Ribuan warga dan wisatawan kembali memadati Negeri Mamala dan Negeri Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (28/3/2026). Bertepatan dengan tujuh Syawal 1447 Hijriah atau tujuh hari setelah Idulfitri, tradisi tahunan Pukul Sapu — yang oleh warga setempat disebut Baku Pukul Manyapu atau Ukuwala Mahiate — kembali digelar dalam suasana meriah, penuh musik, tarian, dan keramaian yang menjadi ciri khas perayaan lebaran di Jazirah Leihitu.
Bagi orang luar, pemandangan atraksi utamanya memang sulit dilupakan: para pemuda bertelanjang dada saling menyabetkan batang lidi enau ke punggung dan badan lawannya hingga meninggalkan bekas-bekas merah. Namun bagi warga Mamala dan Morela, atraksi itu bukan kekerasan, melainkan ritual penuh makna yang diwariskan turun-temurun sejak berabad-abad lalu — sebuah cara untuk mengenang perjuangan leluhur, mengukuhkan persaudaraan, dan menandai hari kemenangan dengan cara yang hanya dimiliki oleh dua negeri bersaudara ini.
Gelaran tahun ini juga mendapat perhatian besar dari pemerintah. Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa hadir langsung membuka acara di Negeri Mamala, sementara tradisi yang sama digelar serentak di Negeri Morela. Tradisi Pukul Sapu sendiri telah diakui negara sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 244/P/2016 pada domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan, dan kini didorong masuk menjadi bagian dari agenda pariwisata nasional.
Satu Hari Penuh di Negeri Hatusela
Perayaan di Negeri Mamala — negeri yang oleh warganya dijuluki Hatusela — sudah dimulai sejak siang hari. Sebagaimana dilaporkan LPP RRI Ambon, warga dan pengunjung memadati lokasi acara di depan Masjid Almuhibbin Mamala jauh sebelum atraksi utama dimulai, bertahan di bawah terik matahari demi mendapatkan tempat terbaik menyaksikan rangkaian perayaan 7 Syawal.
Panggung rakyat diisi beragam pertunjukan seni dari berbagai penjuru Maluku. Ada tarian Tanimbar, tarian Katreji, tarian tradisional Manuhua, atraksi hu'ul atau seni alifuru, hingga Totobuang dari Negeri Gandong Soya. Suasana makin meriah dengan penampilan musik dari Bucek Mony dan grup musik lokal Ambon, Galak's. Perpaduan tersebut menegaskan bahwa Pukul Sapu bukan sekadar satu atraksi tunggal, melainkan pesta budaya yang menghimpun kekayaan seni kepulauan Maluku ke dalam satu halaman kampung.
Ketua Panitia Atraksi Pukul Sapu Mamala, Abdurahman Malawat, mengatakan atraksi Ukuwala Mahiate digelar setiap tahun untuk menumbuhkan cinta masyarakat Mamala terhadap budaya leluhur. Menurutnya, sejumlah atraksi seni dihadirkan untuk memeriahkan tradisi tahunan sekaligus menghibur pengunjung dan warga. Ia berharap pemerintah Provinsi Maluku menjadikan atraksi ini masuk dalam agenda pariwisata nasional.
Kegiatan puncak di Mamala diawali sekitar pukul 16.20 waktu Indonesia Timur. Gubernur Hendrik Lewerissa hadir bersama jajaran Forkopimda Provinsi Maluku dan Bupati Maluku Tengah untuk membuka sekaligus menyaksikan atraksi budaya yang setiap tahun dinantikan masyarakat. Anggota DPR RI dari dapil Maluku, Saadiah Uluputty, juga menyusul dalam rombongan dan mengikuti rangkaian kegiatan hingga ke Negeri Morela, yang pada hari yang sama menggelar tradisi serupa. Kehadiran rombongan di dua negeri bersaudara itu disambut hangat warga yang memadati arena, dan pejabat yang datang mendapat kehormatan turut ambil bagian dalam prosesi memukulkan lidi kepada para peserta.
Aturan Main: Lidi Enau, Dua Regu, dan Kain Berang
Atraksi pukul sapu lidi memiliki aturan main yang diturunkan secara turun-temurun dan dijaga ketat oleh adat. Sebagaimana dijelaskan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam paparan tradisi di Negeri Morella, peserta dibagi menjadi dua regu pemuda, masing-masing berjumlah sekitar sepuluh orang. Mereka mengenakan celana pendek, bertelanjang dada, dan memakai pengikat kepala berwarna merah yang disebut kain berang.
Sebelum masuk ke arena, para peserta berkumpul di rumah pusaka — di Morella, prosesi dilakukan di rumah pusaka marga Wakang atau Pessy — untuk menjalani rangkaian prosesi adat. Baru setelah itu kedua regu saling berhadapan di arena, tiap orang memegang batang lidi dari pohon enau. Lidi yang dipakai tidak sembarangan: ukurannya harus besar, dengan lingkaran pangkal sekitar 0,5 sentimeter dan bonggol selebar 3 hingga 5 sentimeter.
Kedua regu kemudian saling memukul secara bergantian diiringi irama musik Totobuang. Sayatan dan bekas sabetan lidi yang meneteskan darah justru menjadi bagian dari makna ritual itu — simbol perjuangan yang pernah dilalui leluhur. Atraksi satu sesi berlangsung kurang lebih setengah jam, disaksikan ribuan penonton yang umumnya sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel.
Setelah atraksi selesai, luka-luka para peserta dirawat secara tradisional. Di Morella, bekas pukulan diobati dengan getah daun jarak. Di Mamala, obat tradisional itu adalah minyak Mamala — minyak kelapa khas negeri ini yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual dan justru menjadi salah satu identitas utama Mamala.
Angka peserta dari tahun ke tahun berbeda-beda tergantung kesepakatan panitia. Pada gelaran 2023, misalnya, ANTARA mencatat sebanyak 80 pemuda Negeri Mamala terlibat sebagai peserta atraksi pukul sapu lidi. Ketua panitia saat itu, Nawawi Lestaluhu, mengatakan jumlah peserta ditentukan lewat rapat — ada masa yang diikuti 60 orang, ada juga yang 80 orang.
Salah satu peserta yang diwawancarai ANTARA pada gelaran 2023 menggambarkan pengalaman itu dengan jujur: rasanya sakit, sangat perih. Namun ia tetap bersedia kembali tahun berikutnya. Biar pun sakit, katanya, tahun depan ia tetap ikut, sebab itu kemauannya sendiri sebagai anak Negeri Mamala.
Penonton yang menyaksikan justru sering kali takjub pada hal lain. Benoni Teurup, seorang penonton yang dikutip AMAN, mengatakan ia tidak bosan datang menonton karena para peserta yang luka-luka justru terlihat bahagia, dan pertunjukan tidak menyisakan kemarahan ataupun balas dendam di antara para pelakunya. Mereka melakukannya dalam suasana damai dan rasa bersaudara.
Alasan pemilihan hari ke-7 Syawal juga memiliki dasar keagamaan. Sebagaimana dijelaskan ANTARA, masyarakat Mamala pada umumnya melanjutkan puasa sunnah enam hari Syawal setelah satu hari merayakan Idulfitri, sehingga perayaan besar bersama baru digelar pada hari ketujuh bulan Syawal.
Akar Sejarah dari Benteng Kapahaha
Untuk Negeri Morella, akar tradisi ini menunjuk pada satu peristiwa besar: Perang Benteng Kapahaha pada tahun 1637 sampai 1646 melawan kekuatan kolonial VOC. Sebagaimana direkonstruksi AMAN, kapitan dan malesi — para pengawal perang — dari persekutuan Pata Siwa Pata Lima bersama rakyat dari berbagai daerah bertahan melawan angkatan perang Belanda selama sembilan tahun di Benteng Kapahaha.
Ketika perang akhirnya kalah dan para pejuang ditawan selama tiga bulan, para kapitan dan malesi melakukan upacara pelepasan pejuang. Dalam upacara itulah atraksi pukul sapu lidi dipertunjukkan: luka-luka akibat sabetan lidi menjadi simbol perjuangan melawan penjajah. Usai atraksi, sambil saling berpelukan, mereka berikrar untuk saling kenang-mengenang dan menetapkan bahwa setiap tanggal 7 Syawal atraksi tersebut akan dilakukan kembali. Ikrar itulah yang terus dijalankan hingga hari ini.
Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku dalam publikasinya menarik garis sejarah yang lebih panjang lagi: atraksi pukul sapu lidi dipentaskan setiap tahun pada 7 Syawal dan dilestarikan sejak abad ke-17. Publikasi itu mengaitkan tradisi ini dengan perjuangan Kapitan Telukabessy dan pasukannya pada masa penjajahan Portugis dan VOC di abad ke-16, yang bertempur mempertahankan Benteng Kapahaha dari serbuan penjajah sampai akhirnya benteng jatuh. Untuk menandai kekalahan itu, pasukan Telukabessy mengambil lidi enau dan saling mencambuk hingga berdarah.
Kantor Berita ANTARA dalam laporannya tentang gelaran 2026 merangkum kedua alasan tersebut dalam satu kalimat: tradisi pukul sapu di Mamala-Morela digelar setiap tahun sebagai bagian dari warisan budaya dan peringatan nilai-nilai sejarah, yakni penghormatan dan ungkapan kesedihan atas kekalahan pasukan Kapitan Kapahaha dalam kancah peperangan, sekaligus peringatan pembangunan tiang alif masjid tua.
Atraksi ini juga menjadi ajang pertemuan kembali anak cucu para pejuang Kapahaha dari berbagai daerah — dari Huamual, Seram Selatan, Seram Utara, Gorom, Saparua, hingga Ternate, Gowa, dan Jawa. Dalam pandangan Raja Negeri Morella, Fadil Sialana, sebagaimana dikutip AMAN, kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai heroik perjuangan rakyat melawan penjajah bagi generasi bangsa, melestarikan khazanah budaya nasional, dan membangun silaturahim antar anak cucu kapitan dan malesi yang dulu berjuang di Kapahaha.
Narasi Mamala: Masjid yang Dibangun Tanpa Paku
Negeri Mamala mewariskan narasi yang berbeda namun beriringan. Berdasarkan catatan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tradisi Adat Baku Pukul Manyapu di Negeri Mamala dilakukan secara turun-temurun untuk mengenang keberhasilan warga desa membangun masjid tanpa menggunakan paku — yang dalam catatan tersebut disebut tanpa "ping". Peristiwa pembangunan masjid tua itu diperkirakan terjadi sejak abad ke-17, sezaman dengan berdirinya negeri-negeri besar di Jazirah Leihitu.
Dari narasi ini lahirlah filosofi yang melekat pada atraksi: tiang-tiang masjid yang berdiri tanpa paku menjadi bukti kecerdikan, ketekunan, dan kebersamaan warga. Atraksi pukul sapu yang mengenangnya pun bukan pertunjukan kekerasan, melainkan penanda ingatan kolektif — bahwa negeri ini pernah menyelesaikan sesuatu yang besar bukan dengan senjata, melainkan dengan gotong royong.
Keduanya — narasi perang Kapahaha di Morela dan narasi masjid tanpa paku di Mamala — hidup berdampingan dalam satu gelaran yang sama. Pemerintah Provinsi Maluku dalam rilis resminya menegaskan bahwa meskipun memiliki kesamaan bentuk atraksi, yaitu saling memukul menggunakan lidi enau, masing-masing negeri memiliki latar belakang sejarah dan makna yang justru memperkaya khazanah budaya Maluku.
Sejumlah kajian akademik juga menaruh perhatian pada dimensi sosial tradisi ini. Penelitian yang dipublikasikan jurnal Humaniora UGM, misalnya, mengkaji bagaimana ritual Pukul Sapu menjadi sarana integrasi agama dan budaya dalam membangun identitas sosial masyarakat Mamala. Laporan The Jakarta Post dari lokasi pada gelaran tahun 2006 bahkan menyoroti bahwa ritual tahunan ini memperkuat ikatan antara warga Muslim dan Kristen yang datang dari Kota Ambon dan sekitarnya untuk menyaksikan — sebuah catatan penting tentang bagaimana tradisi adat di Maluku kerap menjadi jembatan antarumat beragama.
Minyak Mamala: Obat Luka yang Sakral
Tidak ada pemaparan lengkap tentang Pukul Sapu di Mamala tanpa menyebut minyak Mamala. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Minyak Mamala — yang dalam bahasa lokal disebut Nyuelae Matehu — adalah minyak yang berbahan dasar kelapa kering. Minyak ini dapat bernilai sakral setelah diberikan doa-doa oleh para penghulu, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ritual pukul sapu di negeri ini.
Laporan-laporan lokal tentang tradisi ini menyebut bahwa luka memar yang dialami para peserta Baku Pukul Manyapu diobati dengan minyak tersebut, dan beberapa saat kemudian luka-luka itu diyakini mengering dan sembuh. Nilai khasiatnya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari keyakinan dan pengalaman budaya masyarakat Mamala yang diwariskan lintas generasi, bukan sebagai klaim medis. Yang jelas, di arena pukul sapu, minyak Mamala hadir bukan sekadar sebagai obat: ia adalah penanda identitas negeri, warisan yang dipertahankan justru melalui tradisi yang setiap tahun menghidupkannya kembali.
Kombinasi lidi enau, kain berang, Totobuang, dan minyak Mamala inilah yang membuat gelaran ini tidak bisa ditiru tempat lain. Setiap unsurnya lahir dari sejarah dan kebutuhan ritual negeri sendiri — dan justru keseluruhannya itulah yang kini dipandang sebagai modal budaya yang bernilai tinggi.
Makna di Balik Luka
Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah membaca tradisi ini sebagai sesuatu yang jauh lebih dalam daripada pertunjukan. Dalam sambutannya pada gelaran 2026 yang dibacakan Sekretaris Daerah Rakib Sahubawa, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat menyampaikan bahwa tradisi pukul sapu lidi bukan sekadar pertunjukan adat dan budaya, melainkan mengandung pesan mendalam tentang perjuangan, solidaritas, dan ketahanan yang menyatu dalam jati diri warga Mamala dan Morella.
"Dibalik ayunan sapu lidi, tersimpan keberanian, dan dibalik luka dari sayatan lidi tersirat ketahanan dan kekuatan yang tetap terjaga," kata Rakib Sahubawa membacakan sambutan itu, sebagaimana dilaporkan LPP RRI. Melalui momentum pukul sapu lidi, pemerintah kabupaten berharap silaturahim warga Mamala dan Maluku pada umumnya tetap terjaga, dan persatuan-kesatuan semakin kuat.
Gubernur Hendrik Lewerissa, dalam rilis Media Center Pemerintah Provinsi Maluku, menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai atraksi fisik, tetapi mencerminkan ketangguhan mental, semangat kebersamaan, serta media penguatan ikatan persaudaraan masyarakat Maluku. Ia mengutip filosofi orang Maluku: ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging — beralasan kuku, terasa di daging. Tradisi ini, kata Gubernur, mengandung pesan damai yang kuat dan menjadi perekat hubungan orang basudara di Maluku.
Sementara itu, pada catatan ANTARA tentang gelaran 2026, tradisi ini dimaknai sebagai simbol keberanian, solidaritas, serta sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga — selain bentuk penghormatan terhadap leluhur. Raja Morella Fadil Sialana menambahkan harapan bahwa dari kegiatan ini terbangun rasa patriotisme anak negeri untuk menggali dan menjaga nilai-nilai juang leluhur, sehingga persatuan dan kesatuan anak bangsa semakin erat.
Diakui Negara, Dijaga Bersama
Status tradisi ini dalam peta budaya Indonesia sudah tercatat resmi. Dalam basis data Warisan Budaya Takbenda yang dikelola pemerintah, Pukul Sapu dari Provinsi Maluku tercatat dengan SK Penetapan Nomor 244/P/2016 pada domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Tradisi Adat Baku Pukul Manyapu di Negeri Mamala juga diuraikan tersendiri oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya sebagai tradisi yang telah dilakukan turun-temurun dan sarat nilai historis.
Bahkan penyokong ritualnya pun terdata: Minyak Mamala tercatat dalam basis data Kekayaan Intelektual Komunal milik DJKI sebagai pengetahuan tradisional masyarakat. Dengan demikian, gelaran tahunan ini berdiri di atas tiga lapis pengakuan sekaligus — sebagai warisan budaya takbenda, sebagai tradisi adat yang terdokumentasi negara, dan sebagai bagian dari pengetahuan tradisional yang dilindungi datanya.
Atensi pemerintah pada gelaran 2026 juga terlihat dari sisi keamanan. Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease menyiagakan sebanyak 637 personel gabungan bersama Polda Maluku untuk mengamankan pelaksanaan tradisi di Mamala dan Morela. Kapolresta Kombes Pol Yoga Putra Prima Setya mengatakan personel dikerahkan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan adat berlangsung aman, tertib, dan lancar — tidak hanya di lokasi utama, tetapi juga di jalur-jalur yang dilalui masyarakat menuju lokasi, termasuk pengaturan arus lalu lintas dan pengawasan titik-titik keramaian.
Sisi pencegahan pun dijalankan. Sebagaimana dilaporkan Infobaru, aparat melakukan razia kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang menuju lokasi kegiatan, menyasar minuman keras, senjata tajam, serta barang berbahaya lainnya. Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi menegaskan pengamanan dilakukan maksimal agar masyarakat dapat melaksanakan kegiatan dengan aman dan nyaman, dan mengimbau warga menjaga ketertiban serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dalam pelaksanaan tradisi. Seluruh rangkaian pengamanan dilaporkan berlangsung aman dan lancar hingga selesai.
Dari Arena Adat ke Agenda Pariwisata Nasional
Lokasi gelaran yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kota Ambon tidak menyurutkan minat. Sejak lama, atraksi ini menarik penonton dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri, termasuk para tamu kehormatan dan pejabat — sebagaimana juga dicatat media internasional yang memotret tradisi ini sebagai ritual persaudaraan yang unik di dunia.
Pada gelaran 2026, dorongan politik itu menguat. Saat membuka acara di Negeri Mamala, Gubernur Hendrik Lewerissa menyatakan, "Saya pastikan tradisi ini jadi atensi Pemprov Maluku dan akan didorong menjadi agenda pariwisata nasional." Menurutnya, pemerintah wajib menjaga dan memajukan kegiatan kebudayaan yang ada di Maluku, termasuk atraksi pukul sapu di Negeri Mamala dan Morella, karena itu pesan undang-undang.
Pemerintah Provinsi Maluku melalui rilis resminya menyebut akan terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mengupayakan penetapan tradisi ini sebagai bagian dari agenda wisata nasional, sehingga mampu meningkatkan daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara. "Tradisi ini merupakan kebanggaan masyarakat Maluku dan memiliki potensi besar sebagai daya tarik budaya berkelas internasional," tegas Gubernur.
Harapan serupa datang dari dalam negeri sendiri. Panitia dan tokoh masyarakat memandang pengakuan yang lebih luas sebagai kunci regenerasi: semakin dikenal, semakin besar alasan generasi muda untuk ikut menjaga. Nawawi Lestaluhu, ketua panitia gelaran 2023, kala itu jujur mengatakan bahwa mereka membutuhkan perhatian pemerintah agar atraksi ini lebih dikenal luas sampai ke mancanegara — dukungan moril maupun materil.
Rangkaian pengakuan itu menempuh jalan panjang yang belum selesai: dari arena adat di halaman masjid kampung, menuju kalender event pariwisata nasional. Namun jika ikrar leluhur mampu bertahan lebih dari tiga abad tanpa pernah putus, memasukkan tradisi ini ke peta wisata dunia tampaknya hanya soal waktu dan konsistensi semua pihak.
Warisan yang Terus Hidup
Yang membuat Pukul Sapu bertahan bukan kebijakan, melainkan keputusan kecil setiap tahun dari orang-orang biasa: pemuda yang bersedia kembali ke arena meski tahu akan perih, panitia yang menyewa panggung seni dan menyiapkan lidi enau, penghulu yang mendoakan minyak Mamala, raja-raja negeri yang menjaga prosesi adat, serta ribuan warga yang rela berdesakan di bawah terik matahari demi menyaksikan.
Gubernur Hendrik Lewerissa dalam rilis resmi Pemprov menyampaikan apresiasi atas tingginya partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam pelaksanaan tradisi tahun ini — yang menurutnya menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai kearifan lokal. Di Mamala dan Morela, luka dari sabetan lidi akan sembuh dalam hitungan hari; tetapi makna yang tersimpan di baliknya — keberanian, solidaritas, ketahanan, dan persaudaraan — justru dirawat agar tidak pernah luka oleh waktu.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.