Kebakaran hutan dan lahan di Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, memasuki hari ke-15 penanganan pada Selasa (27/10/2026). Di tengah upaya memadamkan api, Badan Keamanan Laut Republik Indonesia atau Bakamla RI mengerahkan satu unit mobil tangki air beserta personel melalui Zona Bakamla Timur.

Dukungan itu dijalankan bersama Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla Komando Daerah Angkatan Laut IX. Selain memasok air untuk kebutuhan pemadaman, personel gabungan menyalurkan air bersih kepada warga Negeri Saleman yang mulai kesulitan mendapatkan air di tengah cuaca panas.

Titik kebakaran berada di kawasan hutan dan perkebunan warga, tepatnya di Jalan Lintas Seram KM 3. Petugas menilai karakter lahan yang mengering membuat api mudah menyala kembali, sehingga penanganan harus dilakukan berulang dan tidak selesai dalam sekali padam.

Komandan Satgas Karhutla Kodaeral IX Letda Laut (T) Arya Maulana Kampai menyatakan penyaluran air bersih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga selama penanganan berlangsung. Menurut dia, air menjadi kebutuhan paling mendesak di samping pemadaman api itu sendiri.

“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat yang terdampak karhutla. Kami berupaya membantu memenuhi kebutuhan dasar warga, salah satunya ketersediaan air bersih,” kata Arya dalam keterangan yang diterima di Ambon, Selasa.

Arya menuturkan, keterlibatan prajurit mengikuti instruksi Komandan Kodaeral IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas. Prajurit TNI Angkatan Laut, katanya, tidak hanya menjalankan tugas pertahanan dan keamanan laut, tetapi juga membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat bencana.

Pengerahan dari Zona Bakamla Timur dilakukan berdasarkan arahan Kepala Bakamla RI Laksdya TNI Dr. Irvansyah. Kepala Zona Bakamla Timur Laksma Bakamla I Putu Darjatna menggerakkan personelnya untuk memperkuat koordinasi dengan instansi terkait di lapangan.

Keterangan resmi Bakamla RI menegaskan pentingnya kerja sama antarlembaga. “Sinergi lintas instansi menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi darurat, baik dalam penanganan kebakaran maupun membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak,” demikian kutipan keterangan tersebut.

Di lokasi, personel Kodaeral IX menyisir titik-titik api, berpatroli untuk mengidentifikasi lokasi kebakaran, mengisi toren air di sejumlah titik strategis, lalu melakukan pemadaman dan pembasahan lahan. Pembasahan diarahkan agar bara tidak kembali menyala setelah api utama dipadamkan.

Air tidak hanya dipakai memadamkan api. Panas berkepanjangan membuat sumber air warga menyusut, sehingga sebagian rumah tangga mengandalkan pasokan mobil tangki. Personel Bakamla turut membagikan air untuk keperluan memasak, minum, dan menjaga kebersihan.

Bagi warga Saleman, hari ke-15 berarti dua pekan lebih hidup dengan api yang belum sepenuhnya mati. Api pertama kali dilaporkan melanda kawasan pegunungan desa itu pada Minggu (11/10/2026), lalu menyebar ke kebun-kebun warga yang bersebelahan dengan hutan.

Sekretaris Desa Saleman Ramli Ialuhun menyebut lebih dari 5.000 pohon cengkih dan pala terbakar selama sebulan terakhir. Menurut dia, pohon-pohon itu milik sebagian besar warga desa, sehingga kerugiannya dirasakan hampir seluruh keluarga.

“Kebakaran hutan dan lahan sejak sebulan terakhir ini sudah menghanguskan lebih dari 5.000 pohon cengkeh dan pala milik warga di sini,” kata Ramli kepada Kompas.com melalui telepon, Rabu (14/10/2026).

Kerugian tidak berhenti pada nilai pohon yang hangus. Warga kehilangan sumber pendapatan tahunan, sementara kebun yang terbakar perlu ditanami ulang sebelum kembali menghasilkan. Ramli meminta pemerintah provinsi serta dinas kehutanan dan pertanian menyediakan bibit pengganti, dan meminta Balai Taman Nasional Manusela ikut membantu pemadaman.

Sejak Selasa (13/10/2026), belasan personel TNI Angkatan Laut tiba di Saleman untuk membantu pemadaman. Ramli menyebut kedatangan itu melegakan warga, karena sebelumnya pemerintah desa hanya mengandalkan warga dan bantuan mobil pemadam dari Pemkab Maluku Tengah yang datang beberapa kali.

Dua pekan kemudian, bantuan yang datang tidak lagi hanya berupa personel pemadam. Persoalan air mulai mengambil porsi besar dalam penanganan, baik untuk memadamkan bara di dalam tanah maupun untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Pembasahan lahan menjadi tahap yang paling menyita air. Setelah api di permukaan dipadamkan, petugas mengisi toren di sejumlah titik strategis lalu membasahi lahan agar bara tidak kembali menyala.

Kebutuhan itu bertemu dengan kondisi sumber air yang jauh. Ramli menyebut sumber air untuk memadamkan api berada sekitar lima kilometer hingga sepuluh kilometer dari lokasi kebakaran, sehingga setiap liter air harus diangkut lebih dulu sebelum bisa dipakai.

Karena itu, satu mobil tangki air didatangkan dari Zona Bakamla Timur. Kendaraan itu diisi bergantian untuk kebutuhan pemadaman dan untuk penyaluran air bersih ke rumah warga di beberapa titik Negeri Saleman.

Bukan Peristiwa Tunggal

Karhutla Saleman adalah bagian dari persoalan yang jauh lebih luas. Stasiun Klimatologi Maluku mencatat sebagian besar wilayah provinsi itu masuk kategori kekeringan ekstrem pada pertengahan Oktober 2026, yaitu kondisi tanpa hujan lebih dari 60 hari berturut-turut.

Pos pengamatan Stasiun Meteorologi Kuffar Geser di Kabupaten Seram Bagian Timur mencatat 134 hari tanpa hujan. Angka itu menjadi rekor terpanjang di Provinsi Maluku pada periode pemantauan Dasarian II Oktober 2026.

Selain Kuffar, BMKG mencatat 11 titik pantau lain yang melewati 100 hari tanpa hujan. Di Kabupaten Buru tercatat Waeperang 115 hari, Waigeren 106 hari, Savana Jaya 103 hari, dan Mako 103 hari.

Menurut data BMKG, kekeringan ekstrem di Maluku berdampak fatal pada ketersediaan air bersih warga dan mengeringnya lahan-lahan pertanian. Wilayah yang paling terpukul berada di Seram Bagian Timur, Buru, dan Maluku Tengah.

Kabupaten Maluku Tengah mencatat Kobisonta dan Tanah Merah masing-masing 109 hari serta Labuan 108 hari. Di Seram Bagian Timur ada Waisamet 108 hari dan Sesar 103 hari, sedangkan Seram Bagian Barat mencatat Alang 104 hari.

Kawasan kepulauan tidak jauh berbeda. Wer Maktian di Kepulauan Tanimbar mencatat 96 hari tanpa hujan dan Dobo di Kepulauan Aru 92 hari. Di Kota Ambon, kawasan Passo, Stamar, dan Oma tercatat 30 hari tanpa hujan atau masuk kategori panjang.

Kekeringan ekstrem disebut BMKG memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan. Bahan bakar berupa daun, ranting, dan humus kering tersedia dalam jumlah besar, sehingga percikan kecil mudah berkembang menjadi kebakaran lahan.

BMKG juga melaporkan tidak ada satu pun dari 25 Zona Musim di Provinsi Maluku yang memasuki musim hujan pada Oktober 2026. Sebanyak 19 zona masih berada dalam musim kemarau dan enam zona bertipe satu musim.

Pemicunya adalah El Nino berkekuatan sangat kuat. Indeks ENSO tercatat +2,70, anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 mencapai +3,44, dan indeks Indian Ocean Dipole positif +0,99.

Kombinasi tiga fenomena itu menekan pembentukan awan hujan di atas Maluku. Akibatnya, wilayah yang biasanya mulai diguyur hujan pada Oktober justru masih kering ketika seharusnya memasuki awal musim basah.

Wilayah Berstatus Awas

Peringatan BMKG tidak berhenti pada angka hari tanpa hujan. Sejumlah kecamatan ditetapkan berstatus siaga, dan sebagian lain berstatus awas atau bahaya terhadap kekeringan meteorologis.

Di Kota Ambon, status siaga berlaku untuk Kecamatan Teluk Ambon, Leitimur Selatan, Nusaniwe, dan Sirimau. Di Kabupaten Maluku Tengah status serupa berlaku untuk Amahai, Leihitu, dan Leihitu Barat.

Status awas mencakup wilayah yang jauh lebih luas. Di Kabupaten Buru meliputi Bata Bual, Lolong Guba, Waeapo, Waplau, Fena Leisela, Lilialy, dan Waelata.

Kabupaten Kepulauan Tanimbar mencatat status awas di Tanimbar Selatan, Tanimbar Utara, Fordata, Molu Maru, Selaru, dan Wer Maktian. Di Seram Bagian Barat status itu berlaku untuk Huamual Belakang, Seram Barat, Huamual, dan Kepulauan Manipa.

Seram Bagian Timur memiliki Tutuk Tolu, sedangkan Kepulauan Aru mencakup Aru Selatan Timur, Aru Selatan Utara, Aru Selatan, Aru Tengah Timur, dan Aru Tengah. Kota Tual mencatat Kur Selatan dan Pulau Kur.

Maluku Barat Daya hampir seluruhnya berstatus awas, dari Babar Timur, Damer, Daweloor Dawera, Kepulauan Romang, Kisar Utara, Lakor, Letti, Mdona Hyera, Moa Lakor, hingga Wetar Barat, Timur, Utara, dan Wetar.

Kabupaten Buru Selatan melengkapi daftar itu melalui Ambalau, Fena Fafan, Kepala Madan, Namrole, dan Waesama. Pemerintah daerah diminta menjadikan informasi tersebut acuan kebijakan penanganan bencana.

Pola yang Sama di Seram Bagian Barat

Persoalan air tidak hanya muncul di Maluku Tengah. Pada Selasa (27/10/2026), Kepolisian Resor Seram Bagian Barat menyalurkan 5.600 liter air bersih kepada 25 kepala keluarga di Desa Morekau, Kecamatan Seram Barat.

Personel Polres SBB mengambil air dari sungai di Desa Lumoli menggunakan dua mobil double cabin, lalu mengangkutnya ke Morekau dengan bantuan satu unit mesin pompa air. Kegiatan berlangsung dari pukul 11.20 hingga 18.40 WIT.

Penyaluran itu melibatkan Satuan Pembinaan Masyarakat, Satuan Lalu Lintas, Seksi Humas, serta Bhabinkamtibmas Desa Morekau dan Desa Kaibobo. Pejabat kepala desa dan warga menyampaikan terima kasih atas bantuan tersebut.

Bantuan serupa juga mengalir ke Seram Bagian Timur. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai Maluku menyalurkan 14.000 liter air bersih ke tiga desa di Kecamatan Bula, yakni Desa Englas, Desa Waylola, dan Desa Bula, bekerja sama dengan BPBD dan Dinas PUPR setempat.

Pola di Saleman dan Morekau menunjukkan persoalan yang sama: sumber air yang biasanya cukup tidak lagi memenuhi kebutuhan harian, sementara warga tidak memiliki cadangan. Bantuan tangki air bersifat sementara, tetapi menjadi penopang utama ketika sumur dan mata air menyusut.

Pemerintah menyiapkan penyaluran lanjutan ke tujuh titik tambahan di Seram Bagian Timur. Rencana itu memperlihatkan bahwa kebutuhan air diperkirakan belum surut dalam waktu dekat.

Di Seram Bagian Barat, debit sumber air dan sumur warga menurun di Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, sehingga sekitar 80 kepala keluarga terdampak. Pemerintah kabupaten mencatat 8.000 liter air bersih didistribusikan pada Kamis (1/10).

Angka itu menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya berdampak pada lahan, tetapi juga pada dapur rumah tangga. Ketika sumur mengering, warga harus menempuh jarak lebih jauh atau membeli air, dan pengeluaran tambahan itu datang ketika pendapatan sedang menurun.

Asap yang Menyebar

Dampak karhutla tidak berhenti di lokasi terbakar. BMKG mengingatkan potensi kabut asap kategori sedang di sejumlah wilayah Maluku pada periode 23 hingga 29 Oktober 2026.

Prakiraan itu berlaku untuk Kota Ambon, Buru, Buru Selatan, Maluku Tengah, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, Kota Tual, Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan Maluku Barat Daya. Jarak pandang dilaporkan berkisar satu hingga lima kilometer pada pekan sebelumnya.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon Kamari menyarankan warga memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, dan menutup jendela rumah apabila asap terasa semakin pekat. Kelompok rentan diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan.

Pada 22 Oktober 2026, asap cukup tebal menyelimuti Kota Ambon, Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru, Buru Selatan, Kepulauan Aru, hingga Tanimbar bagian utara pada pagi hari, dengan jarak pandang di bawah lima kilometer.

Analisis citra satelit menunjukkan sebagian besar asap yang masuk ke Maluku bukan berasal dari dalam daerah, melainkan kiriman dari Provinsi Papua Selatan, terutama Merauke, ditambah kontribusi titik panas di Pulau Seram dan Pulau Buru.

Beban bagi Petugas dan Warga

Penanganan karhutla di Saleman menuntut cara kerja berbeda dari kebakaran lahan dataran rendah. Lokasi kebakaran berada di kawasan pegunungan dengan akses yang sulit dijangkau, sehingga kendaraan pemadam tidak selalu bisa mencapai titik api.

Penyisiran titik api menjadi bagian yang tidak bisa dilewati. Personel melakukan patroli untuk mengidentifikasi lokasi kebakaran, memadamkan, lalu membasahi lahan yang sebelumnya menyala.

Karena itu, pembasahan dilakukan berulang. Cara ini memakan waktu dan air, tetapi menjadi satu-satunya jalan untuk memastikan lahan benar-benar aman sebelum petugas berpindah ke titik lain.

Personel di lapangan juga bekerja dalam tekanan waktu. Setiap hari tanpa hujan menambah bahan bakar kering, sehingga titik api baru bisa muncul di lokasi yang sebelumnya sudah dinyatakan aman.

Warga menanggung beban ganda. Selain kehilangan tanaman dan pendapatan, mereka harus menjaga rumah dari kemungkinan api merambat serta mencari air untuk kebutuhan sehari-hari ketika sumber air menyusut.

Ancaman gagal panen juga membayangi. BMKG menyebut kekeringan ekstrem berisiko memicu krisis air bersih, kegagalan panen pada sektor pertanian, hingga memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan.

Apa yang Bisa Dilakukan Warga

BMKG dan otoritas terkait menyarankan masyarakat menggunakan air secara efisien dan menghindari aktivitas pembakaran lahan selama periode kering. Laporan titik api diminta segera disampaikan kepada petugas agar tidak meluas.

Untuk wilayah berstatus awas, pemerintah daerah diarahkan memprioritaskan penanganan, termasuk distribusi tangki air bersih dan pengawasan terhadap potensi percikan api di lahan kering.

Warga yang hendak membersihkan kebun diminta tidak membakar sisa tanaman. BMKG menempatkan kekeringan ekstrem sebagai pemicu utama meluasnya kebakaran hutan dan lahan, sehingga pembakaran lahan justru memperbesar risiko di tengah kondisi kering.

Kementerian dan lembaga terkait menekankan agar warga memakai air secara efisien, memantau informasi resmi, dan tidak membuka lahan dengan cara membakar selama kemarau panjang masih berlangsung.

Bagi pelaku pelayaran dan penerbangan, kabut asap perlu diperhitungkan dalam rencana perjalanan. BMKG meminta pengguna jalan raya, jasa transportasi laut, dan maskapai penerbangan mewaspadai penurunan jarak pandang secara signifikan selama periode asap.

Perkembangan Terakhir

Hingga Selasa (27/10/2026), api di Saleman belum dinyatakan padam sepenuhnya. Personel gabungan masih melakukan penyisiran dan pembasahan, sementara mobil tangki air dari Zona Bakamla Timur melayani dua kebutuhan sekaligus: pemadaman dan air bersih warga.

Arya menyatakan Satgas Karhutla Kodaeral IX bersama unsur terkait akan terus mendukung penanganan dampak kebakaran di Maluku. Ia menegaskan dukungan itu diarahkan agar kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi selama situasi darurat, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki cadangan air di rumah.

Bagi warga Maluku secara umum, persoalan yang menanti bukan hanya pemadaman. Musim hujan diperkirakan belum tiba dalam waktu dekat, sehingga tekanan terhadap sumber air dan risiko kebakaran lahan kemungkinan bertahan hingga beberapa pekan ke depan.

Kabar Amboina akan memperbarui perkembangan penanganan karhutla Saleman dan kondisi kekeringan di Maluku begitu informasi resmi dari instansi terkait tersedia.