AMBON — Kebakaran hutan kembali melanda kawasan Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Selasa (6/10/2026) siang. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon menurunkan satu unit mobil pemadam dari Pos Markas Komando bersama 15 personel ke lokasi untuk menahan api agar tidak menjalar ke lereng perbukitan yang lebih luas. Setelah sekitar dua setengah jam upaya pemadaman dan pendinginan, situasi di lapangan dinyatakan terkendali pukul 16.17 WIT.
Peristiwa Selasa siang itu menambah panjang daftar kebakaran di kawasan yang sama selama sepekan terakhir. Hutan Gunung Nona beberapa kali dilalap api sejak awal Oktober, memaksa petugas pemadam bekerja hingga larut malam di tengah medan perbukitan yang curam, vegetasi yang mengering, dan tiupan angin yang kencang. Warga di sekitar lereng pun beberapa kali berdekatan dengan asap dan kobaran yang menjalar ke arah permukiman.
Kronologi di Lereng Gunung Nona
Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Ambon, Alfredo Hehamahua, menjelaskan pihaknya pertama kali menerima laporan kebakaran dari warga pada pukul 13.29 WIT. Personel kemudian dikerahkan ke lokasi dan tiba pukul 13.52 WIT, atau sekitar 23 menit setelah laporan masuk. Di lapangan, petugas menggelar selang air dan membidik kobaran yang membakar vegetasi serta semak belukar kering di lereng perbukitan Gunung Nona. Asap tebal membubung dari titik kebakaran saat penyiraman dilakukan secara intensif.
Hehamahua menyebut pemadaman sempat berjalan alot karena kobaran mengarah ke area vegetasi kering di lereng yang sulit dijangkau kendaraan. Setelah penyiraman dan pendinginan berlangsung kurang lebih dua setengah jam, pergerakan api berhasil dihentikan sepenuhnya. Situasi di lokasi kejadian kemudian dinyatakan aman dan terkendali pada pukul 16.17 WIT, dan seluruh armada ditarik kembali ke Pos Markas Komando setelah dipastikan tidak ada bara api yang tersisa.
Dari sejumlah kebakaran yang terjadi sejak awal pekan, waktu respons petugas bervariasi mengikuti jam kejadian dan kondisi laporan. Sabtu siang laporan diterima pukul 13.38 WIT dan petugas tiba tujuh menit kemudian, Minggu laporan masuk pukul 13.30 WIT dengan kedatangan sepuluh menit setelahnya, Senin petugas tiba 20 menit setelah laporan pukul 16.38 WIT, dan Selasa jarak laporan hingga kedatangan petugas mencapai 23 menit. Kecepatan tiba di lokasi tidak selalu menentukan lamanya penanganan, mengingat waktu pemadaman bergantung pada luas api, medan, dan kondisi angin.
Hutan Gunung Nona Terbakar Berulang Sepanjang Pekan
Kebakaran di kawasan ini sudah terjadi sejak Sabtu (3/10/2026) siang, saat api menghanguskan area hutan di lingkungan RT 06 dan RW 07, Kelurahan Benteng. Laporan darurat dari warga diterima pukul 13.38 WIT dan petugas tiba di lokasi tujuh menit berselang. Damkar menurunkan satu unit armada dan 13 personel dari Pos Markas Komando, lalu menarik selang pemadam menyusuri lereng perbukitan dan lahan yang hangus membara. Setelah penyiraman dan pendinginan selama kurang lebih tiga jam, situasi dinyatakan terkendali pukul 16.17 WIT.
Sehari kemudian, Minggu (4/10/2026), api kembali menghanguskan kawasan Gunung Nona di sekitar tower pemancar TVRI. Laporan kejadian diterima petugas pada pukul 13.30 WIT dan armada tiba di lokasi sepuluh menit kemudian. Damkar Kota Ambon mengerahkan satu unit mobil pemadam dan 22 personel dari Pos Mako, diperkuat personel bantuan dari Pleton A dan Pleton C. Karena medan hutan membutuhkan penanganan ekstra, pemadaman baru dinyatakan aman pada pukul 23.42 WIT atau sekitar sepuluh jam kemudian.
Senin (5/10/2026) sore, kebakaran kembali muncul di kawasan yang sama. Laporan masuk pukul 16.38 WIT dan petugas tiba pukul 16.58 WIT dengan dua unit mobil pemadam serta puluhan personel. Kepala Dinas Damkar Alfredo Hehamahua mengungkapkan akses menuju titik api sangat terbatas lantaran kontur perbukitan yang curam, sementara angin kencang membuat titik api berpindah dengan cepat. Kobaran sempat mendekati area pemukiman warga sekitar sebelum akhirnya berhasil dijinakkan.
Media lokal pada hari yang sama melaporkan pemadaman di kawasan RT 078/RW 07, tidak jauh dari tower pemancar TVRI, masih berlangsung hingga pukul 20.00 WIT dengan dua armada Damkar dan satu unit mobil tangki air BPBD Kota Ambon. Anggota DPRD Kota Ambon dari daerah pemilihan Nusaniwe, Jacoba Lekahena, turun langsung memantau proses pemadaman. Dia mengimbau warga tidak membakar sampah, rumput, maupun material lain yang berpotensi memicu kebakaran, serta meminta warga mengenakan masker dan memperbanyak minum air putih ketika beraktivitas di luar rumah.
Diduga Berawal dari Pembersihan Lahan
Sekretaris Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Ambon, Moh. Latupono, menyebut kebakaran di Gunung Nona merupakan rangkaian dari kebakaran sebelumnya di kawasan Pensip. Menurut dia, api diduga bermula dari aktivitas pembersihan lahan oleh seorang warga yang hendak membuka kebun, lalu merembet hingga mendekati kawasan tower pemancar TVRI. Kombinasi vegetasi kering, lereng yang terjal, dan angin membuat api mudah berpindah dari satu titik ke titik lain di kawasan perbukitan Nusaniwe.
Mengapa Kawasan Ini Mudah Terbakar
Gunung Nona berada di wilayah Nusaniwe, kawasan yang bertemu antara permukiman dengan lereng perbukitan bervegetasi. Sepanjang kemarau, rumput dan semak di lereng mengering lalu menjadi bahan bakar yang mudah tersulut. Ketika satu titik api muncul, angin yang bertiup di perbukitan membawa bara ke titik lain sehingga satu kejadian dapat merembet ke beberapa lokasi di kawasan yang sama. Karena itu pula, penanganan awal menjadi menentukan, mengingat jarak antara vegetasi kering dengan pemukiman warga relatif dekat.
Pemerintah Kota Pastikan Penanganan Berlangsung
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menegaskan pemerintah kota tidak tinggal diam menghadapi kebakaran hutan dan lahan yang berulang. Menurut dia, setiap laporan yang masuk melalui call center darurat 112 direspons petugas gabungan di lapangan, mulai dari Damkar, BPBD, camat, kepala desa, hingga lurah. Dia juga menyampaikan bahwa penanganan tidak hanya berlaku di wilayah Kota Ambon, petugas sering kali ikut membantu ketika ada kebakaran di lokasi kabupaten lain.
Kepala daerah menegaskan komitmen itu dengan kalimat singkat: Kita lakukan penanganan. Kita tidak tinggal diam. Pemerintah hadir di setiap kebakaran yang terjadi. Dia menambahkan bahwa kehadiran pemerintah bukan soal siapa yang datang ke lokasi, melainkan bantuan nyata bagi masyarakat yang terdampak, termasuk ketika petugas harus bekerja di luar wilayah Kota Ambon.
Bersamaan dengan itu, Pemkot Ambon mengingatkan warga agar tidak membuka lahan baru dengan cara membakar. Kekeringan berkepanjangan dan angin kencang disebut sangat mudah memicu kebakaran pada vegetasi yang sudah mengering. Sebagai antisipasi terhadap udara buruk, Pemkot Ambon bersama Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease juga membagikan masker gratis bagi warga, disertai informasi kualitas udara harian serta penyaluran bantuan pasokan air bersih ke wilayah yang membutuhkan.
Data yang dirilis pemerintah kota menyebut Dinas Pemadam Kebakaran Kota Ambon telah menangani 15 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang Agustus hingga Oktober 2026. Kebakaran tersebar di Kecamatan Sirimau, termasuk kawasan Kahena dan Batu Merah, kemudian Kecamatan Nusaniwe yang mencakup Gunung Nona, Kampung Siwang, dan Negeri Urimesing, lalu Kecamatan Teluk Ambon serta Kecamatan Leitimur Selatan. Kebakaran di wilayah kota itu dipicu kemarau panjang dan angin kencang yang melanda Pulau Ambon.
Pasokan Air Ikut Mengecil
Kemarau panjang turut menekan pasokan air bersih di Kota Ambon. PT Dream Sukses Airindo melaporkan penurunan debit sejumlah sumber air andalan hingga sekitar 40 persen, sehingga distribusi kepada pelanggan harus diatur ulang. Direktur perusahaan, Jefry Riry, mengatakan suplai tetap dijalankan dengan memanfaatkan sumur air tanah sebagai sumber cadangan meski jadwal pengiriman menjadi lebih panjang. Belum ada kepastian kapan debit sumber air kembali normal mengingat kondisi alam sulit diprediksi.
Kualitas Udara pada Hari Kebakaran
Pada hari yang sama dengan kebakaran Gunung Nona, Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon mencatat kadar ozon di udara Ambon melampaui baku mutu. Berdasarkan pemantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien di Ambon pukul 13.00 WIT, parameter ozon tercatat 176 mikrogram per meter kubik, sementara batas baku mutu untuk rentang waktu satu jam ditetapkan 150 mikrogram per meter kubik. Angka itu menunjukkan status tidak aman pada pembacaan sesaat alat pemantau.
Lima parameter lainnya masih berada di bawah ambang batas. PM10 tercatat 45 mikrogram per meter kubik dari baku mutu 24 jam sebesar 75, PM2,5 sebesar 11 dari batas 55, sulfur dioksida 76 dari baku mutu satu jam 150, karbon monoksida 989,94 dari ambang batas 10.000, dan nitrogen dioksida 132 dari baku mutu 200 mikrogram per meter kubik. Kepala DLHP Kota Ambon, Apries B Gaspersz, menjelaskan penilaian resmi kualitas udara mengikuti rentang pengukuran rata-rata sesuai aturan yang berlaku, bukan pembacaan sesaat.
Pemerintah kota juga rutin memperbarui informasi kualitas udara harian sebagai pendamping imbauan kesehatan. Dengan mengetahui kondisi udara setiap hari, warga dapat menyesuaikan aktivitas di luar rumah, terutama ketika parameter tertentu melewati batas baku mutu atau ketika asap kebakaran terlihat di sekitar tempat tinggal.
DLHP pun mengimbau warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bila terpapar asap atau debu di lingkungan sekitar. Aktivitas fisik berat di ruang terbuka sebaiknya dikurangi, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Warga juga diminta tidak membakar sampah, daun, maupun lahan secara terbuka karena asap pembakaran berpotensi memperburuk kualitas udara dan membahayakan kesehatan masyarakat luas.
Siaga Darurat dan Kemarau Panjang
Menghadapi kekeringan dan kebakaran yang terus berulang, Pemerintah Kota Ambon menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan serta Lahan melalui Keputusan Wali Kota Ambon Nomor 645 Tahun 2026. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Ambon, Vita Berhitu, membenarkan keputusan tersebut dan menyebut kajian tim reaksi cepat mencatat kebakaran hutan serta lahan terjadi di sedikitnya 12 lokasi. Salah satu kejadian di Negeri Hative Besar menimbulkan korban jiwa.
Selama masa siaga, BPBD ditugaskan mengoptimalkan sumber daya untuk merespons keadaan darurat, termasuk menangani infrastruktur yang rentan terhadap bencana serta memastikan pemenuhan kebutuhan dasar dan keselamatan warga. Pengerahan personel dan peralatan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, sementara koordinasi dijalankan bersama instansi terkait hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Biaya penanganan bersumber dari APBD Kota Ambon Tahun 2026.
Selama periode 2026, keputusan tersebut menjadi dasar hukum penanganan keadaan darurat di Kota Ambon. Melalui status ini, koordinasi antara BPBD, Damkar, kelurahan, dan instansi terkait diharapkan lebih terarah, mulai dari pemantauan titik kebakaran, distribusi air ke wilayah terdampak, sampai pemenuhan kebutuhan dasar warga selama kemarau berlangsung.
Dampak kemarau juga terlihat pada ketersediaan air bersih. Tujuh lokasi dilaporkan mengalami kekurangan, sehingga BPBD bersama Perumdam Tirta Yapono menyalurkan air untuk membantu memenuhi kebutuhan warga. Menurut prediksi Stasiun Klimatologi Kelas III Maluku, musim kemarau di Ambon diperkirakan berlangsung sepanjang 2026 hingga awal 2027, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada September hingga November 2026 atau sekitar sembilan sampai 10 dasarian.
Dampak bagi Warga di Sekitar Kawasan
Kebakaran berulang di Gunung Nona membawa konsekuensi langsung bagi warga yang tinggal di lereng dan sekitarnya. Asap dari pembakaran vegetasi mengganggu aktivitas di luar rumah, sementara kobaran pada beberapa kesempatan bergerak mendekati area permukiman. Selain itu, pembacaan ozon yang melampaui baku mutu di hari yang sama menambah alasan bagi warga untuk membatasi paparan udara terbuka, mengenakan masker, dan memperhatikan anggota keluarga yang rentan, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Asap kebakaran juga mulai dirasakan warga di sekitar kawasan. Anggota DPRD Kota Ambon dari daerah pemilihan Nusaniwe menyebut asap mengganggu kualitas udara sekaligus aktivitas masyarakat di luar rumah, sementara intensitas panas yang tinggi selama kemarau memperbesar peluang api menyebar. Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di luar rumah dan menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun rumput yang kerap menjadi awal mula kebakaran.
Langkah Pencegahan dan Kanal Darurat
Pemerintah kota dan petugas lapangan mengingatkan tiga hal yang sederhana namun menentukan saat kemarau panjang: tidak membakar sampah atau rumput, tidak membuka lahan dengan cara membakar, dan segera melapor ketika melihat tanda-tanda kebakaran. Vegetasi yang mengering di lereng membuat bara kecil dapat berubah menjadi api besar dalam waktu singkat, terutama ketika angin bertiup kencang. Laporan awal dari warga terbukti mempercepat penanganan, seperti pada kebakaran Selasa sore yang tercatat hanya memakan waktu 23 menit dari laporan hingga petugas tiba di lokasi.
Petugas Damkar sendiri tetap menjalankan piket kesiapsiagaan rutin di Pos Markas Komando. Setelah memastikan seluruh titik api padam dan proses pendinginan selesai, armada ditarik kembali ke pos, sementara laporan warga diterima sepanjang waktu melalui kanal darurat. Pola penanganan itu berlaku untuk setiap kejadian, mulai dari kebakaran kecil di lereng hingga kebakaran yang berpotensi merambat ke permukiman.
Warga dapat menghubungi layanan darurat pemadam kebakaran melalui call center 112, Pos Ambon di (0911) 351113, Pos Passo di (0911) 361113, maupun Pos Hative Besar di (0911) 3670113. Ketiga pos tersebut beroperasi untuk menerima laporan kebakaran dan penanganan cepat di wilayah Kota Ambon beserta sekitarnya.
Kondisi Terakhir dan Langkah Berikutnya
Kebakaran di Gunung Nona pada Selasa sore berhasil dipadamkan tanpa adanya laporan korban jiwa. Petugas melakukan pendinginan menyeluruh di titik-titik api sebelum armada ditarik kembali ke pos, sementara kesiapsiagaan tetap dijaga melalui piket rutin. Penanganan kemarau dan kebakaran sendiri berada dalam status siaga darurat, sehingga peralatan, personel, dan kebutuhan dasar warga terus disiapkan mengikuti perkembangan di lapangan.
Warga di sekitar kawasan perbukitan Nusaniwe diminta tetap waspada sepanjang musim kemarau berlangsung, mengingat prediksi puncak kekeringan masih berada pada September hingga November 2026. Laporan kebakaran sebaiknya disampaikan segera melalui kanal darurat, dan pembakaran sampah atau lahan dihentikan karena potensi api mudah menjalar pada kondisi kering dan berangin.






Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.