AMBON — Kabut asap kembali mengganggu jadwal penerbangan di kawasan timur Indonesia pada Rabu, 7 Oktober 2026. Tiga pesawat yang menuju Bandara Domine Eduard Osok di Sorong, Papua Barat Daya, gagal mendarat dan mengalihkan pendaratan ke Bandara Pattimura di Ambon. Pada hari yang sama, kabut asap yang menyelimuti Bandara Karel Sadsuitubun di Langgur, Maluku Tenggara, menunda dua penerbangan pagi.
Pengalihan itu membuat Ambon kembali menjadi bandara tujuan ketika jarak pandang di Sorong anjlok di bawah batas keselamatan. Pesawat yang dijadwalkan turun sekitar pukul 06.00 WIT terpaksa mendarat di Pattimura setelah pilot berputar di wilayah udara Sorong tanpa berhasil.
Tiga pesawat mengalihkan pendaratan ke Ambon
Ketiga pesawat yang dialihkan pada Rabu pagi adalah Lion Air JT940, Garuda Indonesia GA682, dan Batik Air ID7797. Lion Air JT940 dengan nomor register PK-LKQ menerbangi rute Bandara Sultan Hasanuddin di Maros, Sulawesi Selatan, menuju Sorong. Pesawat berjenis Boeing 737-800 itu dijadwalkan mendarat di Sorong pukul 06.00 WIT, namun setelah pilot berputar di wilayah udara Sorong, pendaratan akhirnya dilakukan di Bandara Pattimura pukul 07.02 WIT.
Garuda Indonesia GA682 dengan nomor register PK-GNF datang dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten. Boeing 737-800 itu dijadwalkan tiba di Sorong pukul 06.20 WIT, tetapi kabut asap yang menyelimuti bandara tujuan membuat pilot mengalihkan pendaratan ke Ambon. Pesawat mendarat di Pattimura pukul 06.55 WIT.
Pesawat ketiga adalah Batik Air ID7797 dengan nomor register PK-BLA yang juga berangkat dari Soekarno Hatta. Airbus A320-200 itu dijadwalkan tiba di Sorong pukul 06.35 WIT dan akhirnya mendarat di Bandara Pattimura pukul 07.20 WIT.
Jarak pandang di bawah batas minimum
Manajer Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong, Hery Purnomo, menyebut gangguan penerbangan di Sorong paling terasa pada pagi hari ketika jarak pandang menurun hingga sekitar 2.000 meter berdasarkan laporan meteorologi. Angka itu jauh di bawah kebutuhan pesawat untuk mendarat dengan aman.
Pada Senin, 5 Oktober 2026, tiga pesawat dilaporkan tidak dapat masuk ke Sorong. Dua penerbangan dialihkan ke Biak dan satu lagi ke Ambon. Keesokan harinya kabut asap dinyatakan lebih pekat sehingga dua penerbangan rute Jakarta-Sorong, yakni Garuda Indonesia dan Batik Air, kembali memutuskan mengalihkan pendaratan ke Ambon.
Jarak pandang membaik menjelang siang hingga sekitar 3.000 meter. Pesawat yang sebelumnya dialihkan ke Ambon kemudian dapat melanjutkan penerbangan menuju Sorong, termasuk pesawat TransNusa dari Manado. Gangguan belum sepenuhnya berakhir karena penerbangan Lion Air 940 rute Makassar-Sorong-Manokwari-Jayapura masih tertahan di Sorong menunggu kondisi cuaca di Manokwari.
Hery menyebut jarak pandang di Manokwari hanya sekitar 1.500 sampai 2.000 meter sehingga belum memenuhi ketentuan pendaratan berdasarkan regulasi maupun prosedur maskapai. AirNav belum dapat memastikan kapan kondisi kembali normal, dan pihaknya mengandalkan prediksi BMKG sebagai dasar pelayanan navigasi penerbangan.
Soal batas teknis, disebutkan bahwa pesawat bermesin ganda seperti Boeing memiliki batas jarak pandang sekitar 1.600 meter menurut ketentuan AIP. General Manager Garuda Indonesia Sorong, Nadya Annisa, menjelaskan bahwa BMKG merilis jarak pandang minimum Bandara DEO sebesar 2,5 kilometer pada pukul 05.30 WIT, yaitu 30 menit sebelum pesawat tiba, dan angka itu belum memenuhi standar keselamatan pendaratan Garuda.
Keterlambatan tidak berhenti pada urusan pendaratan. Nadya Annisa menyebut penerbangan GA 682 dari Jakarta membawa rata-rata 120 penumpang. Pada Selasa, 6 Oktober, pesawat itu baru tiba di Sorong dari Ambon pukul 13.00 WIT setelah menunggu cuaca membaik, kemudian kembali beroperasi menuju Jakarta pukul 14.15 WIT dengan total keterlambatan sekitar tujuh jam.
Station Manager Lion Air Sorong, Suhardi, menyebut Batik Air ID 7797 mengangkut 144 penumpang ketika dialihkan ke Ambon. Ia menyatakan pihaknya tidak memberikan kompensasi kepada penumpang dan merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 89 Tahun 2015 yang menyebut maskapai tidak dibebani tanggung jawab kompensasi atas keterlambatan akibat keadaan kahar.
Nadya Annisa menyebut penerbangan Garuda dari Jakarta menuju Sorong mengalihkan pendaratan pada Senin maupun Selasa pekan itu. Ia menyampaikan harapan agar kabut asap segera teratasi karena kondisinya dinilai semakin memburuk dalam tiga hari terakhir, sementara Sorong segera menghadapi musim kunjungan wisatawan menjelang akhir tahun.
Hery Purnomo menambahkan bahwa kabut asap tidak hanya menyebabkan pengalihan penerbangan, tetapi juga keterlambatan jadwal. Beberapa pesawat tetap dapat beroperasi setelah jarak pandang membaik, termasuk pesawat Batik, Garuda, dan TransNusa yang akhirnya mendarat di Sorong pada Selasa siang.
Penerbangan di Langgur ikut tertunda
Di Maluku, kabut asap yang menyelimuti langit Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, pada Rabu 7 Oktober 2026 menyebabkan dua maskapai terdampak. Jarak pandang di sekitar bandara tercatat hanya 2 sampai 3 kilometer sehingga aktivitas penerbangan menjadi sulit.
Wings Air IW1531 rute Dobo-Langgur dijadwalkan tiba pukul 09.40 WIT. Manajemen menunda penerbangan pesawat dengan nomor register PK-WGH itu, dan pesawat berjenis ATR 72-600 tersebut hingga laporan dibuat masih berada di Bandara Rar Gwamar, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru.
Sementara itu, Lion Air JT880 dengan nomor register PK-LPK dijadwalkan terbang dari Bandara Pattimura menuju Langgur pukul 09.45 WIT dan tiba di Langgur pukul 11.00 WIT. Boeing 737-800 itu akhirnya ditunda karena kabut asap. Hingga pukul 11.15 WIT, penumpang kedua pesawat dari kedua maskapai tersebut masih menunggu di Bandara Karel Sadsuitubun.
Penumpang menunggu tanpa kepastian di Pattimura
Gangguan penerbangan tidak hanya terasa pada pesawat yang berputar di udara. Di Bandara Pattimura, puluhan penumpang Batik Air rute Jakarta-Ambon-Nabire mengaku terlantar setelah penerbangan lanjutan menuju Nabire dibatalkan dengan alasan kondisi cuaca dan kabut asap.
Penumpang menyebut ada sedikitnya dua kelompok yang mengalami penundaan. Kelompok pertama tiba di Ambon sejak Minggu, 4 Oktober 2026, dengan perjalanan awal dari Surabaya lewat Makassar, sementara kelompok kedua tiba pada Selasa, 6 Oktober. Total jumlah mereka diperkirakan mencapai 50 sampai 60 orang.
Bagi kelompok pertama, maskapai disebut menyediakan penginapan selama dua hari di hotel sekitar Bandara Pattimura, namun fasilitas itu hanya mencakup tempat tinggal dan tidak menanggung kebutuhan makan dan minum. Setelah masa akomodasi berakhir, sebagian penumpang memilih bertahan di bandara.
Penerbangan lanjutan Ambon-Nabire untuk kelompok kedua kemudian dibatalkan dan dijadwalkan ulang ke Kamis, 8 Oktober 2026. Penumpang menyebut belum memperoleh akomodasi, konsumsi, maupun kompensasi, sehingga sebagian dari mereka menggunakan ruang tunggu lantai dua sebagai tempat beristirahat bersama anak-anak dan penumpang lanjut usia.
Ketua DPD GAMKI Provinsi Maluku, Samuel Patra Ritiauw, meminta maskapai, pemerintah, pemerintah daerah, serta pengelola bandara mengambil langkah konkret atas dasar kemanusiaan. Ia menilai tidak semua penumpang memiliki kemampuan ekonomi untuk menutup kebutuhan selama penundaan berhari-hari, dan meminta pemerintah hadir bila maskapai belum memberikan solusi.
Penumpang juga menyebut sejumlah pesawat lain, termasuk pesawat Sriwijaya dan pesawat ATR dari Timika serta Jayapura, dapat mendarat di Nabire pada waktu yang berdekatan dengan pembatalan penerbangan mereka. Informasi itu berasal dari penumpang dan belum dikonfirmasi maskapai maupun otoritas penerbangan, sehingga alasan teknis pembatalan tetap perlu dijelaskan secara resmi.
Asap di Nabire dan rute dari Ambon
Pembatalan menuju Nabire tidak terjadi sendirian. Bandara Douw Aturure di Nabire, Papua Tengah, menghadapi kabut asap sejak Sabtu, 3 Oktober 2026. Pada Selasa, 6 Oktober, sejumlah penerbangan dari luar Nabire dibatalkan setelah jarak pandang tidak memenuhi persyaratan keselamatan maskapai.
Kepala UPBU Douw Aturure Nabire, Alrido Simanjuntak, menyebut penerbangan Wings Air dari Timika dan Manokwari terdampak, sementara Batik Air membatalkan penerbangan dari Ambon menuju Nabire. Keputusan untuk mendarat, menunda, mengalihkan, atau membatalkan penerbangan tetap berada pada pertimbangan operasional dan standar keselamatan masing-masing maskapai.
Hingga Rabu, 7 Oktober 2026, pola jarak pandang di Nabire masih berubah sepanjang hari. Pagi hari menjadi periode dengan jarak pandang paling rendah, sedangkan kondisi cenderung membaik menjelang siang. Warga yang memiliki jadwal penerbangan dari maupun menuju Nabire diimbau memperhatikan informasi terbaru dari maskapai sebelum berangkat ke bandara.
Kemarau dan kebakaran lahan di Maluku
Kabut asap yang mengganggu penerbangan di Sorong disebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sekitar bandara, sesuai keterangan dan foto yang menyertai laporan kantor berita di Sorong. Di Maluku sendiri, kekeringan dan kebakaran lahan sedang menjadi perhatian pemerintah daerah karena kemarau belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir.
Pemerintah Kota Ambon menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan melalui Keputusan Wali Kota Nomor 645 Tahun 2026. Kajian Tim Reaksi Cepat BPBD Kota Ambon mencatat kebakaran di 12 lokasi dengan satu korban meninggal di Negeri Hative Besar, serta tujuh lokasi yang kekurangan air bersih.
Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon mengimbau warga memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bila terdapat penumpukan asap atau debu. Imbauan yang sama disampaikan kepada orang tua agar anak-anak terlindungi ketika berada di luar rumah selama kemarau berlangsung.
BMKG melalui produk Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan atau SPARTAN yang diperbarui pada 5 Oktober 2026 mengingatkan adanya potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Maluku. Stasiun Klimatologi Kelas III Maluku memperkirakan musim kemarau berlangsung sepanjang 2026 hingga awal 2027 dengan puncak pada September sampai November.
Di Kota Ambon, kebakaran hutan di kawasan Gunung Nona kembali terjadi pada Selasa, 6 Oktober 2026. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon menerima laporan warga pada pukul 13.29 WIT lalu mengerahkan satu unit mobil pemadam beserta 15 personel ke lokasi.
Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Ambon, Alfredo Hehamahua, menyebut personel tiba di titik kejadian pukul 13.52 WIT dan segera menggelar selang air untuk membendung api yang membakar vegetasi serta semak belukar kering di lereng perbukitan. Setelah pemadaman dan pendinginan selama kurang lebih dua setengah jam, pergerakan api dihentikan dan situasi dinyatakan terkendali pukul 16.17 WIT.
Dampak kepada masyarakat
Bagi penumpang, dampak paling langsung adalah perubahan jadwal yang tidak pasti. Pesawat yang dialihkan harus menunggu cuaca membaik sebelum kembali ke rute semula, sementara penumpang di bandara asal maupun tujuan kerap menerima informasi yang berubah-ubah.
Maskapai pada umumnya berpegang pada ketentuan force majeure ketika gangguan disebabkan kondisi cuaca. Ketentuan itu menjadi dasar maskapai menolak memberi kompensasi, sementara kebutuhan dasar penumpang selama menunggu tetap menjadi pertanyaan yang belum terjawab di lapangan.
Batik Air ID 7797 disebut akhirnya mendarat kembali di Bandara DEO setelah sempat dialihkan ke Ambon, kemudian melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Untuk rute Ambon-Nabire, penerbangan lanjutan baru dapat diberangkatkan setelah jadwal ulang disepakati pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Mengapa kabut asap menghambat penerbangan
Penerbangan bergantung pada jarak pandang yang cukup bagi pilot untuk melihat landasan saat mendekat. Ketika kabut asap menurunkan jarak pandang di bawah batas minimum yang ditetapkan, pesawat tidak dapat mendarat dan pilihan yang tersedia adalah menunggu, mengalihkan pendaratan ke bandara lain, atau membatalkan penerbangan.
Bandara tujuan pengalihan ikut menanggung beban tambahan. Penumpang, awak pesawat, dan bagasi harus diatur ulang, sementara pesawat yang telah mendarat di bandara pengalihan perlu kembali ke rute semula begitu kondisi membaik. Dalam kasus Sorong, pesawat yang sempat dialihkan ke Ambon pada Selasa akhirnya dapat melanjutkan perjalanan setelah jarak pandang membaik.
Pola gangguan terjadi pada pagi hari
Polanya konsisten dalam beberapa hari terakhir: jarak pandang paling rendah pada pagi hari dan membaik menjelang siang. Bagi penumpang, hal itu berarti penerbangan pagi menjadi yang paling rentan, sementara jadwal siang cenderung lebih aman walaupun tetap dapat berubah sewaktu-waktu.
Yang perlu diperhatikan penumpang
Penumpang diimbau memperhatikan informasi terbaru dari maskapai sebelum berangkat ke bandara, karena jadwal masih berpotensi menyesuaikan mengikuti perkembangan kondisi di lapangan. Penumpang di Bandara Pattimura sendiri mengeluhkan perubahan jadwal tanpa kepastian fasilitas selama masa penundaan.
AirNav Indonesia menyatakan terus memantau kondisi cuaca dan jarak pandang berdasarkan informasi dari BMKG sebagai dasar pelayanan navigasi penerbangan. Operator navigasi tidak dapat memprediksi sendiri pergerakan kabut asap, sehingga prakiraan BMKG menjadi rujukan utama dalam menentukan apakah sebuah penerbangan dapat beroperasi.
Belum ada kepastian kapan normal kembali
Belum ada pernyataan resmi soal kapan gangguan berakhir di Sorong, Manokwari, maupun Langgur. Hery Purnomo menyebut pihaknya belum dapat memastikan kapan kondisi kembali normal dan menyerahkan prediksi kepada BMKG. Laporan mengenai Langgur juga belum memuat keterangan resmi soal sumber kabut asap yang menyelimuti bandara pada Rabu.
Sementara itu, penumpang Batik Air menuju Nabire menanti penerbangan pengganti pada Kamis, 8 Oktober 2026. Mereka berharap maskapai memberi prioritas kepada penumpang yang telah tertunda sejak beberapa hari sebelumnya.
Kronologi singkat
- Sabtu, 3 Oktober 2026: kabut asap mulai menyelimuti wilayah Nabire.
- Senin, 5 Oktober 2026: tiga pesawat gagal masuk ke Sorong, dua di antaranya dialihkan ke Biak dan satu ke Ambon.
- Selasa, 6 Oktober 2026: Garuda Indonesia dan Batik Air kembali mengalihkan pendaratan ke Ambon, sementara hutan Gunung Nona di Ambon terbakar lagi.
- Rabu, 7 Oktober 2026: tiga pesawat mengalihkan pendaratan ke Ambon dan dua penerbangan di Langgur ditunda.
Penutup
Gangguan penerbangan akibat kabut asap dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa mudahnya jadwal perjalanan udara di kawasan timur berubah ketika kemarau berkepanjangan. Bandara Pattimura Ambon beberapa kali menjadi tujuan pesawat yang tidak dapat mendarat di Sorong, sekaligus menjadi tempat penumpang menunggu penerbangan lanjutan yang belum pasti.
Bagi warga Maluku yang berencana bepergian dalam beberapa hari ke depan, informasi penerbangan dari maskapai dan otoritas bandara tetap menjadi rujukan utama. Gangguan akibat kabut asap masih mungkin terulang selama kondisi kemarau dan titik api di kawasan timur belum mereda.
Foto sampul: SunDawn melalui Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.