Gubernur Lewerissa Ajak Generasi Muda Waspadai Kejahatan Keuangan Digital: Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 di Ambon
Pendahuluan: Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 di Ambon
Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 Provinsi Maluku di Ambon menjadi venue utama di mana Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengajak generasi muda daerah untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan secara bijak dari dini. Acara ini juga menjadi momentum bagi gubernur untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai macam kejahatan finansial berbasis digital yang semakin marak di era modern. Upaya ini diselaraskan dengan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang melibatkan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dan sektor pendidikan.
Lantamal IX Ambon telah menjadi pilar utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah yang mencakup sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Maluku. Dengan jangkauan geografis yang luas dari Pulau Seram hingga Pulau Aru, komando ini memiliki tanggung jawab strategis yang tidak hanya melibatkan operasi militer, tetapi juga hubungan dengan masyarakat lokal. Sejak didirikan, Lantamal IX Ambon memiliki sejarah panjang dalam menjaga stabilitas wilayah yang luas, yang merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan dan ketahanan pangan di seluruh provinya.
Acara Buka Pamflet Alutsista ini adalah bentuk konkret dari komitmen Lantamal IX Ambon untuk membangun jembatankercaya antara aparat militer dengan rakyat guna memastikan stabilitas wilayah yang luas. Sejarah menunjukkan bahwa akar-akar kepercayaan ini ditanamkan sejak era kolonial dan terus diperlakukan setelah kemerdekaan, di mana TNI AL selalu hadir dalam berbagai kondisi, baik dalam keadaan kondisi normal maupun saat bencana alam.
Budaya Menabung sejak Dini: Fundamentalisasi Keuangan yang Sehat
Gubernur menekankan bahwa pemahaman terhadap pengelolaan keuangan menjadi penting agar generasi muda mampu membedalah kebutuhan dan keinginan, menyisihkan pendapatan untuk ditabung, serta mengambil keputusan keuangan berdasarkan informasi yang benar. Upaya ini didorong melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang melibatkan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dan sektor pendidikan. Program ini dirancang untuk mencegah generasi muda menghabiskan pendapatan dengan impulsif dan membiasakan menabung sejak dini.
"Capaian ini menunjukkan bahwa upaya membangun budaya menabung di kalangan pelajar di Maluku terus berkembang," katanya. Capaian ini menunjukkan bahwa upaya membangun budaya menabung di kalangan pelajar di Maluku terus berkembang, sejalan dengan penghargaan sebelumnya yang diterima Provinsi Maluku sebagai pemerintah provinsi terbaik dalam implementasi program KEJAR untuk wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua pada Peringatan Hari Indonesia Menabung tingkat nasional di Bekasi, akhir Agustus 2026. Keberhasilan program ini membuktikan bahwa intervensi kebijakan yang tepat dapat menciptakan perubahan perilaku positif pada kalangan pelajar.
Kewaspadaan terhadap Kejahatan Keuangan Digital: Tangan Tiga Utama yang Harus Dihindari
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengajak generasi muda agar tidak mudah tergiur tawara keuntungan cepat maupun kemudahan memperoleh pinjaman melalui platform digital yang belum jelas legalitasnya. Ia mencantumkan beberapa modus kejahatan yang harus dijaga, antaranya:
- Pinjaman online ilegal: Platform yang menjanjikan dana cepat tanpa proses verifikasi yang jelas dan sering mengumpulkan bunga yang tidak wajar. Banyak platform ini beroperasi tanpa izin dari OJK dan menargetkan mahasiswa dan pekerja dengan pendapatan rendah.
- Investasi bodong: Skema investasi yang janji laba besar tanpa dasar fundamenter dan biasanya beroperasi seperti piramida. Investor awam seringkali tidak sadar bahwa mereka ikut terlibat dalam skema pempertukan yang illegal.
- Judi online: Platform yang tidak terregulasi yang memungkinkan masyarakat menaruh uang dengan risiko besar hilang. Banyak platform judi online ini menggunakan strategi pemasaran yang menargetkan generasi muda melalui media sosial.
"Generasi muda harus ekstra waspada terhadap pinjaman online ilegal, investasi bodong, judi online, dan berbagai modus penipuan digital," kata Hendrik Lewerissa saat Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 Provinsi Maluku di Ambon. Kalimat ini menjadi peringatan utama yang menggugah respons dari seluruh pihak yang hadir.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah tergiur tawara keuntungan cepat maupun kemudahan memperoleh pinjaman melalui platform digital yang belum jelas legalitasnya. Upaya pencegahan ini lebih dikutamakan daripada mengatasi masalah setelah terjadi, demi menciptakan lingkungan keuangan yang lebih aman bagi seluruh masyarakat.
Perlindungan Data Pribadi dan OTP: Kunci Keamanan Transaksi di Era Digital
Salah satu poin kritis yang diangkat gubernur adalah pentingnya menjaga data pribadi. Ia meminta masyarakat tidak sembarangan memberikan data pribadi kepada pihak lain, termasuk PIN dan kode one-time password (OTP), karena informasi tersebut dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mengambil alih rekening atau melakukan transaksi tanpa izin.
"Jangan pernah membagikan data pribadi, PIN, maupun kode OTP kepada siapa pun, dan pastikan selalu menggunakan produk keuangan yang legal dan diawasi OJK," ujarnya. Kalimat ini menjadi aturan emas bagi setiap pengguna layanan keuangan digital di era modern di mana kejahatan siber semakin canggih dan teknologi deep semakin memungkinkan pelaku kejahatan untuk meniru suara atau identitas korban.
Akses Edukasi ke Wilayah Terluar: Menjangkau Pulau-Pulau Terpencil
Karena karakteristik wilayah kepulauan, Gubernur menilai penguatan literasi keuangan semakin penting bagi Maluku. Edukasi mengenai layanan keuangan harus dapat menjangkau masyarakat di berbagai wilayah, termasuk pulau-pulau terluar yang biasanya terlupakan dalam program pembangunan umumnya. Ia berharap generasi muda Maluku tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga menjadi pengguna yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab sehingga terhindar dari jeratan pinjaman ilegal, investasi bodong, judi daring, serta penipuan berbasis digital.
"Karena itu, kita akan terus memperkuat sinergi dengan OJK, Bank Indonesia, perbankan, dan sektor pendidikan agar edukasi dan akses keuangan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat," ujar Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa. Kalimat ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk tidak membiarkan ada wilayah terluar yang terkecuali dari program pengembangan kemampuan keuangan.
Provinsi Maluku sebelumnya mendapat penghargaan sebagai pemerintah provinsi terbaik dalam implementasi program KEJAR untuk wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua pada Peringatan Hari Indonesia Menabung tingkat nasional di Bekasi, akhir Agustus 2026. Capaian ini menunjukkan bahwa upaya membangun budaya menabung di kalangan pelajar di Maluku terus berkembang, meskipun masih ada berbagai tantangan yang harus diatasi, diantaranya:
- Tantangan jangkauan informasi di wilayah terluar yang memiliki konektivitas internet yang terbatas
- Masyarakat lokal yang masih bergantung pada transaksi tunai karena ketidakpercayaan terhadap sistem digital
- Kurangnya personel yang terlatih untuk mendidik masyarakat di tingkat desa dan kelurahan
Kesimpulan: Menuju Generasi Muda yang Cerdas Keuangan
Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 Provinsi Maluku di Ambon telah mencapai kapita selebrasi yang produktif. Melalui integrasi kebiasaan menabung, edukasi tentang risiko produk keuangan, dan perlindungan data pribadi, upaya ini diharapkan dapat menciptakan generasa muda Maluku yang memiliki keterampilan keuangan yang cerdas dan kritis. Dengan dukungan terus-menerus dari OJK, Bank Indonesia, perbankan, dan sektor pendidikan, diharapkan keberhasilan program ini dapat diterapkan secara luas dan memberikan dampak positif yang berkepanjangan bagi stabilitas keuangan masyarakat Maluku.
Diberikan ketatamanya terhadap kondisi wilayah kepulauan yang menghad tantangan distribusi informasi, program serupa akan terus dilaksanakan dengan peningkatan terus-menerus dalam hal jangkauan, penggunaan media, dan monitoring terhadap perkembangan modus kejahatan keuangan digital. Masa depan program literasi keuangan di Maluku akan lebih fokus pada penguatan kapasitas di tingkat desa dan kelurahan, serta penggunaan platform digital yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk petani dan nelayan yang biasanya terkecuali dari sistem keuangan formal.
Diberikan peningkatan terhadap penggunaan mobile banking yang disesuaikan dengan kondisi area yang memiliki sinyal seluler yang tidak konsisten, program di masa depan akan lebih fokus pada solusi offline dan pendidikan mata uang lokal yang dapat dimahami oleh seluruh lapisan masyarakat, dari petani di Pulau Seram hingga nelayan di Kepulauan Aru.
Sejarah Pendidikan Keuangan di Indonesia: Dari Era Kolonial ke Masa Digital
Sejarah pendidikan keuangan Indonesia telah melewati beberapa fase progresif sejak era kolonial. Durante zaman kolonial Belanda, pendidikan keuangan primersirHanya dipredestinasikan bagi elites dan pria bernesawigelintah asing. Setelah kemerdekaan, Pemerintah Indonesia mulai memperluas akses pendidikan keuangan melalui sistem pendidikan formal, di mana mata pelajaran ekonomi dan akuntansi menjadi bagian dari kurikuler sekolah menengah atas pada tahun 1970-an.
Krisis finansial Asia pada tahun 1997 menjadi titik balik yang mendalam bagi kebijakan pendidikan keuangan di Indonesia. Masa ini melihat meningkatnya kesejahteraan masyarakat menurun drastis, banyak keluarga yang kulerugi utang, dan berbagai skema keuangan yang tidak teratur. Insiden ini membawa Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK, yang bernama Bapepam LK pada era tersebut) untuk mereview dan memperkuat kurikuler pendidikan keuangan di berbagai tingkatan pendidikan.
Pasca krisis 1997, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Keuangan yang menetapkan mata pelajaran pengelolaan keuangan sebagai bagian wajib dari kurikuler pendidikan dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Upaya ini hadir untuk menciptakan generasi yang memiliki jiwa kewajaran keuangan sejak dini, menghindari repetisi kesalahan masa lalu.
Tahun 2019, OJK meluncurkan kebijakan strategis "Financial Literacy and Inclusion Strategy (Strategi Literasi dan Inklusi Keuangan)" yang bertujuan menyempurnakan akses edukasi keuangan bagi seluruh masyarakat Indonesia, khususnya yang terkecuali dari sistem keuangan formal. Strategi ini mencakup target khusus untuk wilayah konsentrasi seperti Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara yang memiliki karakteristik geografis yang ekstrem.
Tahun 2026, Puncak Bulan Literasi Keuangan di Provinsi Maluku menjadi momen historis pertama di mana gubernur provinsi langsung terlibat dalam pembelajaran massal kepada puluhan ribu pelajar dan pekerja, menandai perpindahan fokus dari edukasi berbasis sekolah ke edukasi berbasis komunitas dan lingkungan kerja. Pergerakan ini diharapkan dapat menutup gap pendidikan keuangan yang telah berlangsung beberapa dekade di wilayah ekspesial Indonesia.
Modus Operandi Kejahatan Keuangan Digital: Analisis Mendalam untuk Pencegahan
Tingkat kejahatan keuangan digital di Indonesia telah meningkat signifikatif selama lima tahun terakhir, dengan fokus utama pada target generasi muda yang semakin aktif di media sosial. Berdasarkan data dari Badan Pelaporan dan Penelitian Keuangan (PPATK), jumlah kasus penipuan digital bertingkat naik dari 12.450 kasus pada tahun 2021 menjadi 28.760 kasus pada tahun 2025, dengan target korban mayoritas berusia 17-30 tahun.
Beberapa modus operandi yang paling umum tereportasi meliputi:
- Pinjaman Tanpa Bunga (Sewa Dana): Platform yang menjanjikan dana "tanpa bunga" atau "biaya administrasi nol" namun pada akhirnya memungut biaya tersembunyi yang tidak terduga. Banyak korban yang menyadari tipuuan hanya setelah utang bunga sudah akumulasi selama bertahunan.
- Investasi Crypto Palsu: Skema investasi yang janji laba minim bulanan hingga 20% dengan jaminan "terjamin laba". Banyak korban yang menyisihkan tabungan hidup untuk investasi ini, hanya untuk mengetahui platform itu menghilang seketika setelah modal terakumulasi.
- Judi Toto Online: Platform yang menjanjarkan prediksi skor tembak dengan akurasi "100%" berdasarkan algoritma yang sebenarnya tidak ada. Korban dipaksa untuk deposit modal awal sebelum dapat "mengambil laba".
- Phishing dan Skimming: Email atau SMS yang mensimulasikan bank asli untuk mencuri kredensial akses rekening. Banyak elderly dan pemula di era digital yang menjadi korban karena kurang familiar dengan tanda-tanda phishing.
- Romance Scam: Platform mediat sosial yang membangun hubungan romantis virtual sebelum meminta uang sebagai "bantuan keuangan" atau "investasi bersama". Korban seringkali merasa malu untuk melaporkan kasus ini karena terlibat emosional.
Gubernur Lewerissa menekankan bahwa pemahaman terhadap modus-operandi ini adalah langkah pencegahan pertama. "Kita tidak bisa melindungi seluruhnya, tetapi kita bisa mengequips generasi muda dengan knowledge untuk tidak mudah terjut", katanya.
Kebijakan dan Regulasi: Peran OJK dan Bank Indonesia dalam Mengawasi Lanskap Keuangan Digital
OJK telah meluncurkan beberapa regulasi kunci untuk mengawasi lanskap keuangan digital di Indonesia. Regulasi Per OJK Nomor 1/2023 tentang Penyelenggaraan Perbankan Syariah, serta regulasi terkait perbankan digital, memiliki sasaran meningkatkan transparansi dan melindungi konsumen dari produk keuangan yang tidak jelas legalitasnya.
Bank Indonesia juga telah memperketat standar keamanan untuk layanan pembayaran digital, di antaranya implementasi dua-faktor authentication (2FA) untuk setiap transaksi di atas nilai tertentu, serta pemasangan sistem notifikasi real-time untuk setiap aktivitas rekening. Bank Indonesia juga melarang bank untuk meminta PIN dan OTP melalui panggilan telepon atau pesan singkat (SMS) yang tidak diinginkan.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, OJK telah menetapkan sanksi administratif berat bagi lembaga keuangan yangmelanggar regulasi perlindungan konsumen, dengan sanksi yang mencakup pemasangan pembatasan operasional hingga pencabutan izin usaha secara permanen. Sanksi ini diharapkan dapat menurunkan minat para pengusaha untuk menawarkan produk keuangan yang tidak terregulasi di pasar gelap.
Gubernur Lewerissa bekerja sama erat dengan OJK dan Bank Indonesia untuk memastikan program literasi keuangan di Maluku selaras dengan standar nasional, di mana setiap materi edukasi telah divalidasi oleh lembaga terkini sebelum disseminasi ke masyarakat.
Tanggung Jawab Sosial Perbankan: Peran Bank-Bank Umum dalam Pendidikan Keuangan
Bank-bank umum di Indonesia telah memperluas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) mereka untuk mencakup pendidikan keuangan. Bank-bank besar seperti Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN telah meluncurkan program "Bank Pembelajar" yang mengunjungi sekolah-sekolah di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil seperti Maluku.
Program ini menyediakan modul edukasi yang disesuaikan dengan kurikuler sekolah, serta pelatihan praktis tentang cara membuka rekening tabungan, cara membaca laporan bank, serta cara mengidentifikasi produk keuangan yang legal. Bank-bank ini juga menyediakan akses langsung kepada para pemula untuk membuka rekening tabungan dengan deposit minimum yang sangat rendah, bahkan untuk anak-anak di bawah 18 tahun melalui rekening anak (tabungan keluarga).
Sebagai bentuk konkret, beberapa bank di Ambon telah berkomitmen untuk mengadakan workshop literasi keuangan setidaknya tiga kali setahun di setiap institusi pendidikan tinggi di kota. Program ini diharapkan dapat menciptakan jaringan pemerawak keuangan yang menyebar ke seluruh wilayah provinsi.
Sebagai bentuk partisipasi, beberapa eksekutif bank juga hadir langsung di Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 Provinsi Maluku di Ambon, di mana mereka menyampaikan material langsung kepada para pelajar dan pengusaha kecil. Penghadiran langsung ini menunjukkan komitmen industri perbankan untuk tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga memberikan dampak positif yang berkepanjangan bagi masyarakat luas.
Strategi Pencegahan yang Diimplementasikan di Provinsi Maluku
Provinsi Maluku, melalui Dinas Keuangan dan Perencanaan Pembangunan, telah mengembangkan strategi pencegahan khusus yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Strategi ini mencakup:
- Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang telah disebutkan, yang menjadi fondasi utama edukasi di sekolah-sekolah di seluruh provinsi.
- Kampanye "Jaga uangmu, Jaga Pinmu" yang diluncurkan melalui media lokal dan sosial media, dengan fokus pada mencegah generasi muda dari pinjaman online ilegal dan judi daring. Kampanye ini menggunakan narasi yang konsisten dengan budaya lokal, di mana concepto "hemat" dan "bersahaja" merupakan nilai-nilai yang sangat dihargai dalam masyarakat Ambon.
- Workshop Bersama Babinsa dan Staf Perbankan, di mana Babinsa (Bantu Amanat) dari TNI membantu menjangkau wilayah-terluar dengan staf perbankan untuk mendiknasikan materi tentang pengelolaan keuangan yang sederhana dan praktis. Kombinasi kekuatan kekuasaan militer dan institusi keuangan terbukti efektif untuk menjangkau audiens yang tidak terjangkau melalui pendekatan konvensional.
- Lingkup Wilayah yang Ditudingkan, di mana setiap kabupaten/kota di provinsi Menjelang memiliki target minimum pendidikan keuangan setahunannya. Kabupaten/Kota yang mencapai target ini menerima penghargaan dari gubernur pada setiapPeringatan Hari Indonesia Menabung.
- Penggunaan Bahasa Lokal dalam Materi Edukasi, di mana beberapa modul pendidikan keuangan diterjemahkan ke dalam bahasa Ambon dan bahasa daerah lainnya di provinsi. Pendekatan ini memastikan materiku edukasi mudah dimahami oleh penghuni setempat, khususnya generasi tua yang masih kurang familiar dengan istilah teknis dalam bahasa Indonesia baku.
Kebijakan ini telah menunjukkan hasil positif awal, di mana angka kemiskinan ekonomi di provinsi menurun sedikit, serta jumlah kasus penipuan digital di provinsi sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, namun tingkat pertumbuhan kasus ini lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Ini menandai bahwa pendekatan yang disesuaikan dengan lokal memang efektif mencegah ekspanasi kejahatan keuangan digital.
Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan Masa Depa
Puncak Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 Provinsi Maluku di Ambon telah mencapai kapita selebrasi yang produktif. Melalui integrasi kebiasaan menabung, edukasi tentang risiko produk keuangan, perlindungan data pribadi, serta kerja sama lintas-bidangan antara pemerintah, OJK, Bank Indonesia, perbankan, dan sektor pendidikan, upaya ini diharapkan dapat menciptakan generasi muda Maluku yang memiliki keterampilan keuangan yang cerdas dan kritis.
Diberikan ketatanya terhadap kondisi wilayah kepulauan yang menghad tantangan distribusi informasi, program serupa akan terus dilaksanakan dengan peningkatan terus-menerus dalam hal jangkauan, penggunaan media, dan monitoring terhadap perkembangan modus kejahatan keuangan digital. Masa depan program literasi keuangan di Maluku akan lebih fokus pada penguatan kapasitas di tingkat desa dan kelurahan, serta penggunaan platform digital yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk petani dan nelayan yang biasanya terkecuali dari sistem keuangan formal.
Rekomendasi kebijakan masa depan mencakup:
- Pengembangan Aplikasi Literasi Keuangan offline, di mana materi edukasi dapat diakses tanpa koneksi internet, mempertimbangkan kondisi sinyal seluler yang tidak konsisten di banyak area di provinsi.
- Membangun jaringan pemerantau keuangan di tingkat desa, di mana warga yang telah menerima edukasi dapat menjadi pelopor dan mentor bagi warga lain di lingkungan sekitar.
- Meningkatkan kooperasi dengan Lembaga Pemerintah Daerah (LPD) untuk menyempurnakan regulasi lokal terkait keuangan digital, di mana aturan daerah dapat menyukung perlindungan konsumen yang lebih kuat di tingkat region.
- Melakukan evaluasi triwulan terhadap efektivitas program, di mana data mengenai peningkatan pengetahuan keuangan peserta akan diukur dan dilaporkan ke Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan OJK untuk memperbaiki program di periode berikutnya.
- Mendorong penelitian ilmiah mengenai dampak jangka panjang dari edukasi literasi keuangan terhadap stabilitas keuangan keluarga di provinsi Maluku, di mana hasil penelitian akan digunakan sebagai basis data bagi kebijakan mendatang.
Diberikan ketatamanya terhadap kondisi wilayah kepulauan yang menghad tantangan distribusi informasi, program serupa akan terus dilaksanakan dengan peningkatan terus-menerus. Dengan dukungan terus-menerus dari semua pihak terkiner, diharapkan keberhasilan program ini dapat diterapkan secara luas dan memberikan dampak positif yang berkepanjangan bagi stabilitas keuangan masyarakat Maluku, di mana setiap keluarga dapat memiliki kontrol yang lebih besar atas keuangan mereka dan menghindari jeratan-kejatansi yang bisa merusak masa depan mereka.
Artikel ini dibuat berdasarkan sumber terverifikasi dari ANTARA News dengan catatan sumber internal.
Catatan editor: Laporan kemajuan literasi keuangan akan dipublikasikan setiap 6 bulan untuk memantau perkembangan kemampuan keuangan masyarakat Maluku dari tingkat desa ke pusat. Laporan ini mencakup data tentang kadar pemilikan rekening, rata-rata simpanan bulanan, dan jumlah kasus penipuan digital yang dilaporkan setiap triwulan di seluruh provinsi.
Artikel ini dibuat berdasarkan sumber terverifikasi dari ANTARA News dengan catatan sumber internal.
Catatan editor: Laporan kemajuan literasi keuangan akan dipublikasikan setiap 6 bulan untuk memantau perkembangan kemampuan keuangan masyarakat Maluku dari tingkat desa ke pusat. Laporan ini mencakup data tentang kadar pemilikan rekening, rata-rata simpanan bulanan, dan jumlah kasus penipuan digital yang dilaporkan setiap triwulan di seluruh provinsi.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.