Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,4 yang dimutakhirkan menjadi 6,2 mengguncang Laut Banda, Maluku, Kamis (29/10/2026) pagi. Pusat gempa berada di laut, sekitar 203 kilometer barat laut Kepulauan Tanimbar, pada kedalaman 164 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan peristiwa itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami, dan hingga pukul 05.30 WIB belum ada laporan gempa susulan.
Guncangan terjadi pada pukul 05.06.47 WIB atau 07.06.47 WIT. BMKG merilis informasi pertama pada pukul 05.09.29 WIB dengan parameter awal magnitudo 6,4 pada kedalaman 160 kilometer, berlokasi 162 kilometer barat laut wilayah Maluku Tenggara Barat. Beberapa saat kemudian BMKG memperbarui parameter hasil analisis menjadi magnitudo 6,2 pada kedalaman 164 kilometer, dengan episenter di koordinat 6,34 derajat Lintang Selatan dan 130,48 derajat Bujur Timur.
Perbedaan angka itu bukan dua peristiwa berbeda. BMKG menyebutnya sebagai parameter pembaruan atas kejadian yang sama, prosedur yang lazim ditempuh setelah stasiun pemantau menerima tambahan data gelombang seismik dari sejumlah sensor. Pemberitaan di sejumlah media pada jam-jam pertama masih memakai magnitudo 6,4, sementara keterangan resmi terbaru memakai 6,2.
Jarak episenter ke daratan juga dilaporkan dengan dua titik acuan. BMKG menyebut pusat gempa berada 203 kilometer arah barat laut Tanimbar. Pemberitaan yang mengutip data BMKG menyebut lokasi episenter sekitar 60 kilometer barat laut Larat, Kecamatan Tanimbar Utara. Kedua angka merujuk titik koordinat yang sama, dengan pengukuran jarak ke lokasi yang berbeda di gugusan kepulauan itu.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyampaikan keterangan tertulis soal peristiwa tersebut pada Kamis pagi. Keterangan itu memuat parameter gempa, hasil pemodelan tsunami, analisis mekanisme sumber, sebaran guncangan yang dilaporkan masyarakat, serta imbauan bagi warga di wilayah terdampak.
Gempa dirasakan warga di empat wilayah dengan skala intensitas III MMI, yakni Banda Naira, Tanimbar, Kaimana, dan Sorong. BMKG juga mencatat laporan guncangan skala II MMI di Bula.
Pada skala III MMI, getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seakan ada truk yang berlalu. Skala II MMI berarti getaran hanya dirasakan sebagian orang dan benda ringan yang tergantung ikut bergoyang.
Tidak Ada Laporan Kerusakan di Tanimbar
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Ambrosius Sabono, menyatakan belum ada laporan kerusakan fasilitas umum maupun rumah warga akibat gempa tersebut. Ia menyampaikan hal itu saat dihubungi dari Ambon pada Kamis pagi, beberapa jam setelah guncangan terjadi.
Menurut Ambrosius, warga di Saumlaki dan sekitarnya tidak merasakan getaran. Ia menduga getaran mungkin dirasakan warga di Kecamatan Dawelor Dawera yang posisinya lebih dekat ke pusat gempa, meski hingga saat keterangan itu disampaikan belum ada laporan yang masuk.
Ambrosius menduga guncangan tidak sampai ke Saumlaki karena dua faktor, yaitu jarak pusat gempa yang cukup jauh dan kedalaman hiposenter yang besar. Penjelasan itu sejalan dengan karakter gempa menengah yang energinya teredam sebelum mencapai permukaan.
Kecamatan Dawelor Dawera berada di bagian utara gugusan Kepulauan Tanimbar, menghadap perairan Laut Banda. Wilayah itu lebih dekat ke titik episenter dibanding Saumlaki yang berada di bagian selatan, sehingga secara teori punya peluang lebih besar merasakan guncangan.
Kabupaten Kepulauan Tanimbar terdiri atas 10 kecamatan, dua kelurahan, dan 80 desa, dengan ibu kota di Saumlaki. Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah laut. Dari total luas wilayah 52.995,19 kilometer persegi, hanya 10.102,92 kilometer persegi yang berupa daratan, sedangkan 42.892,28 kilometer persegi merupakan perairan.
Kondisi geografis itu membuat hampir seluruh kecamatan di Kepulauan Tanimbar berbatasan langsung dengan laut. Konsekuensinya, setiap informasi gempa di perairan sekitar kepulauan selalu punya dua dimensi yang perlu diperhatikan warga, yaitu risiko guncangan di darat dan potensi gelombang laut.
Gempa Menengah Akibat Deformasi dalam Lempeng
BMKG menjelaskan, berdasarkan posisi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini tergolong gempa bumi menengah yang dipicu aktivitas deformasi di dalam lempeng atau intraslab di Laut Banda. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser turun atau oblique normal.
Gempa intraslab adalah gempa yang terjadi di dalam tubuh lempeng yang sedang menunjam, bukan di bidang kontak antar-lempeng. Di kawasan Laut Banda, lempeng samudra menunjam ke bawah busur kepulauan, dan bagian lempeng yang sudah berada jauh di bawah permukaan masih dapat mengalami tekanan hingga akhirnya patah.
Kedalaman 164 kilometer menempatkan sumber gempa jauh di bawah kerak bumi bagian atas. Pada kedalaman sebesar itu, gelombang seismik harus menempuh jarak panjang sebelum mencapai permukaan, sehingga energinya menyebar ke area yang lebih luas tetapi dengan intensitas yang lebih rendah di setiap titik.
Pola itu terlihat dari sebaran laporan masyarakat. Getaran skala III MMI tercatat di empat wilayah yang jaraknya berjauhan, dari Banda Naira di Maluku Tengah, Tanimbar di Maluku Tenggara, hingga Kaimana dan Sorong di Papua. Sebaran seluas itu lazim muncul pada gempa dalam dan menengah.
BMKG juga menegaskan hasil pemodelan tsunami tidak menunjukkan potensi gelombang besar akibat peristiwa ini. Kesimpulan itu diambil dari kombinasi parameter magnitudo, kedalaman, dan mekanisme sumber yang tidak memenuhi syarat pembangkit tsunami.
Gempa dangkal dengan magnitudo besar dan mekanisme naik di dasar laut punya peluang jauh lebih besar menggeser kolom air dan memicu tsunami. Gempa menengah dengan mekanisme geser turun pada kedalaman lebih dari 150 kilometer umumnya tidak menghasilkan deformasi dasar laut yang cukup.
Wilayah Maluku yang Aktif Gempa
Peristiwa Kamis pagi itu bukan kejadian terisolasi. Maluku berada di kawasan pertemuan lempeng yang membuat aktivitas kegempaan berlangsung hampir setiap hari, dan sebagian besar kejadian tidak dirasakan warga.
BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Ambon mencatat 2.788 kejadian gempa bumi mengguncang wilayah Provinsi Maluku dan sekitarnya sepanjang 2025, dengan 80 kejadian di antaranya dirasakan masyarakat dan dua kejadian bersifat merusak di wilayah Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Ambon, Djati Cipto Kuncoro, menyampaikan angka itu di Ambon pada 6 Januari 2026.
Dari jumlah tersebut, 1.839 gempa bermagnitudo di bawah 5,0 dan 884 kejadian bermagnitudo di bawah 3,0. Gempa dengan kekuatan di atas 5,0 tercatat 65 kejadian, dengan magnitudo terbesar 6,9 pada 14 Juli 2025. Aktivitas seismik 2025 didominasi gempa dangkal di bawah 60 kilometer dan kekuatan magnitudo 3 sampai 5.
Dua gempa merusak sepanjang 2025 berpusat di Amalatu, Seram Bagian Barat, masing-masing pada 22 Juni dan 4 Juli, dengan kekuatan magnitudo 4,9. Keduanya menimbulkan dampak kerusakan pada bangunan di sekitar area terdampak, dan menjadi pengingat bahwa magnitudo bukan satu-satunya penentu dampak.
Frekuensi gempa pada 2025 naik dibanding 2024. Puncak tertinggi terjadi pada Maret 2025 dengan 354 kejadian, disusul September 275 kejadian dan Desember 270 kejadian.
Pada Oktober 2026, aktivitas kegempaan tetap berjalan. Data seismisitas BMKG yang dihimpun untuk periode 16 sampai 22 Oktober 2026 mencatat 76 kejadian gempa di wilayah Maluku. Kejadian terbanyak berlangsung pada 16 Oktober dengan 18 gempa, kemudian 14 kejadian pada 20 Oktober dan 13 kejadian pada 22 Oktober.
Dari 76 kejadian itu, 51 gempa bermagnitudo 3 sampai kurang dari 5, 24 kejadian bermagnitudo kurang dari 3, dan satu kejadian bermagnitudo 5 atau lebih. Berdasarkan kedalaman, gempa menengah mendominasi dengan 40 kejadian, gempa dalam lima kejadian, dan gempa dangkal kurang dari 60 kilometer sebanyak 31 kejadian.
Yang perlu dicatat, tidak ada gempa yang dilaporkan dirasakan masyarakat selama periode 16 sampai 22 Oktober 2026 itu. Artinya, peristiwa Kamis pagi menjadi salah satu dari sedikit kejadian bulan ini yang getarannya benar-benar sampai ke permukaan dan dilaporkan warga di empat wilayah sekaligus.
Sebelumnya, pada 21 Oktober 2026, gempa magnitudo 5,1 juga terjadi di Maluku Barat Daya pada pukul 14.44.15 WIB. BMKG menyebut pusat gempa berada di laut pada koordinat 7,75 Lintang Selatan dan 128,18 Bujur Timur, dan memastikan peristiwa itu tidak berpotensi tsunami.
Bagi warga Kepulauan Tanimbar, rangkaian peristiwa ini bukan hal baru. Gugusan pulau itu berada di zona tektonik aktif dengan Laut Banda di utara dan laut terbuka di selatan, sehingga getaran dari berbagai arah dapat muncul kapan saja tanpa peringatan awal yang panjang.
Imbauan BMKG dan Langkah Warga
Dalam keterangan resminya, BMKG mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Imbauan serupa menyertai hampir setiap rilis gempa, terutama karena periode setelah guncangan biasanya diwarnai pesan berantai yang menyebut akan ada gempa susulan besar pada jam tertentu.
BMKG juga meminta masyarakat menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat getaran, serta memastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa sebelum kembali ke dalam rumah. Untuk peristiwa Kamis, imbauan itu bersifat pencegahan karena tidak ada laporan kerusakan di Tanimbar.
Pedoman mitigasi BMKG menyebut sejumlah langkah yang perlu disiapkan sebelum gempa terjadi. Warga diminta mengenali karakter gempa, memastikan struktur dan letak rumah terhindar dari bahaya longsor dan likuefaksi, serta mengevaluasi dan merenovasi struktur bangunan agar lebih aman.
Persiapan di dalam rumah mencakup pemasangan perabot seperti lemari dan kabinet menempel pada dinding agar tidak jatuh atau bergeser saat terjadi guncangan. Benda berat sebaiknya diletakkan di bagian bawah, sementara benda tergantung seperti lampu perlu dicek kestabilannya.
BMKG juga menyarankan penyediaan kotak P3K, senter atau lampu baterai, radio, makanan suplemen, dan air di setiap tempat tinggal dan tempat kerja. Nomor telepon penting perlu dicatat agar bisa dihubungi saat jaringan komunikasi terganggu.
Saat guncangan terjadi dan warga berada di dalam bangunan, langkah utama adalah melindungi kepala dan badan dari reruntuhan, antara lain dengan berlindung di bawah meja, lalu mencari titik paling aman dari goncangan. Jika masih memungkinkan, keluar dari bangunan dengan tertib dan tanpa menggunakan lift.
Di luar bangunan, warga diminta menjauh dari gedung, tiang listrik, dan pohon, serta memperhatikan tempat berpijak untuk menghindari rekahan tanah. Bagi yang sedang mengendarai kendaraan, langkah yang dianjurkan adalah keluar, turun, dan menjauh dari kendaraan.
Khusus warga yang tinggal atau berada di pantai, BMKG menegaskan langkah pertama adalah menjauhi pantai untuk menghindari kemungkinan tsunami. Imbauan itu berlaku tanpa perlu menunggu sirene, terutama bila guncangan terasa kuat dan berlangsung lama.
Setelah gempa, warga diminta keluar dari bangunan dengan tertib, memeriksa kondisi sekitar untuk potensi kebakaran dan kebocoran gas, serta memeriksa apakah ada yang terluka dan membutuhkan pertolongan.
Pelajaran dari Gempa Merusak di Maluku
Maluku punya rekam jejak gempa merusak yang menjadi rujukan dalam penyusunan langkah mitigasi. Dua kejadian di Amalatu, Seram Bagian Barat, pada 2025 memperlihatkan bahwa gempa magnitudo 4,9 dengan pusat dangkal bisa menimbulkan kerusakan bangunan meski skalanya jauh di bawah peristiwa Laut Banda.
Perbedaan itu bertumpu pada kedalaman. Gempa Amalatu berpusat dangkal sehingga energi mencapai permukaan dengan intensitas lebih tinggi di area terbatas, sedangkan gempa Laut Banda berpusat 164 kilometer di bawah permukaan sehingga getarannya menyebar luas dengan intensitas rendah.
Kesiapsiagaan di tingkat desa menjadi salah satu fokus BMKG Ambon. Djati Cipto Kuncoro menyebut pentingnya memperbanyak desa di Kota Ambon dan Provinsi Maluku yang menjadi Desa Ready Tsunami Community, seperti Desa Galala dan Hative Kecil yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO.
Program itu menempatkan warga sebagai pelaku utama, mulai dari pemetaan jalur evakuasi, penentuan titik kumpul, hingga latihan berkala. Pendekatan serupa relevan bagi kepulauan seperti Tanimbar yang sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan laut.
Dampak bagi Pelayaran dan Aktivitas Warga
Kepulauan Tanimbar mengandalkan transportasi laut untuk menghubungkan Saumlaki dengan kecamatan-kecamatan lain dan dengan wilayah lain di Maluku. Gempa yang berpusat di laut selalu menimbulkan pertanyaan pertama dari warga, yaitu apakah kondisi perairan masih aman untuk pelayaran.
Untuk peristiwa Kamis, BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami. Namun informasi itu tidak otomatis menjadi jaminan kondisi laut tenang, karena gelombang dan angin dipengaruhi faktor cuaca yang diumumkan terpisah melalui peringatan dini maritim.
Pihak yang paling terdampak secara langsung adalah nelayan dan operator kapal kecil yang beraktivitas di perairan sekitar kepulauan. Mereka biasa berlayar malam dan dini hari, sehingga peristiwa pukul 05.06 WIT terjadi pada jam ketika sebagian armada masih di laut atau baru bersiap melaut.
Hingga Kamis siang, belum ada laporan resmi mengenai dampak gempa terhadap aktivitas pelayaran, penerbangan, atau layanan publik di Kepulauan Tanimbar. BPBD Kabupaten Kepulauan Tanimbar menyatakan situasi aman dan tidak ada dampak kerusakan.
Cara Membaca Informasi Gempa yang Beredar
Informasi gempa BMKG terbit dalam beberapa tahap. Rilis pertama biasanya keluar dalam hitungan menit dengan parameter otomatis, lalu diperbarui setelah analisis melibatkan lebih banyak stasiun. Untuk peristiwa Kamis, rilis pertama pukul 05.09.29 WIB memuat magnitudo 6,4 pada kedalaman 160 kilometer, dan parameter pembaruan menyebut magnitudo 6,2 pada kedalaman 164 kilometer.
Selisih 0,2 satuan magnitudo pada skala magnitudo tidak berarti sederhana, karena setiap kenaikan satu satuan mewakili energi yang jauh lebih besar. Namun pada rentang 6,2 sampai 6,4, perbedaan itu umumnya tidak mengubah kesimpulan soal potensi tsunami, terutama pada gempa dengan kedalaman lebih dari 150 kilometer.
Bagi warga, yang paling praktis diperhatikan bukan angka magnitudo semata, melainkan tiga hal: lokasi episenter, kedalaman, dan wilayah yang dilaporkan merasakan guncangan. Ketiga informasi itu tersedia dalam setiap rilis resmi BMKG dan menjadi dasar penilaian dampak.
Unggahan di media sosial sering memakai angka magnitudo awal tanpa menyebut kedalaman. Cara itu membuat sebuah gempa menengah terdengar seperti ancaman besar, padahal kedalamannya yang membuat guncangan meredam sebelum mencapai permukaan.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar belum merilis pernyataan resmi tertulis terkait peristiwa ini selain keterangan BPBD melalui media. Warga yang membutuhkan informasi lanjutan dapat memantau kanal resmi BMKG dan BPBD setempat.
Catatan Penutup
Situasi di Kepulauan Tanimbar pada Kamis siang berlangsung normal. Tidak ada kerusakan, tidak ada korban, dan tidak ada peringatan tsunami yang diberlakukan. Gempa magnitudo 6,2 pada kedalaman 164 kilometer di Laut Banda tercatat sebagai salah satu peristiwa yang getarannya dirasakan warga di empat wilayah, tetapi berakhir tanpa dampak.
Yang tersisa dari peristiwa ini adalah pengingat yang berulang: Maluku berada di kawasan gempa, dan sebagian besar kejadian tidak dapat diprediksi sebelumnya. Kesiapsiagaan di tingkat rumah tangga, sekolah, dan desa tetap menjadi lapisan pertahanan pertama.
BMKG akan terus memantau aktivitas gempa susulan dan menyampaikan pemutakhiran informasi kepada pemangku kepentingan dan masyarakat. Hingga pukul 05.30 WIB, belum ada gempa susulan yang terdeteksi.
Foto sampul: Pelabuhan Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pada waktu senja. Dokumentasi KPPN Saumlaki melalui Wikimedia Commons, berstatus domain publik.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.