Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 3,91 persen pada September 2026. Angka itu meningkat dibandingkan inflasi Agustus 2026 yang tercatat 3,68 persen. Pada periode yang sama, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Maluku berada di angka 113,97. Penjelasan ini disampaikan Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, secara daring dari Ambon pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Peningkatan inflasi tahunan itu tidak merata di seluruh Maluku. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 4,76 persen dengan IHK sebesar 115,41, disusul Kota Tual pada 4,38 persen. Inflasi terendah tercatat di Kabupaten Maluku Tengah sebesar 2,57 persen dengan IHK sebesar 111,63. Ketiga wilayah itu merupakan daerah barometer yang dipakai BPS untuk menghitung angka inflasi provinsi.

Ilustrasi: Pasar Pelabuhan Bastiong, Kota Ternate, Maluku Utara. Foto oleh Fabio Achilli, lisensi CC BY 2.0 melalui Wikimedia Commons. Gambar ini menampilkan suasana pasar di Maluku, bukan foto kegiatan tertentu di Ambon.

Tiga Daerah Barometer Menunjukkan Angka yang Berbeda

Laju inflasi tahunan Provinsi Maluku untuk September 2026 tercatat sebesar 3,91 persen. Angka ini menunjukkan tingkat kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam pembacaan ekonomi, inflasi tahunan menggambarkan perubahan harga dalam jangka waktu setahun bagi konsumen. Bagi rumah tangga di Maluku, angka tersebut berarti biaya kebutuhan sehari-hari secara keseluruhan mengalami kenaikan dengan besaran sekitar 3,91 persen jika dibandingkan setahun sebelumnya. Hal ini tercermin dalam pergerakan Indeks Harga Konsumen, yang menjadi tolok ukur untuk melihat tekanan harga yang dirasakan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Indeks Harga Konsumen Provinsi Maluku pada September 2026 tercatat sebesar 113,97. Secara umum, angka indeks ini merupakan ukuran kumulatif perubahan harga dari tahun dasar, sehingga naiknya indeks menunjukkan adanya kenaikan tingkat harga barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. Angka tersebut berkaitan erat dengan inflasi tahunan 3,91 persen yang juga tercatat untuk periode yang sama. Bagi masyarakat Maluku, IHK 113,97 bisa dibayangkan sebagai tingkat harga umum yang lebih tinggi dibandingkan tahun dasar. Namun, besaran ini tidak menjelaskan rincian barang tertentu, melainkan menggambarkan rata-rata perubahan harga secara keseluruhan untuk kelompok pengeluaran rumah tangga.

Laju inflasi tahunan Maluku mengalami kenaikan dari 3,68 persen pada Agustus 2026 menjadi 3,91 persen pada September 2026. Secara umum, pergeseran ini menunjukkan tekanan harga yang sedikit bertambah dibandingkan bulan sebelumnya, tanpa menjelaskan faktor penyebabnya. Bagi rumah tangga di Maluku, kenaikan tersebut berarti laju kenaikan biaya hidup yang mereka rasakan bergerak naik dari sekitar 3,68 persen ke sekitar 3,91 persen dalam perbandingan tahunan. Perbedaan sebesar 0,23 persen tersebut merupakan perubahan laju, bukan perubahan harga total. Dengan kata lain, kecepatan kenaikan harga secara tahunan sedikit meningkat pada September dibandingkan Agustus.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, transportasi mencatat inflasi tahunan sebesar 11,62 persen, yang merupakan angka tertinggi di antara kelompok yang tertera. Secara umum, kelompok ini mencakup pengeluaran terkait jasa angkutan yang digunakan masyarakat sehari-hari. Bagi rumah tangga di Maluku, kenaikan harga dalam kelompok transportasi dapat berdampak langsung pada biaya mobilitas, baik untuk keperluan bekerja maupun kebutuhan lainnya. Namun, fakta yang tersedia hanya menunjukkan besaran angka tersebut, bukan rincian komoditas atau penyebabnya. Artinya, tekanan harga terberat yang terlihat pada data tersebut berada pada kelompok pengeluaran transportasi.

Kelompok pengeluaran kesehatan mencatat inflasi tahunan sebesar 5,61 persen. Secara umum, pengeluaran ini berkaitan dengan layanan kesehatan yang dibutuhkan rumah tangga, yang bisa bersifat rutin maupun tidak terduga. Bagi masyarakat Maluku, kenaikan pada kelompok ini berarti biaya untuk kebutuhan kesehatan secara rata-rata naik sebesar 5,61 persen dibandingkan tahun lalu. Angka ini menunjukkan tekanan harga pada sektor layanan kesehatan, meski fakta yang tersedia tidak menjelaskan penyebabnya. Tekanan tersebut tercatat sebagai salah satu dari tiga kelompok dengan kenaikan tertinggi dalam data inflasi Provinsi Maluku.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan sebesar 4,20 persen, sehingga melengkapi tiga kelompok pengeluaran dengan kenaikan tertinggi menurut data yang tersedia. Secara umum, kelompok ini mencakup beragam jasa dan kebutuhan perawatan yang digunakan rumah tangga. Bagi masyarakat di Maluku, angka tersebut berarti biaya untuk kebutuhan ini secara rata-rata naik sekitar 4,20 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Besaran ini menambah tekanan pada pengeluaran rumah tangga bersama dengan transportasi dan kesehatan. Dengan demikian, ketiga kelompok tersebut memberikan gambaran tentang bagian pengeluaran yang mengalami kenaikan paling menonjol pada periode September 2026.

Sepuluh Kelompok Pengeluaran, Sembilan Naik dan Satu Turun

Menurut Pattiwaellapia, inflasi tahunan terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sepuluh kelompok pengeluaran. Transportasi mencatat kenaikan paling tinggi, disusul kesehatan dan perawatan pribadi. Sembilan kelompok lainnya bergerak naik dengan besaran yang lebih kecil, sementara satu kelompok bergerak turun.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau, penyumbang utama belanja harian, naik 3,92 persen secara tahunan pada September 2026, angka yang lebih tinggi daripada kenaikan kelompok pendidikan sebesar 3,12 persen. Bagi rumah tangga di Maluku, kelompok inilah yang paling dekat dengan keseharian, sebab menyangkut belanja pasar dan kebutuhan dapur setiap hari. Secara umum, kelompok dengan bobot sebesar itu biasanya lebih cepat terasa karena barangnya dibeli secara rutin, bukan sesekali. Karena itu, kenaikan sebesar itu menjadi catatan yang paling sulit diabaikan ketika keluarga menghitung pengeluaran sebulan.

Pendidikan naik 3,12 persen secara tahunan pada September 2026, angka yang lebih rendah dari kenaikan makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,92 persen. Bagi keluarga yang memiliki anak bersekolah, kelompok ini terasa pada barang dan jasa yang menyertai kegiatan belajar, dari perlengkapan belajar sampai biaya yang berkaitan dengan mengajar. Secara umum, pengeluaran pendidikan jarang berubah drastis dari tahun ke tahun, sehingga kenaikan yang tidak besar pun tetap terasa ketika keluarga menata anggaran. Dalam pembacaan ekonomi, angka itu lebih tepat dibaca sebagai harga yang lebih tinggi.

Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 2,03 persen secara tahunan, sementara perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 1,38 persen. Keduanya bergerak naik, tetapi tidak setinggi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 3,92 persen. Bagi rumah tangga, kelompok pertama menyangkut tagihan rutin setiap bulan, sedangkan kelompok kedua menyangkut barang yang dibeli sesekali saat rumah perlu dirawat. Secara umum, kenaikan tagihan rutin lebih sulit ditunda karena menyangkut kebutuhan dasar.

Rekreasi, olahraga, dan budaya naik 2,07 persen secara tahunan, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 1,94 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,31 persen. Ketiganya termasuk kenaikan yang paling pelan di antara kelompok yang bergerak naik, meski tidak satu pun berada di zona deflasi. Bagi keluarga di Maluku, belanja di luar kebutuhan pokok memang tidak besar, tetapi menumpuk ketika dilakukan secara rutin. Secara umum, kenaikan yang kecil terasa lebih lama daripada kenaikan besar yang datang sekali saja, sehingga arah angka tahunan tidak selalu sama dengan beban yang dirasakan setiap bulan.

Kebalikan datang dari pakaian dan alas kaki, yang turun 2,63 persen secara tahunan. Kelompok ini satu-satunya di antara kelompok pengeluaran yang tercatat menurun pada September 2026. Secara umum, penurunan harga berarti barang yang sama dapat dibeli lebih murah sekarang dibandingkan setahun sebelumnya. Bagi keluarga di Maluku, selisih itu bisa terasa saat membeli pakaian dan sepatu, tetapi tidak otomatis mengurangi beban belanja pangan yang justru naik 3,92 persen. Kenaikan dan penurunan dapat hidup berdampingan dalam satu rumah.

Pada September 2026 harga secara bulanan justru turun 0,07 persen, berbalik arah dari Agustus 2026 ketika harga naik 0,81 persen. Sementara itu, inflasi tahunan secara angka tetap bergerak naik, sehingga dua ukuran itu tidak perlu saling meniadakan. Secara umum, angka tahunan membandingkan harga dengan tahun sebelumnya, sedangkan angka bulanan membandingkannya dengan bulan sebelumnya, dan keduanya dapat bergerak ke arah berbeda. Bagi pembaca, September terasa lebih ringan pada pakaian dan alas kaki yang turun 2,63 persen, sementara belanja pangan tetap membawa tambahan beban sebesar 3,92 persen. Dua arah yang tampak bertentangan itu sama-sama benar.

Komoditas yang Menaik dan Komoditas yang Menekan Harga

Kenaikan indeks tahunan itu tidak hanya datang dari kelompok dengan bobot besar. BPS merinci sejumlah komoditas yang ikut memberi dorongan, dari tarif angkutan udara hingga harga cabai dan ikan. Daftar itu memberi gambaran bahwa tekanan harga terjadi di beberapa arah sekaligus.

Inflasi tahunan Maluku sepanjang September 2026 punya delapan penyumbang utama. Tarif angkutan udara, bensin, cabai merah, ikan cakalang, emas perhiasan, cabai rawit, mobil, dan sigaret kretek mesin menjadi penyumbang utama kenaikan harga dalam setahun. Bagi rumah tangga di Maluku, kenaikan seperti ini terasa pada pengeluaran rutin yang sulit dihindari. Secara umum, barang kebutuhan pokok yang bergantung pada transportasi cenderung lebih lambat menyesuaikan diri dibandingkan barang yang tersedia di pasar setempat. Harga emas perhiasan juga berkaitan dengan kebutuhan sosial, bukan pangan, tetapi tetap masuk dalam hitungan inflasi. Deretan itu menunjukkan tekanan biaya hidup yang beragam, tanpa mengurangi pentingnya ikan cakalang sebagai sumber protein sehari-hari bagi masyarakat pesisir.

Delapan barang itu bukan satu-satunya yang bergerak. Nasi dengan lauk, ikan layang atau momar, ikan tongkol atau komu, bahan bakar rumah tangga, dan minyak goreng juga tercatat menyumbang kenaikan harga tahunan. Kombinasi pangan dan energi seperti ini punya arti praktis bagi pembaca rumah tangga, sebab pos belanja bisa naik dari dua arah sekaligus, dari kebutuhan makan dan dari kebutuhan bergerak. Secara umum, kenaikan harga bahan bakar rumah tangga ikut memengaruhi biaya pengangkutan barang menuju pasar, sehingga harga pangan yang sampai ke konsumen tidak hanya bergantung pada panen. Bagi keluarga kecil di Maluku, dua komponen ini menyita perhatian karena keduanya dibayar rutin, bukan sesekali.

Arah harga dalam sebulan tidak sama dengan arah harga dalam setahun. Daftar penekan harga bulanan didominasi empat jenis ikan. Ikan tongkol atau komu, ikan cakalang, ikan selar atau kawalinya, dan ikan layang atau momar masuk daftar itu, disusul bawang merah, kangkung, dan bawang putih. Deretan ikan itu penting bagi pembaca yang membandingkan belanja harian akhir bulan dengan bulan sebelumnya. Untuk keluarga yang menggantungkan hidup pada hasil laut, penurunan pada September dibaca sebagai kabar baik. Secara umum, penurunan harga laut dalam waktu singkat tidak selalu bertahan lama pada bulan berikutnya.

Tidak semua penurunan pada September berhenti pada ikan dan bawang. Tarif angkutan udara, lemon, bayam, kebutuhan mandi, pakaian, tas sekolah, dan kentang ikut turun pada bulan itu. Tarif yang juga turun menarik untuk dicermati, sebab tarif yang sama masuk daftar penyumbang kenaikan tahunan. Bayam, kentang, dan lemon adalah bahan segar yang harganya mudah berubah mengikuti musim dan pasokan. Pakaian dan tas sekolah yang ikut turun harga, begitu pula kebutuhan mandi.

Arah harga dalam sebulan justru bergerak sebaliknya. Maluku mencatat deflasi month to month sebesar 0,07 persen pada September 2026, berbalik dari inflasi bulanan 0,81 persen pada Agustus. Secara year to date, inflasi tercatat 2,84 persen.

Perbandingan dengan Inflasi Nasional

Sebagai pembanding, inflasi nasional September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan dan 0,30 persen secara bulanan. Angka Maluku berada di atas rata-rata nasional, dan perbandingan itu perlu dibaca sebagai informasi, bukan sebagai penilaian terhadap kondisi ekonomi daerah.

Inflasi nasional September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, sedangkan secara bulanan berada di 0,30 persen. Perbandingan dengan angka nasional memberi konteks yang sebaiknya dibaca dengan tenang, bukan sebagai tanda bahaya. Bagi pembaca di Maluku, angka nasional adalah pembanding arah, bukan ukuran langsung dari harga di pasar Ambon.

Indeks Harga Konsumen nasional naik dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026. Kenaikan indeks itu adalah cermin dari akumulasi harga selama satu tahun. Dalam pembacaan ekonomi, indeks ini dipakai sebagai tolok ukur relatif antara daerah. Inflasi tahunan Maluku 3,91 persen berada di atas angka nasional 3,28 persen. Selisih seperti ini perlu dibaca sebagai informasi, bukan sebagai alarm. Secara umum, angka yang lebih tinggi dari rata-rata nasional tidak otomatis berarti kondisi ekonomi daerah sedang memburuk. Inflasi tinggi bisa berasal dari struktur belanja yang berbeda, bukan hanya dari penurunan daya beli.

Dua Arah Harga yang Tampak Bertentangan

Secara ringkas, inflasi tahunan Maluku pada September 2026 berada di 3,91 persen, naik dari 3,68 persen pada Agustus, dengan Kota Ambon mencatat angka tertinggi 4,76 persen dan Maluku Tengah terendah 2,57 persen. Sepuluh kelompok pengeluaran tercatat naik dan satu kelompok, yaitu pakaian dan alas kaki, bergerak turun 2,63 persen.

Arah bulanan bergerak berlawanan dengan arah tahunan. Harga secara umum turun 0,07 persen pada September 2026, setelah naik 0,81 persen pada Agustus 2026. Ikan tongkol atau komu, cakalang, selar atau kawalinya, dan layang atau momar, bersama bawang merah, kangkung, dan bawang putih, masuk daftar penyumbang penurunan harga bulanan.

Kedua arah itu sama-sama benar dan tidak saling meniadakan, karena keduanya membandingkan harga dengan titik acuan yang berbeda. Bagi pembaca, angka tahunan menjelaskan besaran perubahan harga dalam setahun, sedangkan angka bulanan menjelaskan arah pergerakan harga dalam sebulan terakhir.

Angka yang Perlu Diingat

Angka itu perlu dibaca sebagai gambaran umum, bukan catatan harga di setiap desa. Inflasi tahunan Maluku pada September 2026 mencapai 3,91 persen, naik dari 3,68 persen pada Agustus 2026, dengan IHK Provinsi Maluku di angka 113,97. Untuk menghitung angka provinsi, BPS memakai tiga wilayah barometer, yaitu Kota Ambon 4,76 persen, Kota Tual 4,38 persen, dan Kabupaten Maluku Tengah 2,57 persen. Angka provinsi bukan rata-rata sederhana dari ketiganya, melainkan hasil pembobotan sesuai karakter tiap wilayah. Deflasi bulanan September sebesar 0,07 persen juga perlu dibaca sebagai perubahan satu bulan, bukan penurunan harga dalam setahun.