Kota Ambon — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon mencatat enam peristiwa kebakaran lahan dan hutan dalam rentang 23 hingga 29 September 2026. Titik-titik api itu tersebar di empat kecamatan, dan sebagian berlangsung sangat dekat dengan rumah tinggal warga. Api di kota ini tidak datang sekaligus. Ia muncul bergantian, di kawasan yang berbeda, dengan selisih waktu yang kadang hanya beberapa jam. Pada Selasa, 29 September, misalnya, petugas menutup tiga kejadian api di tiga kecamatan berbeda dalam rentang waktu yang tidak lama.
Kepala Damkar Kota Ambon Alfredo Hehamahua telah meminta warga agar lebih waspada. Pada 16 September lalu, ia mengingatkan warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Api yang lolos dari pengawasan singkat di halaman rumah bisa naik ke lahan kosong di belakang, lalu merambat ke pepohonan yang lebih tinggi dan lebih kering.
Enam kebakaran dalam tujuh hari
Kebakaran pertama tercatat pada Rabu, 23 September 2026, di kawasan Kayu Tiga, Negeri Soya, Kecamatan Sirimau. Menurut keterangan Damkar, api bermula dari kegiatan warga yang membakar sampah lalu menyebar ke kawasan hutan di sekitarnya. Api padam sepenuhnya pada pukul 14.29 WIT. Kejadian kedua berlangsung lebih lama. Api muncul di Kezia, Dusun Siwang, Negeri Urimessing, Kecamatan Nusaniwe, sejak Sabtu malam, 26 September, dan berlanjut sampai Minggu, 27 September 2026. Di kawasan itu ditemukan dua titik api yang terpisah.
Pagi Minggu, titik api baru kembali muncul sehingga jumlah armada yang dikirim naik dari satu menjadi dua unit. Sekitar 12 personel Damkar sempat diterjunkan di lokasi itu. Salah satu titik api berhasil dipadamkan. Titik lainnya berada di lereng bukit dekat permukiman dan masih ditangani hingga Minggu sore. Air yang tersedia dinilai belum memadai oleh petugas di lapangan. Karena itu, bantuan tangki air dibutuhkan saat itu. Kolom asap dari lokasi itu terlihat sampai kawasan Kudamati. Pemadaman di kawasan itu berlangsung bersama antara Damkar dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Ambon.
Pada Minggu, 27 September 2026, sekitar pukul 11.00 WIT, kolom asap terlihat di kawasan Gunung La Uwa, Mangga Dua, Kelurahan Urimessing, Kecamatan Nusaniwe. Yang terbakar di sana adalah rumpun bambu dan pepohonan. Area itu berada sangat dekat dengan pemukiman warga, sehingga mereka turun tangan sebelum armada tiba. Warga RT 001/03 memadamkan api secara mandiri dengan alat seadanya. Mereka memotong bambu untuk membuat jalur pemutus api sebagai upaya melindungi rumah dan makam Air Mata Cina di Ponegoro.
Tanpa menunggu lama, tiga armada pemadam kota tiba sekitar tiga puluh menit kemudian. Api berhasil dikendalikan sebelum mencapai pemukiman. Pada Senin, 28 September 2026, Damkar Kota Ambon menerima laporan kebakaran lahan di Kezia, Kecamatan Nusaniwe. Laporan itu masuk pada pukul 12.15 WIT. Petugas tiba di lokasi lima belas menit kemudian, pukul 12.30 WIT. Dua armada dan 26 personel terlatih dikirim dari Markas Komando. Api padam pada pukul 15.45 WIT. Hari berikutnya, Selasa, 29 September 2026, menjadi hari paling padat.
Damkar mencatat tiga kebakaran lahan di tiga kecamatan berbeda. Yang pertama dilaporkan pukul 16.40 WIT di Negeri Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon. Petugas tiba tujuh menit kemudian, pukul 16.47 WIT. Di Tawiri, satu armada dari Pos Hative Besar menangani api tersebut. Api padam pukul 17.40 WIT, sekitar satu jam sejak petugas tiba. Api kedua muncul di Kampung Nahel, Negeri Amahusu, Kecamatan Nusaniwe. Laporan masuk pukul 16.07 WIT dan petugas tiba pada pukul 16.45 WIT. Dua armada dari Markas Komando menangani api di sana.
Pemadaman baru selesai pukul 18.38 WIT, setelah lebih dari dua jam penyapuan area bekas api. Api ketiga pada hari yang sama muncul di Kampung Rinjani, Kawasan Ahuru, Negeri Batu Merah, Kecamatan Sirimau. Laporan masuk pukul 17.53 WIT. Petugas baru tiba di lokasi pada pukul 18.58 WIT, hampir satu jam setelah laporan diterima. Dua armada dari Markas Komando langsung bekerja di sana. Api di Rinjani baru dinyatakan padam pada pukul 21.10 WIT. Penanganan di sana memakan waktu lebih dari dua jam sejak petugas tiba.
Sebagian besar berawal dari cara membuka lahan
Penyebab tidak selalu jelas pada setiap kejadian. Pada kebakaran Kayu Tiga di Sirimau, api bermula dari kegiatan membakar sampah. Pada tiga kebakaran di hari terakhir, yaitu Tawiri, Kampung Nahel, dan Kampung Rinjani, Damkar belum mengeluarkan keterangan resmi tentang pemicu api. Yang paling jelas keterangan pemicunya adalah kebakaran Gunung La Uwa pada 27 September. Menurut laporan polisi, seorang warga berinisial Rely Noya, 54 tahun, sedang membersihkan halaman rumahnya. Menurut keterangan Kapolsector Nusaniwe, Iptu Rudy Ahab, barang bekas itu direndam dalam kerosene lalu dinyalakan dengan korek api.
Api itu dinyalakan sekitar sepuluh meter dari rumah tersebut. Lima menit kemudian, asap sudah terlihat. Api sudah merambat ke rumput kering dan rumpun bambu di sekitarnya. Warga yang disebut dalam laporan itu meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut. Kronologi La Uwa menunjukkan hal yang paling perlu diwaspadai. Api kecil di halaman rumah bisa menjadi kebakaran lahan dalam hitungan menit, tanpa ada yang menyangka.
Apa artinya bagi warga
Enam kejadian dalam tujuh hari bukan angka yang kecil. Berikutnya, api muncul lagi di tempat yang tidak selalu jauh dari pemukiman. Warga di kawasan paling rentan sering kali tidak menunggu armada. Di Gunung La Uwa, mereka memotong bambu untuk membuat jalur pemutus api sementara tiga armada kota belum tiba. Kendala air pernah menjadi masalah saat pemadaman berlangsung, seperti yang terjadi di Kezia, Dusun Siwang, Kecamatan Nusaniwe. Petugas sempat membutuhkan bantuan tangki air di lokasi itu.
Perbedaan waktu tiba petugas juga menjadi sorotan di beberapa lokasi. Di Rinjani, laporan masuk pukul 17.53 WIT, tetapi petugas baru tiba pukul 18.58 WIT. Sebaliknya, di Kampung Nahel, petugas tiba 38 menit setelah laporan masuk. Di Tawiri, waktu tempuh hanya tujuh menit. Warga yang tinggal di dekat lahan kosong berada di garis depan yang paling dekat dengan api. Di empat dari enam kejadian, titik api berada di kawasan yang sudah dihuni padat. Kayu Tiga di Sirimau, Kezia di Nusaniwe, Gunung La Uwa di Mangga Dua, dan Kampung Nahel di Amahusu semuanya berada di kawasan permukiman.
Di dua lokasi, api bahkan muncul sangat dekat dengan halaman rumah. Selain itu, ada hal lain yang perlu diperhatikan: kecepatan api dalam memanjang pada hari-hari yang sangat kering. Kasus Gunung La Uwa menjadi contoh paling jelas. Dalam lima menit, api yang dinyalakan dengan korek di halaman rumah sudah sampai ke rumput dan bambu di luar pagar. Hal yang sama terjadi di Kayu Tiga. Sampah yang dibakar di dekat rumah kemudian merambat ke kawasan hutan di sekitarnya.
Kedua kasus itu punya kesamaan yang jelas: api dimulai dari kegiatan rumah tangga, bukan dari kebakaran yang sudah terjadi di hutan. Karena itu, sebagian besar awalan kebakaran lahan di kota ini bisa dicegah dengan kebiasaan sederhana di halaman rumah masing-masing.
Catatan yang belum terjawab
Meskipun seluruh titik kebakaran sudah padam, beberapa pertanyaan dasar mengenai rentang kejadian 23 sampai 29 September itu belum terjawab. Yang pertama adalah luas area terbakar. Sampai saat ini belum ada angka resmi yang dipublikasikan untuk satu pun dari enam lokasi yang ditangani. Kedua adalah penyebab kebakaran di Tawiri, Kampung Nahel, dan Kampung Rinjani. Untuk ketiga lokasi itu belum ada penjelasan resmi yang bisa disampaikan ke publik. Ketiga, dari enam kejadian hanya Gunung La Uwa yang menghasilkan identitas seorang warga beserta keterangan polisi tentang asal api.
Keempat, waktu tanggap sangat berbeda antar lokasi. Sebagian tim tiba dalam hitungan menit, sebagian lain baru hampir sejam setelah laporan diterima. Selisih seperti itu belum dijelaskan secara resmi. Belum ada keterangan yang menyatakan apakah penyebabnya kondisi jalan, ketersediaan air, atau hal lain. Pertanyaan itu penting, sebab menjadi dasar penilaian apakah pola kebakaran menjelang akhir September ini masih bisa dicegah atau justru akan terulang pada bulan berikutnya.
Membersihkan halaman tanpa membuat api
Tidak perlu alat mahal untuk membuat jalur pemutus api. Cukup dengan membersihkan lahan kosong di sekeliling rumah dari rumput kering dan sampah yang menumpuk. Bila perlu membakar barang bekas, langkah paling aman adalah memindahkan barang itu ke tempat terbuka yang jauh dari rumah, lalu menunggu hingga api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Hal penting lain adalah memberi tahu tetangga. Api kecil yang baru terlihat dari satu rumah bisa sudah menjadi masalah bagi rumah sebelah. Pada kasus Gunung La Uwa, warga di sekitar lokasi turun tangan memadamkan api secara mandiri sebelum armada kota tiba.
Mereka menggunakan alat sederhana dan membuat jalur pemutus api di antara rumpun bambu. Upaya seperti itu tidak mungkin diulang setiap kali. Kondisi lahan dan kondisi angin bisa membuat api naik ke dalam kanopi, lalu melompati jalur pemutus api yang dibuat warga. Karena itu, pengalaman dua kejadian pada 27 September menjadi pelajaran yang tidak boleh diulang: satu di Kezia, Dusun Siwang, dan satu di Gunung La Uwa, Mangga Dua, keduanya berada di Kecamatan Nusaniwe. Di kedua lokasi itu, waktu yang dibutuhkan untuk menangani api sama sekali berbeda.
Di Kezia, api sudah muncul sejak Sabtu malam dan baru tuntas pada Minggu sore. Di Gunung La Uwa, api terlihat sekitar pukul 11.00 WIT dan sudah dikendalikan sebelum mencapai pemukiman. Perbedaan itu ditentukan oleh siapa yang menemukan api lebih dulu, dan seberapa cepat tindakan diambil. Karena alasan itu, waktu tanggap menjadi hal yang paling menentukan. Menit-menit pertama adalah waktu ketika api masih bisa dipadamkan dengan alat sederhana.
Medan yang menyulitkan pemadaman
Bagian tersulit dari pekerjaan petugas adalah memadamkan api di titik yang tidak mudah dijangkau dengan armada. Di Kezia, Dusun Siwang, salah satu titik api berada di lereng bukit. Armada harus mencari jalan naik terlebih dahulu sebelum air bisa disiramkan. Setelah api terlihat padam, pekerjaan belum selesai. Petugas masih menyapu area bekas api untuk memastikan tidak ada bara yang menyala kembali. Di Kampung Nahel, penyapuan itu berlangsung lebih dari dua jam. Di Kampung Rinjani, waktunya hampir sama panjang.
Angka jam kerja itu lebih besar daripada selisih antara laporan masuk dan petugas tiba. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk memastikan api benar-benar tidak kembali.
Apa yang terjadi pada hari-hari sebelumnya
Rangkaian kebakaran pada 23 sampai 29 September bukan kejadian pertama pada bulan itu. Pada 14 September 2026, tim Damkar Kota Ambon menangani kebakaran hutan di kawasan hutan Kanawa dalam kompleks Banda El. Keperistiwa itu dilaporkan oleh RRI. Delapan hari kemudian, pada 16 September, dua kebakaran lahan dilaporkan dalam malam yang sama di Kota Ambon. Yang pertama terjadi di Gunung Nona, Kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe. Luasnya diperkirakan satu sampai dua hectare dan membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk dikendalikan.
Api padam sekitar pukul 22.00 WIT. Yang kedua terjadi di Negeri Soya, Kecamatan Sirimau, dengan laporan masuk pukul 18.58 WIT. Angka satu sampai dua hectare itu merujuk Gunung Nona, bukan kepada enam kejadian pada 23 sampai 29 September. Pada 16 September yang sama, kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon meminta warga agar lebih waspada. Pada 21 September, TVRI Maluku dan Tribun Ambon sama-sama melaporkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan telah menjangkau beberapa wilayah Kota Ambon sepanjang Agustus dan September 2026.
Deretan kejadian pada dua minggu terakhir adalah kelanjutan, bukan awal.
Kondisi kering di Ambon
Kondisi kering di Maluku sepanjang Agustus meninggalkan dampak yang nyata di beberapa bagian Kota Ambon. Salah satu dampaknya terlihat pada tersedianya air bagi warga. Balai Wilayah Sungai Maluku telah menyalurkan air bersih sebanyak 18.000 liter kepada warga setempat. Penyaluran itu menyasar warga Dusun Nahel, Gunung Nona, dan Negeri Amahusu, dan sudah selesai sampai 27 Agustus 2026. Menurut keterangan resmi, penyebabnya adalah keterbatasan air yang tersedia di setempat. Sebelum itu, sudah ada pembagian air dalam jumlah yang lebih kecil di wilayah yang sama.
Perlu dicatat, Dusun Nahel di Gunung Nona adalah kawasan yang sama dengan salah satu titik kebakaran pada 29 September. Rumput dan bambu yang kering membuat kedua bahan itu jauh lebih mudah terbakar. Namun belum ada keterangan resmi yang menyatakan secara langsung bahwa kekeringan itulah pemicu kebakaran lahan pada 23 sampai 29 September. Kondisi kering ini sebaiknya dibaca sebagai latar yang membuat kebakaran lebih mudah terjadi, bukan sebagai penyebab yang sudah dipastikan.
Cakupan pekerjaan pemadam
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon menjalankan beberapa pos pemadam di berbagai kecamatan. Di antara pos tersebut ada Markas Komando dan Pos Hative Besar, serta beberapa pos di tingkat lingkungan. Pada 29 September, tiga kebakaran terpisah harus ditangani pada waktu yang hampir bersamaan, masing-masing di kecamatan yang berbeda. Artinya, tim dan air pemadam harus dibagi ke beberapa arah sekaligus. Kondisi seperti ini juga berkaitan erat dengan waktu tanggap yang berbeda jauh antar lokasi. Pada dua kesempatan, warga bertindak lebih dulu sebelum tim Damkar tiba di lokasi.
Tindakan cepat warga itu penting, tetapi sistem tanggap juga bergantung pada pelaporan dini dan akses yang cukup untuk kendaraan pemadam. Enam kejadian itu terjadi di empat kecamatan. Sisanya, Kecamatan Nusaniwe, mencatat tiga api dalam sepekan, dua di antaranya pada hari yang sama. Catatan itu penting untuk melihat pola. Api di Nusaniwe muncul di dua titik pada 27 September, lalu muncul lagi di Kampung Nahel pada 29 September. Dengan kata lain, satu kawasan bisa menjadi titik api berulang, bukan sekali lalu selesai.
Yang perlu diperhatikan warga
Pertama, jangan membakar lahan, termasuk untuk membersihkan halaman. Peringatan itu sudah disampaikan berulang kali oleh kepala Damkar Kota Ambon. Kedua, bila menemukan api kecil, laporkan lebih awal. Menunda beberapa menit saja bisa membuat api merambat ke lahan dan pepohonan yang lebih kering. Ketiga, bagi warga yang tinggal berdekatan dengan lahan kosong, bersiaplah lebih awal. Menyiapkan jalur pemutus api sederhana jauh lebih murah daripada menunggu api merambat ke rumah. Keempat, waktu tanggap petugas juga perlu dipantau.
Selisih antara laporan diterima dan kedatangan petugas di lapangan bervariasi, dari tujuh menit di Tawiri hingga satu jam di Rinjani. Prinsipnya sederhana: api kecil yang belum merambat masih mudah dipadamkan. Setelah masuk ke rumput kering dan bambu, penanganannya menjadi jauh lebih berat. Hal itu terlihat jelas di Gunung La Uwa pada 27 September. Dalam waktu lima menit, api yang dinyalakan untuk membersihkan halaman sudah naik ke rumput kering dan rumpun bambu. Warga di sana sempat membuat jalur pemutus api dan menutup akses ke arah rumah dan makam.
Tanpa tindakan itu, dampaknya bisa jauh lebih besar. Warga di Kayu Tiga membakar sampah. Warga di Gunung La Uwa membersihkan halaman dengan cara membakar barang bekas. Keduanya adalah kegiatan yang terlihat sepele, dan keduanya berakhir dengan api yang harus ditangani puluhan orang.
Perkembangan terbaru
Sampai berita ini ditulis, seluruh enam titik api tersebut sudah dinyatakan padam oleh Damkar Kota Ambon. Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerugian rumah. Yang tersisa hanyalah lahan dan semak yang masih hangus di beberapa titik. Luas lahan yang terbakar belum ada angka resmi yang dipublikasikan. Yang perlu dicatat, pola api di Ambon pada akhir September ini selalu berdekatan dengan pemukiman. Empat dari enam kejadian berada di kelurahan dan negeri yang padat, beberapa di antaranya bersentuhan langsung dengan halaman rumah warga.
Di dua dari kejadian itu, warga sekitar ikut menangani api sebelum armada kota tiba. Keberhasilan itu tidak dapat diulang setiap kali. Selama enam kebakaran itu belum terjadi, satu pola sudah berulang: api dimulai dari hal kecil di dekat rumah, lalu berpindah ke lahan dan pepohonan yang lebih kering. Petugas Damkar Kota Ambon akan terus memantau laporan api di seluruh kawasan. Untuk warga, langkah paling sederhana tetap sama: jangan membakar apa pun di lahan kosong, dan laporkan api kecil sebelum menjadi besar.
Enam kebakaran itu sudah padam. Yang menentukan apakah muncul lagi, atau tidak, adalah kebiasaan kecil yang dilakukan warga di halaman rumah masing-masing.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.