Festival ekonomi kreatif tahunan Bank Indonesia Provinsi Maluku kembali bergulir. Maluku Manggurebe 2026 memasuki hari pembukaannya di Taman Pattimura, Kota Ambon, setelah sehari sebelumnya rangkaian pra-acara sudah berjalan lebih dulu.
Seremoni pembukaan resmi kegiatan tahun keenam itu dijadwalkan pada Jumat (9/10/2026). Meski begitu, arena festival sudah hidup sejak Kamis (8/10/2026) melalui sejumlah talk show, lomba, dan agenda komunitas yang dibuka untuk umum tanpa tiket.
Maluku Manggurebe 2026 berlangsung tiga hari, dari Kamis hingga Sabtu, 8 sampai 10 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian nasional Karya Kreatif Indonesia yang digelar Bank Indonesia di berbagai provinsi.
Tema yang diusung tahun ini berkisar pada kreativitas dan inovasi usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Fokusnya bukan sekadar pameran produk, melainkan pertemuan antara pelaku usaha, perbankan, komunitas, dan pemangku kepentingan ekonomi daerah.
Pembukaan Resmi Setelah Sehari Pra-acara
Panitia menegaskan bahwa tanggal 8 Oktober adalah rangkaian pra-acara. Masyarakat yang datang pada hari pertama tetap bisa mengikuti sejumlah kegiatan, termasuk talk show dan perlombaan, tanpa menunggu seremoni resmi.
Pembukaan resmi baru dijadwalkan pada Jumat (9/10/2026). Pembagian jadwal ini disampaikan agar warga tidak salah memahami agenda dan tetap bisa memanfaatkan hari pertama yang berstatus acara bebas.
Sejumlah agenda lomba sudah disiapkan sejak awal. Ada lomba flash mob, lomba stand up comedy, lomba ranking satu, serta lomba foto dan video. Perlombaan flash mob dijadwalkan berlangsung pada 9 Oktober, setelah pendaftaran dan technical meeting digelar lebih dulu pada akhir September hingga awal Oktober.
Panggung bagi UMKM dan Ekonomi Kreatif
Arena festival diisi puluhan stan yang menampilkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah. Pelaku usaha yang terlibat mencakup UMKM mitra dan binaan Bank Indonesia, UMKM binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah, UMKM dampingan perbankan, pelaku ekonomi kreatif, hingga komunitas.
Produk yang dipamerkan beragam, mulai dari kuliner olahan, wastra dan kain tradisional, pakaian siap pakai, kerajinan tangan, sampai produk berbasis potensi lokal Maluku. Sejumlah kabupaten dan kota ikut membawa produk unggulan daerah masing-masing melalui dekranasda setempat.
Selain pameran, panitia menyiapkan ruang promosi yang lebih luas melalui kegiatan live selling. Cara ini dinilai membantu pelaku usaha kecil menjangkau pembeli di luar Kota Ambon tanpa harus menambah biaya promosi.
Rangkaian pameran juga disertai fashion show yang menampilkan karya perancang dan perajin lokal. Kegiatan itu menjadi kesempatan memperlihatkan bahwa produk berbasis budaya Maluku punya tempat di pasar yang lebih luas.
Talk Show, Komunitas, dan Ruang Ekspresi
Sepanjang tiga hari, sejumlah talk show digelar dengan tema ekonomi kreatif, ekonomi hijau, ekonomi generasi Z, sistem pembayaran, hingga bedah buku. Agenda komunitas juga mendapat porsi, mulai dari pertunjukan hingga kegiatan bersama.
Bank Indonesia menyebut ruang bagi komunitas ini penting agar festival tidak berhenti pada urusan jual beli. Komunitas diberi kesempatan menampilkan kreativitas mereka di panggung yang sama dengan pelaku usaha.
Salah satu agenda yang menyita perhatian adalah workshop ekonomi hijau. Peserta diajak melihat bagaimana sampah dan bahan sisa bisa diolah menjadi produk yang punya nilai guna dan nilai jual.
Pendekatan itu kemudian dipadukan dengan fashion show bertema pemanfaatan bahan daur ulang. Tujuannya menegaskan bahwa usaha ramah lingkungan bukan sekadar wacana, melainkan bisa menjadi peluang usaha baru bagi warga.
Festival yang Tumbuh Bersama Digitalisasi
Maluku Manggurebe bukan kegiatan sekali jadi. Sejak penyelenggaraan kelima pada 2 sampai 4 Oktober 2025, festival ini sudah mempertemukan puluhan UMKM unggulan dengan perbankan dan instansi pendukung dalam satu arena di Taman Pattimura.
Pada 2025, festival diikuti 58 UMKM yang bergerak di sektor makanan dan minuman, wastra, pakaian siap pakai, serta produk kerajinan. Bank Indonesia bersama Dekranasda Provinsi Maluku dan dekranasda tujuh kabupaten dan kota menampilkan produk unggulan daerah.
Bank Indonesia melaporkan pada semester pertama 2025 terdapat sekitar 97,2 ribu merchant dan 153,3 ribu pengguna QRIS di Maluku, dengan nilai transaksi mencapai Rp661 miliar. Angka itu menjadi salah satu dasar perluasan akseptasi pembayaran digital di daerah.
Perkembangan terbaru menunjukkan angka tersebut belum berhenti tumbuh. Hingga Agustus 2026, pengguna QRIS di Maluku tercatat 187.420 orang, volume transaksi mencapai 16,5 juta, dan jumlah merchant lebih dari 121 ribu.
Bank Indonesia Provinsi Maluku menilai capaian itu sebagai bagian dari percepatan digitalisasi sistem pembayaran di daerah. Elektronifikasi transaksi pemerintah daerah juga terus didorong karena merupakan salah satu instrumen untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi tata kelola daerah, seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Maluku bersama pemerintah provinsi sudah masuk ke dalam ekosistem digitalisasi transaksi. Tiga daerah berada pada kategori maju, dan Kota Ambon termasuk di dalamnya.
Pada Rapat Koordinasi Nasional TPID dan TP2DD 24 September 2026, Kabupaten Maluku Barat Daya meraih peringkat pertama sebagai daerah terbaik dalam percepatan dan perluasan digitalisasi untuk wilayah Nusantara, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Provinsi Maluku sendiri memperoleh peringkat ketiga untuk kategori provinsi terbaik di wilayah yang sama.
Ketika Kuliner dan Kriya Bertemu Pasar
Bagi Maluku, ekonomi kreatif bukan istilah baru. Dinas Koperasi dan UKM Maluku menyebut ada lebih dari 85 ribu pelaku UMKM di provinsi ini, dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik regional bruto nonmigas.
Produk yang selama ini menjadi andalan antara lain kerajinan anyaman, tenun ikat, kuliner khas daerah, olahan rempah pala, minyak kayu putih, hingga fesyen dan aksesori berbahan baku lokal.
Sektor kuliner dan kriya memang menjadi tulang punggung ekonomi kreatif, baik di Maluku maupun secara nasional. Karena itu festival seperti Maluku Manggurebe diposisikan sebagai ruang memperpendek jarak antara perajin kecil dan calon pembeli.
Kopi, Barista Juara, dan Cerita Rasa
Salah satu agenda yang dijadwalkan pada hari pertama adalah sesi Take Over Manual Brew di Taman Pattimura, Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini direncanakan menghadirkan Patrik Vinsensius, Indonesia Barista Champion 2023, untuk berbagi pengalaman sekaligus memperagakan teknik menyeduh manual.
Sesi tersebut terbuka untuk umum dan tidak berbayar. Penikmat kopi di Ambon bisa melihat langsung bagaimana seorang juara meracik seduhan, mulai dari memilih ukuran gilingan, mengatur suhu air, sampai menuang air dengan ritme tertentu.
Bagi pelaku usaha kedai kopi dan kafe kecil, agenda semacam ini bukan hanya tontonan. Pengetahuan tentang penyeduhan yang konsisten berhubungan langsung dengan mutu produk, dan mutu produk menentukan apakah sebuah usaha bisa mempertahankan pelanggan.
Kopi juga menjadi contoh bagaimana rantai nilai ekonomi kreatif bekerja. Biji kopi dari kebun berjumpa barista, kedai, konsumen, dan sistem pembayaran digital dalam satu ekosistem yang saling menopang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pra-acara yang sudah berjalan sebelum seremoni pembukaan. Panitia menempatkannya pada hari pertama agar masyarakat punya alasan datang lebih awal.
Pintu Pendanaan untuk Usaha Ramah Lingkungan
Pada hari yang sama, Maluku Manggurebe 2026 juga menjadi ruang perkenalan skema pendanaan lingkungan hidup. Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup hadir dalam kegiatan ini untuk memperkenalkan peluang pembiayaan yang mendukung pengembangan usaha masyarakat.
Badan tersebut merupakan unit di lingkungan Kementerian Keuangan yang menghimpun dan menyalurkan dana untuk perlindungan serta pengelolaan lingkungan hidup, termasuk pengendalian perubahan iklim, konservasi, pengelolaan limbah, dan penerapan teknologi ramah lingkungan.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Maluku mengundang sejumlah pihak dalam pertemuan itu, antara lain Kepala Biro Administrasi Pembangunan Provinsi Maluku, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku, dan Kepala Balai Perhutanan Sosial Ambon.
Pertemuan tersebut membahas kesesuaian program daerah dengan skema pendanaan, termasuk fasilitas dana bergulir. Bidang yang diidentifikasi mencakup kehutanan, perhutanan sosial, rehabilitasi hutan dan lahan, serta pengelolaan lingkungan di Maluku.
Bagi pelaku usaha, kehadiran lembaga pendanaan di arena festival membuka kemungkinan menjajaki inovasi yang menghemat energi, menekan timbulan limbah, dan menaikkan nilai tambah produk berbasis potensi lokal.
Maluku sendiri sudah punya contoh konkret pemanfaatan pendanaan lingkungan. Proyek SIRKULA, yaitu sistem inovasi teknologi rempah berkelanjutan di Kabupaten Seram Bagian Barat, memperoleh dukungan dana inovasi rendah karbon. Proyek itu mengembangkan pengolahan pascapanen, pemanfaatan limbah produksi, dan akses pasar bagi produk rempah.
Selain itu, Provinsi Maluku memperoleh alokasi Rp18,32 miliar melalui program pembayaran berbasis hasil penurunan emisi dari sektor kehutanan. Program itu melibatkan lembaga perantara dan mencakup penguatan kesatuan pengelolaan hutan, rehabilitasi hutan dan lahan, program kampung iklim, serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Nilai tersebut merupakan alokasi program, sehingga pelaksanaan dan pencairannya tetap mengikuti mekanisme pendanaan yang berlaku. Informasi ini perlu dipahami secara tepat agar tidak dibaca sebagai dana yang langsung diterima masyarakat.
Peluang lain yang bisa dijajaki antara lain pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, usaha hasil hutan bukan kayu, karbon biru, ketahanan iklim, air bersih, ketahanan pangan, dan penggunaan energi bersih dalam kegiatan produksi.
Dampak bagi Warga Ambon
Bagi warga Kota Ambon, festival ini berdampak paling langsung pada tiga hal. Pertama, akses membeli produk lokal dalam satu lokasi selama tiga hari. Kedua, ruang usaha bagi pedagang kecil yang biasanya hanya mengandalkan pembeli di lingkungan sekitar. Ketiga, hiburan dan kegiatan komunitas yang terbuka bagi umum.
Bagi pelaku usaha, manfaat yang diharapkan lebih jauh adalah jejaring. Festival mempertemukan mereka dengan perbankan, instansi pembina, komunitas, dan calon mitra dagang yang jarang bisa dijumpai dalam waktu singkat.
Namun, panitia juga mengingatkan bahwa sebagian agenda masih bersifat tentatif. Sejumlah pengisi acara, terutama penampilan artis pada hari penutupan, belum diumumkan secara resmi. Informasi mengenai susunan acara dan pengisi panggung akan disampaikan melalui kanal media sosial Bank Indonesia Provinsi Maluku.
Masyarakat yang berencana hadir sebaiknya memeriksa jadwal terbaru sebelum datang, terutama untuk agenda yang memerlukan pendaftaran seperti lomba. Untuk kegiatan pameran dan talk show pada hari pertama, akses dibuka sebagai acara bebas.
Hari Penutupan dan Rangkaian Akhir
Rangkaian Maluku Manggurebe 2026 ditutup pada Sabtu (10/10/2026). Pada hari terakhir, agenda diisi olahraga zumba serta hiburan yang menghadirkan artis lokal maupun nasional.
Sebelum penutupan, sejumlah agenda masih berjalan, termasuk pameran produk UMKM, sesi live selling, serta kegiatan komunitas yang tersebar di area Taman Pattimura. Panitia mengajak warga datang lebih dari sekali karena susunan agenda tiap hari berbeda.
Konteks Ekonomi Kreatif Maluku
Ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang paling sering dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir karena laju pertumbuhannya melewati rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan produk domestik bruto sektor ekonomi kreatif pada 2025 mencapai 6,86 persen, sementara pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama 5,11 persen.
Nilai Produk Domestik Bruto sektor ini pada 2025 mencapai sekitar Rp1.797,87 triliun. Sektor ekonomi kreatif juga menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja, atau 18,7 persen dari total penduduk yang bekerja, dengan 58,4 persen di antaranya perempuan.
Subsektor yang tumbuh paling cepat adalah aplikasi dan pengembang permainan sebesar 18,22 persen, disusul film, animasi, dan video 17,59 persen, serta fotografi 10,15 persen. Sementara dari sisi besaran kontribusi, kuliner dan kriya tetap menjadi penyumbang terbesar.
Pemerintah kemudian memperbarui peta sektor ini melalui Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026 sampai 2045. Salah satu perubahan mendasarnya adalah pengelompokan subsektor ekonomi kreatif ke dalam empat klaster.
Klaster pertama berbasis seni dan budaya, mencakup fesyen, kriya, kuliner, seni rupa, dan seni pertunjukan. Klaster kedua berbasis desain, meliputi arsitektur, desain interior, desain produk, desain komunikasi visual, hingga modifikasi otomotif. Klaster berikutnya terkait teknologi dan konten digital, mencakup gim, aplikasi, teknologi baru, konten digital, serta sulih suara. Adapun klaster media dan distribusi kreatif meliputi film, animasi, video, musik, televisi, radio, penerbitan, fotografi, dan periklanan.
Penguatan pada tahap awal difokuskan pada tujuh subsektor prioritas, yakni film, animasi dan video, musik, fesyen, kriya, aplikasi dan gim, serta kuliner, di 15 provinsi prioritas.
Kebijakan itu memberi arah bagi daerah. Bagi Maluku, subsektor yang paling dekat dengan keseharian warga adalah kuliner berbasis hasil laut dan rempah, kriya berbahan lokal, wastra, serta musik yang sudah menjadi identitas kota ini.
Maluku dalam Peta Kreatif Nasional
Kota Ambon dikenal sebagai kota musik dan sudah lama memakai identitas itu dalam berbagai agenda daerah. Identitas tersebut bukan hanya soal citra, tetapi juga berkaitan dengan pekerjaan: pengajar musik, penampil, penata suara, perekam, hingga penyelenggara acara.
Di sisi lain, tantangan usaha kecil di daerah kepulauan tetap sama dari tahun ke tahun. Biaya pengiriman bahan baku tinggi, akses pembiayaan terbatas, dan pasar sering kali hanya selebar kota sendiri. Festival dan agenda promosi menjadi salah satu jalan keluar yang tersedia.
Pemerintah Kota Ambon juga menjadikan penguatan UMKM sebagai bagian dari agenda tahunan kota. Pada rangkaian peringatan hari ulang tahun kota September lalu, DPRD Kota Ambon menggelar sebuah expo yang memberi ruang promosi gratis bagi 55 pelaku usaha. Pemerintah kota mendukung melalui fasilitasi Nomor Induk Berusaha, bantuan modal usaha, dan penyediaan tempat usaha. Pemkot Ambon juga memperluas penerimaan pembayaran retribusi secara digital sebagai bagian dari penguatan transaksi nontunai.
Mengapa Pasar Lokal Sulit Tumbuh Cepat
Maluku adalah provinsi kepulauan dengan ratusan pulau yang tersebar di wilayah seluas ratusan ribu kilometer persegi. Kondisi geografis semacam ini membuat biaya distribusi barang jauh lebih tinggi dibanding daerah yang terhubung jalan darat.
Sejumlah komoditas yang seharusnya bisa diproduksi di dalam provinsi justru harus didatangkan dari luar karena kapasitas produksi belum mencukupi. Ketika pasokan terganggu, harga di pasar tradisional cepat merespons, seperti yang terlihat pada gejolak harga sejumlah bahan pokok di Kota Ambon dalam beberapa bulan terakhir.
Karena itu, agenda yang memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal punya arti khusus. Bukan hanya soal menambah jumlah pelaku usaha, tetapi bagaimana usaha kecil bisa bertahan melewati gejolak pasokan, menstabilkan mutu, dan menjangkau pembeli di luar lingkungan terdekatnya.
Digitalisasi pembayaran menjadi salah satu bagian dari jawaban itu. Dengan satu kode QR, pedagang kecil bisa menerima pembayaran dari aplikasi apa pun tanpa menyediakan uang kembalian atau menanggung risiko uang tunai yang besar.
Namun pengalaman di banyak daerah menunjukkan digitalisasi tidak otomatis mengangkat omzet. Meski jumlah merchant tumbuh, masih ada pedagang yang berstatus dorman atau terdaftar tetapi belum aktif bertransaksi.
Persoalannya bergeser dari ketersediaan alat pembayaran ke soal promosi, pencatatan, dan jejaring pasar. Di titik itu, festival yang menghadirkan perbankan, instansi pembina, dan komunitas dalam satu lokasi menjadi lebih relevan daripada sekadar seremoni tahunan.
Peran Instansi dan Sinergi Lintas Sektor
Maluku Manggurebe 2026 melibatkan lebih dari satu institusi. Selain Bank Indonesia sebagai penyelenggara utama, kegiatan ini diikuti perbankan, sejumlah kementerian dan lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kota, dekranasda, serta organisasi perangkat daerah.
Kehadiran lembaga pendanaan seperti Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan menunjukkan festival ini juga difungsikan sebagai ruang pertemuan antara kebutuhan daerah dan skema pembiayaan yang tersedia.
Lembaga jasa keuangan lain juga memanfaatkan momentum serupa di Ambon pada pekan yang sama. Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Maluku menggelar kegiatan literasi keuangan bagi mahasiswa, salah satunya bertema risiko investasi ilegal dan pemanfaatan pasar modal.
Rangkaian semacam ini memperlihatkan satu pola: agenda besar di Ambon sering kali dipakai sebagai simpul untuk menyatukan beberapa program sekaligus, dari literasi keuangan sampai pendampingan usaha.
Yang Perlu Diperhatikan Masyarakat
Bagi warga yang hendak berkunjung, Taman Pattimura berada di pusat Kota Ambon dan dapat dijangkau dengan kendaraan umum maupun berjalan kaki dari kawasan sekitar Lapangan Merdeka. Karena arena terbuka, kondisi cuaca perlu diperhatikan.
Prakiraan cuaca BMKG untuk Kota Ambon pada Jumat (9/10/2026) menyebut udara kabur di seluruh kecamatan Kota Ambon dengan suhu berkisar 25 sampai 31 derajat Celsius dan kelembapan tinggi. Kondisi ini dipengaruhi kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Maluku dalam beberapa hari terakhir.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon mengimbau warga, khususnya kelompok rentan seperti anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan, agar memakai masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Pembakaran sampah juga diminta dihindari karena dikhawatirkan menambah beban kualitas udara.
Karena arena festival berada di ruang terbuka, pengunjung disarankan membawa air minum, mengenakan pakaian yang nyaman, dan memakai pelindung pernapasan bila merasa perlu. Warga yang memiliki kondisi kesehatan khusus sebaiknya mengatur durasi kunjungan.
Kondisi perairan juga perlu diperhatikan pengunjung yang datang dari luar Kota Ambon. Informasi cuaca maritim BMKG mencatat pola angin di wilayah Maluku umumnya bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan rata-rata 6 sampai 20 knot, sementara peningkatan di atas 25 knot terpantau di Laut Arafuru. Penyeberangan tetap perlu memperhatikan arahan operator dan syahbandar.
Jejak Kebakaran Lahan di Tengah Kota
Situasi udara Ambon belakangan ini memang tidak lepas dari kejadian kebakaran lahan. Pada Kamis pagi (8/10/2026), titik api muncul di kawasan Belakang Soya, Kecamatan Sirimau.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon mengerahkan enam personel dan satu unit mobil pemadam dari pos markas komando. Personel tiba sekitar lima menit setelah laporan diterima, dan situasi dinyatakan terkendali sepenuhnya pada pukul 09.45 WIT.
Pemerintah Kota Ambon sebelumnya sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Kebijakan itu diambil karena curah hujan rendah dan aktivitas pembakaran lahan yang berulang di sejumlah titik dalam kota.
Kasus kebakaran lahan yang berulang membuat pengelolaan lingkungan menjadi isu yang menempel erat pada agenda ekonomi masyarakat. Kualitas udara yang memburuk dapat mengganggu kesehatan sekaligus menurunkan kenyamanan aktivitas luar ruangan, termasuk pasar dan event seperti ini.
Dari Panggung ke Pasar
Tantangan berikutnya justru muncul setelah festival selesai. Pengalaman dari berbagai agenda serupa menunjukkan transaksi biasanya memuncak selama kegiatan berlangsung, lalu menurun ketika stan dibongkar.
Karena itu, penyelenggara menempatkan jejaring sebagai salah satu target utama, bukan sekadar angka penjualan selama tiga hari. Pelaku usaha yang berhasil menjalin kontak dengan perbankan, mitra dagang, atau pembeli lintas pulau memiliki peluang lebih besar mempertahankan usaha setelah acara selesai.
Ruang promosi lewat live selling juga diarahkan untuk memperpanjang efek festival. Produk yang sempat ditampilkan di lokasi dapat terus dipasarkan melalui kanal digital setelah rangkaian kegiatan berakhir.
Bagi masyarakat, pilihan membeli produk lokal punya dampak yang cukup langsung. Setiap transaksi menambah perputaran uang di dalam daerah dan memperkuat kapasitas usaha kecil yang menyerap sebagian besar tenaga kerja lokal.
Catatan Perkembangan
Sampai berita ini disusun, rangkaian pra-acara sudah berjalan di Taman Pattimura dan seremoni pembukaan dijadwalkan pada hari ini, Jumat (9/10/2026). Susunan lengkap agenda pembukaan, daftar pengisi acara, serta jadwal panggung penutupan masih menunggu pengumuman resmi dari penyelenggara.
Belajar dari Penyelenggaraan Sebelumnya
Festival ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu dan setiap edisi meninggalkan catatan tersendiri. Pada edisi 2025, arena tidak hanya diisi pameran produk. Ada juga layanan masyarakat dari sejumlah institusi, di antaranya Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum, perbankan, Samsat, Pegadaian, Bursa Efek Indonesia, dan Permodalan Nasional Madani.
Pada edisi yang sama, Bank Indonesia menggelar kegiatan lari bertema pembayaran digital pada hari terakhir. Tujuannya mendorong peningkatan volume transaksi digital oleh masyarakat, pelaku usaha, dan pelaku pariwisata.
Pola penyelenggaraan itu menunjukkan festival memang dirancang sebagai ruang layanan terpadu, bukan hanya bazar. Warga bisa menyelesaikan urusan administrasi tertentu, berkonsultasi soal jasa keuangan, sekaligus berbelanja produk lokal dalam satu kunjungan.
Tahun ini, format serupa dipertahankan dengan sejumlah pembaruan. Workshop ekonomi hijau, kegiatan live selling, serta penekanan pada ekonomi digital menjadi beberapa tambahan yang membedakan edisi keenam dari edisi sebelumnya.
Peluang Selama Tiga Hari
Bagi pelaku usaha yang baru mulai, tiga hari festival bisa dipakai untuk menguji produk di depan pembeli nyata. Tanggapan pembeli di lokasi memberi gambaran lebih jujur dibanding survei di media sosial.
Bagi pengunjung, kesempatan ini berguna untuk mengenal produk lokal secara langsung, termasuk kerajinan dan kuliner yang jarang dijumpai di toko biasa. Harga, mutu, dan cerita di balik produk biasanya lebih mudah ditanyakan langsung kepada perajinnya.
Yang perlu diingat, festival tidak menyelesaikan seluruh persoalan usaha kecil. Setelah panggung dibongkar, pekerjaan rumah tetap sama: menjaga mutu, mencatat keuangan, mengurus izin, dan membangun jaringan pembeli yang berulang.
Karena itu, agenda semacam ini paling bermanfaat bila dibaca sebagai titik awal, bukan titik akhir. Pelaku usaha yang datang dengan rencana jelas akan mendapat hasil berbeda dibanding yang hanya mengisi stan selama tiga hari.
Penutup
Maluku Manggurebe 2026 menjadi pertemuan tahunan antara pelaku usaha kecil, perbankan, komunitas, dan pemerintah di Kota Ambon. Rangkaian pra-acara sudah berlangsung sejak Kamis (8/10/2026), dan pembukaan resmi dijadwalkan pada Jumat (9/10/2026) di Taman Pattimura.
Warga yang hendak hadir dapat memanfaatkan tiga hari kegiatan untuk berbelanja produk lokal, mengikuti talk show, atau menyaksikan lomba. Perkembangan terakhir mengenai agenda pembukaan dan penutupan akan diumumkan penyelenggara melalui kanal resmi mereka.
Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia mengharapkan festival ini tidak berhenti pada keramaian tiga hari. Ukuran keberhasilannya adalah apakah pelaku usaha yang terlibat dapat bertahan, menambah pasar, dan menaikkan kelas usahanya setelah rangkaian acara selesai.
Foto: ilustrasi suasana Kota Ambon. Kredit: Bas de Koning, Wikimedia Commons (domain publik).






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.