Karhutla Masih Terjadi di Seram Bagian Barat: 20 Rumah Warga Dibakar Saat Ketegangan Patahuwe-Lisabata

Peristiwa Berkembang di Kecamatan Taniwel

Ketegangan antara warga Desa Patahuwe dan Desa Lisabata, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Memulainya peristiwa ini bermula sekitar pukul 14.00 WIT pada Jumat, 11 September 2026. Laporan awal dari berbagai sumber laporan menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bermula di area kebun milik salah seorang warga Lisabata di wilayah Tanjung, Dusun Sisiulu, Desa Nuniali. Kebakaran tersebut kemudian tersebar dengan cepat tergantung angin dan faktor topografi, memicu konsentrasi massa dari kedua desa yang bertemu di sekitar lokasi kebakaran.

Para witness dari kejadian tersebut mendeskripsikan bahwa kobaran api mulai terlihat sekitar pukul 18.30 WIT, setelah sebelumnya terjadi konsentrasi massa di sekitar wilayah tersebut. Hingga sekitar pukul 19.01 WIT, api dilaporkan masih membakar sejumlah bangunan di dalam Desa Patahuwe. Kondisi ini menciptakan panorama yang sangat mengkhawatirkan bagi warga setempat yang telah kehilangan rumah-rumah mereka.

Konsentrasi Massa dan Penyempitan Ruang

Sekitar pukul 16.00 WIT, warga dari kedua Desa Patahuwe dan Lisabata berkumpul di lokasi kejadian. Melalui koordinasi Muspika Taniwel (Satuan Masyarakat, Penegak Hukum, dan Penyangga), warga Lisabata kembali ke wilayahnya sekitar pukul 16.00 WIT, sehingga situasi sementara terkendala. Namun, ketegangan kembali memantau sekitar pukul 18.55 WIT, ketika kembali terjadi pertikaian antara kedua kelompok yang berujung pada pembakaran rumah warga Desa Patahuwe.

Lapangan menunjukkan bahwa massa dari kedua desa memiliki mindset dan historis yang berbeda. Sebagian massa disebut membawa senjata tajam berupa parang dan tombak, meskipun pihak kepolisian telah terus mengingatkan untuk tidak membawa senjata ke lokasi kerumunan. Kedatangan massa membuat suasana di sekitar pintu masuk Desa Patahuwe semakin tegang, menciptakan kohesi yang sangat tegang di antara warga setempat.

Respons Aparat dan Pengereman Besar

Kapolres Seram Bagian Barat AKBP Revindo Pradikta Rulando, S.P., S.I.K., M.H. segera mengerahkan personel gabungan sebanyak 92 orang yang terdiri dari personil Polres SBB (Pusat Daerah), Polsek Taniwel (Seksi Lokal), Polsek Taniwel Timur (Seksi Timur), Korp Brimob (Batasan Massa), dan Koramil Taniwel (Komando Sementara). Kapolres menyatakan bahwa pengerahan personel tersebut merupakan langkah pengamanan untuk memastikan situasi tetap terkendala dan mencegah terjadinya aksi susulan yang mungkin mengakibatkan korban jiwa atau kerusakan yang lebih besar.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K. menegaskan bahwa penanganan situasi dilakukan dengan mengedepankan langkah terukur, pencegahan eskalasi, perlindungan masyarakat, serta pendekatan persuasif. Rositah menegaskan: "Situasi sudah kondusif. Masyarakat kami minta tetap tenang dan tidak melakukan tindakan balasan. Dan menyerahkan penanganan kepada aparat."

Kapolres SBB juga kembali mengimbau masyarakat kedua desa agar tidak melakukan tindakan yang dapat memperbesar persoalan. "Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan. Jangan melakukan tindakan provokatif maupun aksi balasan. Situasi sudah dapat kami kendalikan dan kami akan terus melakukan pengamanan serta komunikasi dengan seluruh pihak," kata Kapolres.

Korban dan Kerusakan yang Telah Dadatawali

Data sementara dari lokasi yang dikumpulkan oleh tim investigasi menunjukkan jumlah bangunan yang terdampak cukup banyak. Sejumlah nama yang tercatat dalam pendataan awal antara lain Berty Patiwalapia, Mama Popy Poly, Mama Kete, Naldo Sukate, Yepta Tanik Wele, Pendi, Jemi Belen yang tercatat memiliki pondok, serta Mama Lis Aimoly, Ampi Latue, Tomas Betlora, Lamder Titabano, Prejon Upuy, Regen Mahuwe, Ibu Rut Sosale, Mm Ete Lumoly, Hendrik Katalane, Abfon Latue yang disebut sebagai Raja, serta Pastori Jemaat Patahuwe.

Namun, data tersebut masih merupakan catatan awal dari lapangan, dan belum dapat disebut sebagai data resmi. Tim investigasi masih melakukan verifikasi terhadap setiap laporan kerusakan. Kondisi masing-masing bangunan juga belum diketahui secara pasti - sebagian mungkin terbakar total, sementara lainnya mengalami kerusakan bagian atau terdampak akibat kobaran api dan savan yang menyebar.

Sampai saat ini belum ada penjelasan resmi mengenai titik awal api maupun penyebab pasti kebakaran. Demikian pula jumlah korban jiwa, korban luka-luka dan nilai kerugian material masih dalam proses pendataan yang intensif oleh aparat yang berwenang.

Penyebab dan Motivasi yang Dilaporkan

Informasi awal yang diterima dari berbagai sumber laporan menyebutkan, situasi dipicu persoalan kebakaran lahan yang diduga berkaitan dengan lahan milik warga Desa Lisabata berinisial atau bernama Ibe Lohy. Persoalan tersebut kemudian berkembang setelah sejumlah pemuda dari Desa Lisabata bergerak menuju wilayah Desa Patahuwe. Dalam laporan awal dari lapangan, sebagian massa disebut membawa senjata tajam berupa parang dan tombak, yang kemudian menjadi bahan diskusi mengenai ketegangan lama antara kedua desa.

Persoalan lahan menjadi perbincangan utama, mengingat bahwa sengketa tentang penggunaan lahan pertanian dan areal hutan telah menjadi isu komunitas lama di wilayah Seram Bagian Barat. Konflik sengketa ini tidak lahir tanpa alasan, tetapi dipicu oleh serangkaian peristiwa yang mengejutkan warga setempat.

Imbauan Aparat dan Masa Depan yang Diprediksi

Kabid Humas Polda Maluku menegaskan penanganan situasi dilakukan dengan mengedepankan langkah terukur, pencegahan eskalasi, perlindungan masyarakat, serta pendekatan persuasif. Kapolres SBB juga kembali mengimbau masyarakat kedua desa agar tidak melakukan tindakan yang dapat memperbesar persoalan.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan. Jangan melakukan tindakan provokatif maupun aksi balasan. Situasi sudah dapat kami kendalikan dan kami akan terus melakukan pengamanan serta komunikasi dengan seluruh pihak," kata Kapolres.

Aparat keamanan kini masih melakukan pengamanan di wilayah Desa Patahuwe, untuk mencegah ketegangan antara warga kedua desa kembali meningkat. Pendataan terhadap warga dan bangunan terdampak, serta penyelidikan mengenai peristiwa kebakaran masih berlangsung. Perkembangan terbaru mengenai kondisi keamanan, jumlah rumah yang terbakar, korban dan kerugian material masih menunggu keterangan resmi aparat, serta pemerintah setempat.

Bagi masyarakat umum, kejadian ini menjadi peringatan bahwa konflik antara komunitas harus diselesaikan melalui dialog dan pendekatan persuasif, bukan melalui tindakan yang dapat memperkeruh keadaan. Setiap kontroversi lahan harus diverifikasi secara resmi melalui kanal yang tepat, dan pencegahan karhutla tetap menjadi prioritas selama kondisi cuaca yang kering meluas di wilayah.

Konteks Lahan dan Pencegahan Karhutla yang Lebih Luas

Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) menjadi fokus penanganan khusus di wilayah Seram Bagian Barat, terutama selama musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan Maluku, dengan ketinggian gelombang berkisar 1,25 sampai 2,5 meter di 10 wilayah perairan. Meskipun peringatan gelombang tinggi berbeda dengan peringatan karhutla, keduanya menunjukkan kondisi iklim yang memerlukanwaspadaan khusus dari seluruh lapisan masyarakat.

Kementerian Kehutanan merekam luas karhutla nasional selama periode Januari-Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. Meskipun konteks geografis berbeda, pola peningkatan kejadian musuh api selama musim kemarau adalah pola yang dapat diamati di berbagai wilayah Indonesia, termasuk potensial di Maluku.

Pencegahan karhutla harus menjadi prioritas bersama antara masyarakat, pemerintah daerah, dan lembaga terkait. Initiatif pendidikan masyarakat tentang bahaya membakar lahan, serta pengawasan erat dari aparat dalam melacak sumber kebakaran, adalah langkah esensial untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Masyarakat diimbau untuk tidak membakar lahan selama cuaca kering dan melakukan pencegahan dini dalam setiapaktivitas pertanian atau pembangunan.

Kesimpulan dan Imbauan Akhir

Situasi di Desa Patahuwe dan Desa Lisabata, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat masih memerlukan pengawasan erat dari aparat keamanan. Masyarakat diimbau untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan balansa. Penyelidikan mengenai perkembangan kebakaran dan penyebabnya masih berlangsung. Aparat akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan menjaga keamanan serta komunikasi dengan seluruh pihak.

Bagi masyarakat umum, kejadian ini menjadi peringatan bahwa konflik antara komunitas harus diselesaikan melalui dialog dan pendekatan persuasif, bukan melalui tindakan yang dapat memperkeruh keadaan. Setiap kontroversi lahan harus diverifikasi secara resmi melalui kanal yang tepat, dan pencegahan karhutla tetap menjadi prioritas selama kondisi cuaca yang kering meluas di wilayah.


Sumber: Teropong News (https://teropongnews.com/2026/09/ketegangan-memuncak-puluhan-rumah-warga-patahuwe-terbakar/), Beritalima (https://beritalima.com/kapolres-sbb-kerahkan-92-personel-lokalisir-pertikaian-di-patahuwe-lisabata-situasi-kini-kondusif-dan-warga-dihimbau-menahan-diri/), dan BMKG.*