menyelimuti permukiman di Teluk Batang, Kalimantan Barat (foto OttaEl / Wikimedia Commons, CC BY 4.0) — bukan foto kejadian di Maluku.

Asap Kiriman, Bukan Murni dari Pulau Ambon

Haikal Baadila menegaskan asap yang ada di Kota Ambon saat ini merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di luar Pulau Ambon. Menurut dia, sebagian besar berasal dari Papua, sementara Pulau Buru dan Pulau Seram menyumbang sebagian kecil. Dengan kata lain, karhutla lokal di Ambon bukan satu-satunya penyebab langit kota yang berkabut belakangan ini.

Karhutla di Pulau Ambon, kata Haikal, masih dalam kondisi yang dapat dikendalikan sehingga belum masuk kategori keadaan darurat. Kategori parah baru diberikan apabila kualitas udara memburuk hingga mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, maupun transportasi. Pada titik itulah status tanggap darurat baru dapat dikeluarkan oleh BNPB atau BPBD. Pernyataan tersebut merujuk pada instrumen status tanggap darurat, sementara Pemerintah Kota Ambon sendiri telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan karhutla melalui Keputusan Wali Kota Nomor 645 Tahun 2026.

Pernyataan Haikal ikut dikutip dua media nasional pada Kamis (8/10/2026). Kompas.com menurunkan berita berjudul kabut asap di Ambon bukan murni dari karhutla lokal, sementara MetroTV memberitakan hal serupa. Keduanya mengutip pernyataan Kepala Dishut Maluku yang sama, sehingga penjelasan asal asap kiriman ini sampai ke pembaca di luar Maluku.

Memantau Titik Panas Setiap Hari

Dishut Maluku memantau perkembangan karhutla di wilayahnya setiap hari menggunakan citra satelit. Pemantauan memanfaatkan aplikasi yang dibangun Kementerian Kehutanan untuk melihat sebaran titik panas di seluruh Maluku. Dengan cara itu, titik panas baru dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Selain pemantauan, Dishut menggelar sosialisasi dan kampanye pencegahan kepada masyarakat di 11 kabupaten dan kota, sekaligus mengintensifkan patroli di wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Daerah yang masuk perhatian antara lain Kabupaten Buru, Seram Bagian Timur, Maluku Tengah khususnya wilayah Seram Utara, Seram Bagian Barat, serta Kepulauan Tanimbar.

Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait terus dijalankan agar setiap titik panas yang terdeteksi dapat segera ditindaklanjuti. Pencegahan dianggap lebih penting daripada pemadaman, mengingat kondisi geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan membuat mobilisasi personel dan peralatan ke lokasi kebakaran selalu membutuhkan waktu.

Sekolah di SBT Menyesuaikan Jam Belajar

Di Kabupaten Seram Bagian Timur, kabut asap sudah memasuki aktivitas sekolah. Pemerintah kabupaten tidak meliburkan sekolah, tetapi memilih menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi udara. Kebijakan ini diambil karena asap kerap lebih pekat pada pagi hari ketika angin belum bergerak.

Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga SBT Halima Arey menjelaskan sejumlah sekolah di Kecamatan Bula Barat sempat menerapkan pergeseran jam belajar dari pagi ke siang selama sekitar satu pekan. Penyesuaian berlaku di Desa Jembatan Basa untuk SD Negeri 9 dan SD Negeri 10, serta di Desa Sumber Agung untuk SD Negeri 8 dan SMP Negeri 37.

Halima mengatakan informasi pergeseran jam belajar itu berasal dari UPTD Kecamatan Bula Barat. "Biasanya pagi itu kabut tebal, asap. Asap tebal itu sampai jam 10, angin sudah jalan baru masuk sekolah," ujarnya. Setelah sepekan berjalan, aktivitas pembelajaran di sekolah-sekolah tersebut kembali normal.

Ia menegaskan belum ada rencana meliburkan sekolah akibat kabut asap, termasuk di Kecamatan Bula dan Kecamatan Teluk Waru yang hingga kini belum terdampak signifikan. Sebagai antisipasi, Dikbudpora SBT meminta setiap sekolah menyediakan masker bagi siswa apabila kondisi udara kembali memburuk, terutama pada pagi hari.

Pemerintah Kabupaten SBT sendiri mengeluarkan lima poin imbauan kepada warga pada Kamis (8/10/2026). Imbauan yang disampaikan Bupati Fachri Husni Alkatiri bersama Wakil Bupati Muhammad Miftah Thoha Rumarey Wattimena itu meminta warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan menghindari aktivitas pembakaran terbuka.

Imbauan yang sama juga meminta warga mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika asap pekat, serta melindungi kelompok rentan dan orang yang memiliki gangguan pernapasan. Warga diminta tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan yang muncul akibat paparan asap, karena kondisi tersebut bisa memburuk bila dibiarkan.

Bagi warga yang mengalami sesak napas, batuk terus-menerus, atau nyeri dada, pemerintah daerah meminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Masker dapat diperoleh melalui fasilitas kesehatan di Kabupaten Seram Bagian Timur bagi warga yang membutuhkan.

Medan Sulit dan Keterbatasan Armada

Penanganan karhutla di Maluku menghadapi tantangan geografis. Haikal Baadila menyebut keterbatasan personel sebagai persoalan, sementara masyarakat justru lebih memahami medan dan lokasi kebakaran di wilayahnya. Karena itu, Dishut membangun kelompok Masyarakat Peduli Api di wilayah rawan kebakaran sebagai garda awal deteksi dan penanganan.

"Yang paling penting adalah keterlibatan masyarakat. Personel kita terbatas, sementara masyarakat lebih mengetahui medan dan lokasi," ujar Haikal Baadila.

Untuk mendukung penanganan awal, Dishut menyalurkan sarana pemadaman sederhana seperti pompa jinjing dan peralatan pemukul api kepada masyarakat. Beberapa kawasan sulit di antaranya Ureng dan Morela, yang topografinya perbukitan berjurang sehingga pemadaman manual sulit dilakukan ketika api sudah menjalar. Di lokasi semacam itu dibutuhkan teknologi dan peralatan yang lebih memadai.

Saat ini Dishut Maluku menyiapkan tiga unit mobil pemadam yang ditempatkan di Ambon, Pulau Buru, dan Pulau Seram. Armada terbatas ini kerap tidak dapat menjangkau kawasan perbukitan atau lokasi yang jauh dari akses jalan. Haikal menegaskan pengendalian kebakaran tidak bisa ditangani satu instansi, melainkan memerlukan kerja sama TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, pemadam kebakaran, masyarakat, dan pelaku usaha yang memiliki wilayah kerja.

Sepanjang awal Oktober 2026, titik karhutla di Pulau Ambon tercatat di kawasan Gunung Nona, Kampung Siwang, Negeri Urimesing, Kahena, Batu Merah, perbukitan Leitimur Selatan, lahan terbuka dan semak belukar di Teluk Ambon, serta Kayu Satu dan Dusun Alinong di Desa Kusu Kusu.

Catatan serupa juga berasal dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon yang menangani 15 kejadian karhutla sepanjang Agustus hingga Oktober 2026. Kebakaran pada periode itu dipengaruhi kemarau panjang dan angin kencang yang membuat api cepat menjalar di lahan kering.

Dampak yang Sudah Tercatat di Ambon

Kabut asap di Maluku bukan hanya soal penampilan kota. Pada Rabu (7/10/2026), tiga pesawat yang menuju Bandara Domine Eduard Osok di Sorong gagal mendarat dan mengalihkan pendaratan ke Bandara Pattimura di Ambon karena jarak pandang anjlok di bawah batas keselamatan. Pada hari yang sama, kabut asap di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, menunda dua penerbangan pagi.

Pesawat yang mengalihkan pendaratan ke Pattimura pada Rabu pagi itu adalah Lion Air JT940, Garuda Indonesia GA682, dan Batik Air ID7797. Ketiganya dijadwalkan mendarat di Sorong antara pukul 06.00 hingga 06.35 WIT, tetapi harus mendarat di Ambon antara 06.55 hingga 07.20 WIT. Manajer Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong menyebut jarak pandang di Sorong pagi itu turun hingga sekitar 2.000 meter, jauh di bawah kebutuhan pendaratan aman.

Gangguan serupa sudah terjadi sejak awal pekan. Pada Senin (5/10/2026) tiga pesawat tidak dapat masuk ke Sorong, dengan dua penerbangan dialihkan ke Biak dan satu ke Ambon. Sehari kemudian dua penerbangan rute Jakarta-Sorong kembali memilih mendarat di Ambon. Situasi ini menempatkan Bandara Pattimura sebagai alternatif utama ketika kabut asap memadat di wilayah timur.

Kualitas udara di Ambon sempat masuk zona tidak aman pada awal Oktober. Data Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon mencatat konsentrasi ozon mencapai 178 mikrogram per meter kubik pada Minggu (4/10/2026) pukul 11.00 WIT. Angka itu melampaui baku mutu 150 mikrogram per meter kubik untuk paparan satu jam sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.

Sehari sebelumnya, Sabtu (3/10/2026) pukul 12.00 WIT, konsentrasi ozon di kota yang sama juga tercatat 178 mikrogram per meter kubik. Parameter pencemar lain masih di bawah baku mutu, dengan PM2.5 terukur 17 mikrogram per meter kubik dari batas 55, dan PM10 sebesar 12 dari batas 75. Kepala DLHP Kota Ambon Apries B Gaspersz menyatakan status udara tidak aman pada pembacaan sesaat SPKUA tersebut.

Sementara itu, Pemerintah Kota Ambon telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan karhutla untuk tahun 2026 melalui Keputusan Wali Kota Nomor 645 Tahun 2026. Penetapan itu memuat 12 lokasi kebakaran dan tujuh titik air kering yang saling memperberat satu sama lain, dari penyusutan pasokan air bersih sampai bertambahnya titik kebakaran di lahan kosong.

Kaji Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Ambon mencatat kebakaran hutan dan lahan di 12 lokasi, sementara tujuh lokasi lain mengalami kekurangan air bersih akibat kekeringan. Kaji tersebut juga mencatat satu korban jiwa akibat kebakaran yang berasal dari Negeri Hative Besar. Untuk kebutuhan dasar warga, BPBD Kota Ambon bersama Perumdam Tirta Yapono menyalurkan air bersih ke wilayah terdampak.

Di lapangan, api kembali muncul di kawasan Gunung Nona pada Selasa (6/10/2026). Damkar Kota Ambon menerima laporan pukul 13.29 WIT, menurunkan satu unit bersama 15 personel, dan berhasil mengendalikan api pada 16.17 WIT. Kebakaran Gunung Nona sendiri tercatat terjadi berulang dalam beberapa hari sebelumnya.

Kebakaran Gunung Nona pada 3-4 Oktober menjadi salah satu penyebab lokal yang paling terasa. Damkar Kota Ambon menerima laporan pertama pukul 18.47 WIT Sabtu (3/10), tiba di lokasi 19.03 WIT dengan satu unit dan 40 personel, lalu memadamkan seluruh titik api dalam kurang lebih tujuh jam hingga situasi dinyatakan aman Minggu (4/10) pukul 02.23 WIT.

Kebakaran itu kemudian menyebarkan asap ke area luas. Aktivis lingkungan GardaMaluku Rani Ayu menyebut angin kencang membawa asap kebakaran meliputi seluruh Kota Ambon pada hari-hari tersebut. Pernyataan itu menegaskan bahwa asap lokal tetap berperan, sekaligus sejalan dengan penjelasan Dishut bahwa asap di Ambon kini merupakan gabungan dari sumber lokal dan kiriman wilayah lain.

Kemarau Panjang di Latar Belakang

BMKG dalam prakiraan cuaca mingguan periode 25 September sampai 1 Oktober 2026 mencatat kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia. Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau di banyak daerah, sementara wilayah Maluku dan Papua tercatat menghasilkan 129 titik panas pada pemantauan 24 September 2026.

Kondisi kering sejalan dengan pantauan Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem yang berlangsung lama di sebagian wilayah Indonesia selama musim kemarau. Pada akhir September hingga awal Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, sehingga potensi kebakaran dan sebaran asap tetap menjadi perhatian.

Stasiun Klimatologi Kelas III Maluku memprediksi musim kemarau di Ambon berlangsung sepanjang 2026 hingga awal 2027, dengan puncak pada September hingga November 2026. Prediksi itu membuat potensi titik api perlu terus diwaspadai selama beberapa pekan ke depan, sebelum musim hujan datang.

BMKG melalui Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan yang diperbarui Senin (5/10/2026) juga mengingatkan potensi karhutla di wilayah Maluku. Pembaruan harian itu memuat indeks kekeringan bahan bakar permukaan tanah, mulai dari Fine Fuel Moisture Code yang berada pada kategori sedang hingga sangat mudah, hingga Fire Weather Index yang menunjukkan intensitas api kategori sedang hingga sangat tinggi.

Wilayah yang masuk pantauan Dishut Maluku, termasuk Seram Bagian Timur, adalah kawasan yang kini merasakan langsung akibat kekeringan panjang. Di sana, asap kebakaran tidak hanya menurunkan jarak pandang, tetapi juga mengganggu rutinitas warga mulai dari sekolah hingga kegiatan luar ruangan lainnya.

Yang Perlu Dilakukan Warga

Langkah dasar yang sama dengan imbauan Pemkab SBT relevan bagi warga Ambon dan sekitarnya: menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, mengurangi kegiatan di luar ruangan saat asap pekat, dan tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan. Kelompok lanjut usia, anak-anak, serta penderita asma dan gangguan pernapasan perlu mendapat perlindungan ekstra.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon mengimbau warga membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara menurun. Imbauan itu sejalan dengan langkah pemerintah kabupaten dan kota lain di Maluku yang tengah mengatur ulang aktivitas warga di tengah kabut asap.

Warga juga diminta mengikuti informasi resmi dari Dishut Maluku, Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon, BMKG, serta pemerintah daerah masing-masing sebelum menyebarkan kabar tentang asap dan kebakaran. Di sisi lain, setiap titik panas atau kebakaran kecil yang terlihat di sekitar permukiman segera dilaporkan ke petugas agar dapat ditangani sebelum meluas.

Di Ambon, warga juga dapat memantau kondisi udara melalui pembacaan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien milik Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan yang dipantau secara rutin. Informasi tersebut menjadi rujukan saat menentukan aktivitas luar ruangan pada pagi dan siang hari.

Langkah ke Depan

Pemantauan satelit harian, patroli di wilayah rawan, dan keterlibatan masyarakat menjadi tiga sandaran utama yang kini diandalkan Dishut Maluku. Mengingat asap yang menyelimuti Ambon berasal dari luar Pulau Ambon, kondisi kabut di kota itu sangat bergantung pada perkembangan kebakaran di wilayah lain, bukan hanya pada penanganan lokal.

Selama musim kemarau berlangsung, Dishut Maluku menegaskan pencegahan tetap menjadi langkah utama karena penanganan di lapangan selalu terhambat jarak dan medan. Masyarakat di wilayah rawan diminta menjadi mata bagi petugas sejak api muncul, agar kebakaran kecil tidak berubah menjadi kebakaran besar.