Pendeta, panitia, dan perwakilan Kementerian Agama Provinsi Maluku berkumpul di Wai Haong Resto, kawasan Islamic Center Kota Ambon, Sabtu (10/10/2026). Dari meja pertemuan itu mereka memaparkan satu rencana besar bagi kota ini.

Kota Ambon akan menjadi tuan rumah Maluku Bermazmur 2026, pertemuan rohani berskala internasional yang dijadwalkan berlangsung 21 sampai 23 Oktober 2026.

Puncak acara digelar di Stadion Mandala Remaja, Karang Panjang. Panitia menargetkan sekitar 17 ribu orang hadir dan terlibat dalam seluruh rangkaian, dengan sekitar 200 tamu mancanegara dari sejumlah negara.

“Ini menjadi berkat Tuhan yang luar biasa bagi Kota Ambon. Kami ingin membawa kabar sukacita dan doa bagi Ambon, Maluku, dan Indonesia,” kata Ketua Panitia Pelaksana Maluku Bermazmur, Grisly Berhitu, dalam jumpa pers di Ambon, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan ini bukan agenda dadakan. Berkas persiapannya sudah bergerak sejak awal tahun. Pada 6 Februari 2026, Bidang Bimas Kristen Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku menerima kunjungan kerja panitia di ruang kerja Kepala Bidang Stepanus Tia.

Dalam pertemuan itu panitia menyampaikan struktur kepanitiaan. Kabid Bimas Kristen Kemenag Maluku dipercaya mengemban peran sebagai penasehat panitia, sementara Ketua Tim Kelembagaan dan Sistem Informasi Bimas Kristen ditetapkan sebagai wakil sekretaris.

Bimas Kristen juga mensosialisasikan pentingnya Surat Tanda Lapor bagi lembaga dan kegiatan keagamaan. Panitia diminta memastikan seluruh persyaratan administrasi terpenuhi sebelum kegiatan digelar.

Rangkaian Tiga Hari

Panitia menyusun agenda utama dalam tiga hari. Pada 21 Oktober 2026 pukul 17.00 WIT, digelar seminar di Auditorium Presisi Manise, Markas Kepolisian Daerah Maluku, Tantui.

Acara puncak berlangsung 22 dan 23 Oktober 2026 mulai pukul 16.00 WIT di Stadion Mandala Remaja, Karang Panjang.

Pada 23 Oktober 2026 pukul 09.00 WIT, giliran Pastor and Leaders Conference digelar di Auditorium Presisi Manise. Sesi ini khusus untuk pendeta, pemimpin rohani, dan pemimpin kalangan sekuler yang ingin menerima pembekalan kepemimpinan.

Sejumlah tokoh rohani internasional dijadwalkan menjadi pembicara. Pembicara utamanya Dr. Paul Enenche bersama istrinya, Dr. Becky Paul Enenche, dari Nigeria.

Paul Enenche dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Dunamis International Gospel Centre, gereja yang berbasis di Abuja, Nigeria, dan didirikan pada 10 November 1996. Panitia menyebut gereja itu memiliki sekitar satu juta jemaat.

Panitia menyebut para tamu internasional berasal dari Belanda, Belgia, Spanyol, Filipina, Peru, Inggris, Korea Selatan, dan Nigeria.

Beberapa pemberitaan lokal menyebut jumlah negara yang terlibat tujuh, sementara sumber lain menyebut delapan. Perbedaan angka ini muncul dari cara panitia menghitung negara asal pembicara dan negara asal tamu, dan hingga berita ini ditulis belum ada penjelasan resmi yang menyatukan kedua versi.

Selain Paul Enenche dan istrinya, sejumlah nama disebut akan terlibat. Panitia menyebut Uskup Keuskupan Amboina serta Pendeta Prof. Dr. John Ruhulessin turut menyampaikan firman Tuhan.

John Ruhulessin adalah guru besar bidang ilmu sosiologi dan teologi agama di Universitas Kristen Indonesia Maluku, dan pernah menjabat Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku.

Pujian dan penyembahan akan dipimpin Pendeta Frigo Supeleli, hamba Tuhan asal Ambon yang kini melayani di Surabaya. Untuk menarik minat generasi muda, panitia menghadirkan Niki Becker, runner-up Indonesian Idol 2026.

Niki Becker atau Nikita Becker adalah peserta musim keempat belas Indonesian Idol yang berhasil menempati posisi kedua pada 2026. Ia disebut memiliki darah Ambon.

Dari Rotterdam ke Ambon

Gagasan Maluku Bermazmur berakar jauh dari Ambon. Panitia menjelaskan kegiatan ini bermula dari komunitas warga Ambon di Belanda yang ingin mengungkapkan rasa syukur atas 75 tahun perjalanan hidup komunitas mereka di negeri itu.

Jejak komunitas itu dimulai pada 1951. Ketika proses demobilisasi tentara Kerajaan Hindia Belanda belum tuntas, sekitar 12.500 anggota KNIL asal Maluku beserta keluarga diangkut ke Belanda untuk sementara waktu. Merekalah cikal bakal keberadaan orang Maluku di Belanda.

Populasi orang Maluku di Belanda kini diperkirakan mencapai 90 ribu orang, mayoritas beragama Protestan, sebagian Katolik, dan sebagian Muslim. Selama puluhan tahun mereka membangun gereja, masjid, organisasi, dan tradisi sendiri di negeri itu.

Angka 75 tahun yang disebut panitia merujuk pada rentang sejak kedatangan gelombang pertama pada 1951. Panitia menempatkan angka itu sebagai alasan rasa syukur, bukan sekadar peringatan seremonial.

Awalnya acara ini direncanakan digelar di Maryland, Amerika Serikat. Rencana itu berubah, dan Ambon dipilih sebagai tuan rumah.

“Jadi memang kegiatan ini rencananya digelar Maryland Amerika Serikat, namun dialihkan di Kota Ambon. Kegiatan ini melibatkan tokoh rohani pakar kepemimpinan internasional,” kata Berhitu.

Perpindahan lokasi itu dibaca panitia sebagai hal yang menguntungkan Ambon. Bukannya kehilangan kesempatan, kota ini justru mendapat perhelatan yang sebelumnya hanya direncanakan di luar negeri.

Panitia memastikan kegiatan ini bukan hanya soal ibadah. Dinyatakan juga akan ada doa penyembuhan, dan warga yang rindu disembuhkan diajak hadir. Berhitu menyebut akan ada penyembahan, doa kesembuhan, serta apa yang ia sebut kuasa mukjizat Tuhan bagi masyarakat Maluku.

Untuk mobilisasi massa, panitia menyiapkan 1.281 unit angkutan umum. Angkutan itu dipakai mengangkut sekitar 15 ribu peserta dari berbagai negeri adat, desa, dan lingkungan di Kota Ambon.

“Anggaran kami siapkan termasuk untuk 1.281 angkutan umum guna memobilisasi 15 ribu jiwa dari setiap negeri adat, desa, dan lingkungan yang ada,” ujar Grisly.

Sisi Ekonomi dan Sosial

Kehadiran ratusan tamu asing dan belasan ribu peserta membawa konsekuensi ekonomi yang langsung terasa di Ambon. Panitia memperkirakan dampaknya menyentuh sektor akomodasi, perdagangan, transportasi, dan usaha mikro, kecil, serta menengah.

Perputaran uangnya diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Angka itu belum dipaparkan secara rinci per sektor, namun logikanya sederhana: ribuan orang yang datang dari luar kota memerlukan penginapan, makan, transportasi, dan belanja selama beberapa hari.

Berhitu menyebut kegiatan ini akan menggerakkan ekonomi warga, terutama usaha kecil dan menengah, karena ada pergerakan di sektor transportasi, perhotelan, kuliner, serta proses jual beli.

Momentum seperti ini bukan hal baru bagi Ambon. Kota ini memang memiliki budaya ibadah bersama yang besar dan berulang, mulai dari kegiatan gereja lintas jemaat hingga perhelatan keagamaan yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai kecamatan.

Yang membedakan Maluku Bermazmur adalah keterlibatan tamu luar negeri. Sekitar 200 orang dari berbagai negara memerlukan penanganan tersendiri: penginapan, konsumsi, transportasi lokal, serta pendampingan selama tiga hari kegiatan.

Stadion yang Berumur Panjang

Pilihan Stadion Mandala Remaja sebagai lokasi puncak bukan tanpa alasan. Stadion itu berdiri sejak 1970-an dan pernah menjadi salah satu stadion sepak bola terbaik di Indonesia Timur.

Fasilitasnya terletak di Jalan Pemuda, Karang Panjang, Kelurahan Amantelu, Kota Ambon, dan berada di bawah pengelolaan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku.

Stadion ini beberapa kali dipakai untuk kegiatan berskala nasional. ANTARA mencatat lomba Pesparawi dan Musabaqah Tilawatil Quran pernah dilangsungkan di stadion tersebut.

Kondisinya sendiri sudah lama menjadi sorotan. Sejak 2018 berbagai pihak, terutama pengurus KONI Kota Ambon, mendesak pemerintah provinsi melakukan renovasi karena stadion dinilai kurang terawat.

Pada Januari 2025, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Maluku Sandy Wattimena menyebut pembangunan kembali Stadion Mandala Remaja membutuhkan dukungan dana hingga Rp700 miliar lewat APBN 2026, ditambah pembangunan rumah susun bagi atlet senilai Rp68 miliar.

Ada pula usulan venue dayung senilai Rp25,3 miliar, serta perbaikan rumah ibadah di kompleks wisma atlet berupa satu gereja dan satu musala yang masing-masing membutuhkan Rp3 miliar dan Rp2 miliar. Usulan itu sudah disampaikan Dispora Maluku kepada Komisi IV DPRD Maluku.

Karena itu, memakai stadion berkapasitas besar untuk acara dengan target 17 ribu orang sekaligus menjadi ujian bagi kesiapan lokasi. Panitia menyatakan telah berkoordinasi dengan Kementerian Agama Maluku, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, aparat kepolisian, dan perguruan tinggi agar kegiatan berjalan aman dan lancar.

Ambon dan Panggung Internasional

Ambon sudah terbiasa menerima tamu dari luar negeri untuk urusan yang berkaitan dengan musik dan budaya. Pada Oktober 2019, UNESCO menetapkan Ambon sebagai City of Music atau kota musik dunia dalam jaringan Creative Cities Network.

Penetapan itu bukan sekadar gelar. UNESCO mencatat bahwa bagi sekitar 394.415 penduduk Kota Ambon, musik bukan hanya hiburan, tetapi bagian dari cara hidup, dan hampir 90 persen warga Ambon dapat bernyanyi pada level profesional karena terbiasa ikut paduan suara dan berlatih sejak kecil.

Status kota musik itu dipakai Ambon untuk mengembangkan program berbasis musik yang menyentuh pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif, sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Karena itu, panitia menempatkan Maluku Bermazmur sebagai kesempatan memperkenalkan budaya dan kearifan lokal Maluku kepada dunia internasional. Bukan hanya panggung doa, tetapi juga panggung budaya.

Panitia juga secara khusus menyiapkan 1.000 anggota paduan suara, 1.000 petugas penyambut dan konselor dari gabungan gereja di Kota Ambon, serta lebih dari 200 pengisi acara.

Angka partisipasi itu yang kemudian membuat perkiraan jumlah orang hadir dan terlibat membengkak menjadi sekitar 17 ribu. Sekitar 15 ribu di antaranya adalah peserta yang dimobilisasi dari negeri adat, desa, dan lingkungan.

“Kami mengundang seluruh masyarakat Kota Ambon, terutama umat Tuhan, untuk bersama-sama mengambil bagian dalam kegiatan besar dan bersejarah ini,” kata Berhitu.

Kerukunan sebagai Pesan Utama

Salah satu pesan yang paling sering diulang panitia adalah soal kerukunan. Maluku punya pengalaman panjang dalam menjaga hubungan antarumat beragama, dan panitia ingin momentum ini menegaskan citra itu.

Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku, Stepanus Tia, menyambut baik rencana tersebut. Ia menilai acara ini bukan sekadar kegiatan ibadah, melainkan sarana pemersatu yang memperkuat kerukunan antarumat beragama di Maluku.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini. Semoga acara Maluku Bermazmur berjalan lancar dan membawa berkah serta kedamaian bagi seluruh masyarakat Maluku,” kata Stepanus Tia.

Pernyataan itu sejalan dengan posisi Kemenag Maluku yang sejak Februari 2026 mendampingi panitia dalam urusan legal dan administratif. Bimas Kristen bahkan menjadi penasehat panitia, sementara salah satu pejabatnya menjabat wakil sekretaris.

Keterlibatan lintas institusi itu penting karena kegiatan berukuran besar di ruang publik menyentuh banyak kepentingan sekaligus: izin keramaian, pengaturan lalu lintas, keamanan, kebersihan, dan kesiapan fasilitas umum.

Panitia menyatakan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon, yang disebut menyambut positif dan mendukung terselenggaranya kegiatan.

Informasi bagi Warga

Bagi warga Ambon, informasi yang paling praktis adalah jadwal. Seminar pembuka digelar 21 Oktober 2026 pukul 17.00 WIT di Auditorium Presisi Manise, Tantui. Acara puncak berlangsung 22 dan 23 Oktober 2026 mulai pukul 16.00 WIT di Stadion Mandala Remaja, Karang Panjang.

Pastor and Leaders Conference dijadwalkan 23 Oktober 2026 pukul 09.00 WIT di Auditorium Presisi Manise. Sesi ini tidak terbuka untuk umum karena khusus bagi pendeta, pemimpin rohani, dan pemimpin sekuler yang mengikuti pembekalan kepemimpinan.

Panitia menyatakan kegiatan terbuka bagi seluruh masyarakat Kota Ambon. Warga yang ingin hadir tidak perlu membeli tiket berdasarkan keterangan yang dipaparkan; yang disiapkan panitia justru sarana transportasi agar peserta dari berbagai negeri adat, desa, dan lingkungan bisa ikut.

Tamu mancanegara yang akan datang mendapat perhatian tersendiri dari panitia. Halaman resmi Maluku Bermazmur mengingatkan bahwa pengunjung internasional yang memerlukan visa dapat mengurusnya melalui situs e-Visa resmi imigrasi Indonesia.

Dalam pengumuman yang sama, panitia mengingatkan seluruh penumpang internasional yang masuk ke Indonesia wajib mengisi All Indonesia Arrival Declaration, deklarasi digital yang menggabungkan informasi keimigrasian, kepabeanan, kesehatan, dan karantina. Deklarasi itu bisa diisi mulai tiga hari sebelum kedatangan.

Panitia juga mengingatkan agar dokumen tersebut disiapkan sebelum perjalanan dan konfirmasinya disimpan di ponsel masing-masing tamu.

Ketua Panitia dan Struktur Kepanitiaan

Grisly Berhitu tampil sebagai wajah utama panitia. Ia menyampaikan keterangan pers didampingi Kepala Bidang Bimas Kristen Kementerian Agama Provinsi Maluku, Stepanus Tia, serta sejumlah panitia lain.

Dalam catatan Kemenag Maluku, Berhitu disebut sebagai Pendeta Grisly Berhitu, dan bersama Pendeta Phill Pattiasina ia datang ke kantor Bimas Kristen pada awal Februari 2026 untuk membahas pemenuhan syarat administrasi kegiatan.

Keterlibatan pendeta dalam struktur panitia menjelaskan watak acara ini. Maluku Bermazmur tidak diposisikan sebagai konser atau festival hiburan, melainkan sebagai kebaktian kebangunan rohani yang dikemas dengan skala internasional.

Istilah KKR atau Kebaktian Kebangunan Rohani muncul dalam dokumen resmi Kemenag Maluku. Nama itu dipakai berdampingan dengan nama Maluku Bermazmur dalam pemberitaan kanal resmi kementerian tersebut.

Halaman resmi Maluku Bermazmur memakai sebutan yang lebih panjang untuk acara ini, yakni Indonesia Night of Revival and Miracles, dan mencantumkan tanggal 22 sampai 23 Oktober 2026 dengan jam mulai pukul 17.00 serta lokasi Stadion Mandala Remaja, Karang Panjang.

Perbedaan penyebutan jam pada sumber resmi panitia dan pemberitaan media lokal menjadi catatan tersendiri. Media lokal menyebut acara puncak dimulai pukul 16.00 WIT, sedangkan halaman panitia menyebut pukul 17.00. Warga yang hendak hadir sebaiknya memastikan jadwal terbaru dari kanal panitia sebelum berangkat ke lokasi.

Pendeta Johny Christian Ruhulessin yang disebut akan menyampaikan firman Tuhan adalah tokoh yang tidak asing di Maluku. Ia pernah menjabat Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku dan dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Kristen Indonesia Maluku pada November 2022.

Bidang keilmuannya adalah sosiologi dan teologi agama. Menurut pemberitaan Saburomedia, pengukuhan itu melalui rapat senat terbuka yang dipandu Rektor UKIM Ambon, dan SK penetapannya diterbitkan pada Oktober 2022.

Kehadiran Niki Becker menambah daya tarik tersendiri bagi kalangan muda Ambon. Pemerintah Kota Ambon lewat kanal Diskominfo pernah mengajak warga kota dan Maluku untuk mendukung penyanyi berdarah Ambon itu saat tampil di grand final Indonesian Idol 2026.

Konteks Maluku yang Sedang Beraktivitas

Maluku Bermazmur digelar di tengah sederet persoalan yang sedang dihadapi warga Maluku. Sepanjang awal Oktober 2026, BMKG memperingatkan potensi kabut asap kategori sedang yang menyelimuti wilayah Provinsi Maluku dan menurunkan jarak pandang di sejumlah kabupaten serta kota.

BMKG juga masih mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi untuk sejumlah perairan Maluku. Untuk periode 11 sampai 14 Oktober 2026 pukul 09.00 WIT, gelombang kategori sedang diprakirakan terjadi di dua perairan Maluku, yakni Perairan Utara P. Buru dan Laut Arafuru bagian tengah.

Kondisi sinoptiknya disebut pola angin bergerak dari arah Timur hingga Selatan dengan kecepatan rata-rata 4 sampai 20 knot, dan kecepatan angin tertinggi hingga 25 knot berpotensi terjadi di Perairan P. Buru serta Laut Arafuru.

BMKG juga meminta pengguna jasa maritim mewaspadai udara kabur akibat sebaran asap di perairan Provinsi Maluku yang dapat menurunkan jarak pandang. Informasi semacam itu penting bagi warga kepulauan yang hendak bepergian ke Ambon untuk mengikuti kegiatan besar.

Di daratan Ambon sendiri, kekeringan dan kebakaran lahan menjadi isu yang muncul berulang sepanjang bulan-bulan terakhir. Curah hujan di Pulau Ambon sejak April 2026 turun signifikan dan hingga Oktober 2026 berada di titik terendah dalam lima tahun terakhir.

Dalam pemaparan Prakiraan Musim Hujan 2026/2027 oleh BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon di Kantor Gubernur Maluku, Kamis 8 Oktober 2026, Kota Ambon dan dua zona musim di Maluku Tengah diprakirakan baru memasuki awal musim hujan pada Maret 2027.

BMKG menegaskan waktu awal musim hujan itu bersifat prakiraan dan bisa bergeser sekitar satu bulan. Pemerintah Provinsi Maluku menyusun langkah antisipasi berbasis karakteristik cuaca masing-masing wilayah, bukan kebijakan seragam.

Kontekstualisasi itu penting karena acara yang melibatkan puluhan ribu orang di ruang terbuka dan pergerakan massa dari berbagai negeri administratif tidak bisa dipisahkan dari kondisi cuaca, kualitas udara, serta kesiapan fasilitas publik.

Panitia sendiri menyatakan telah berkoordinasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah untuk memastikan keamanan dan kelancaran, termasuk pengaturan mobilisasi warga dari berbagai titik di Kota Ambon.

Catatan Data dan Verifikasi

Beberapa angka dalam pemberitaan Maluku Bermazmur perlu dibaca hati-hati karena media lokal tidak sepenuhnya seragam. Jumlah peserta dan orang yang terlibat disebut 17 ribu orang, sementara jumlah peserta yang dimobilisasi dari negeri adat, desa, dan lingkungan disebut sekitar 15 ribu.

Angka 1.281 unit angkutan umum, 1.000 anggota paduan suara, 1.000 petugas penyambut dan konselor, serta lebih dari 200 pengisi acara muncul konsisten di beberapa pemberitaan yang mewawancarai sumber yang sama, yakni keterangan panitia dalam jumpa pers 10 Oktober 2026.

Selisih lain menyangkut jumlah negara yang terlibat. Pelita Maluku dan Dinamika Maluku menyebut tujuh negara, sedangkan Maluku Terkini menyebut delapan negara dengan menyertakan daftar Belanda, Belgia, Spanyol, Filipina, Peru, Inggris, Korea Selatan, dan Nigeria.

Daftar delapan negara itu sendiri memuat delapan nama, namun sumber yang menulis angka tujuh juga menyebut Nigeria sebagai asal pembicara utama. Artinya perbedaan tersebut bukan soal sumber yang saling bertentangan secara tajam, melainkan cara menghitung yang berbeda dan belum dinormalkan oleh panitia.

Perbedaan lain menyangkut jam acara puncak. Media lokal menyebut pukul 16.00 WIT, sementara halaman resmi panitia menyebut pukul 17.00. Perbedaan ini bisa muncul karena perbedaan jam pembukaan gerbang dan jam mulai sesi utama.

Nama kegiatan pun ditulis dengan beberapa variasi. Pelita Maluku dan Dinamika Maluku memakai Maluku Bermasmur, sementara Maluku Terkini dan Maluku.News memakai Maluku Bermazmur.

Versi yang dipakai halaman resmi panitia adalah Maluku Bermazmur. Perbedaan ini semata soal ejaan, bukan kegiatan yang berbeda, dan tidak mengubah substansi agenda.

Hingga berita ini disusun, keterangan resmi mengenai Maluku Bermazmur bersumber dari jumpa pers panitia pada 10 Oktober 2026, dokumen kunjungan panitia ke Kemenag Maluku pada Februari 2026, dan halaman resmi panitia. Panitia belum mempublikasikan rincian anggaran per sektor maupun daftar final pembicara internasional.

Doa bagi Negeri dan Kebangkitan Rohani

Bagi panitia, bagian terpenting dari Maluku Bermazmur bukan jumlah peserta atau tamu asing, melainkan apa yang mereka sebut sebagai lawatan dan pemulihan. Dalam keterangan persnya, Berhitu mengajak warga yang sedang bergumul, rindu mengalami lawatan, atau membutuhkan pemulihan tubuh dan jiwa untuk hadir.

Kegiatan ini disusun sebagai kebaktian kebangunan rohani, bukan pertunjukan. Panitia menyebut akan ada penyembahan, doa kesembuhan, dan apa yang mereka imani sebagai kuasa mukjizat Tuhan bagi masyarakat Maluku.

Sesuai nama yang dipakai, mazmur atau pujian menjadi inti acara. Sekitar 1.000 anggota paduan suara disiapkan, dan pujian akan dipimpin Pendeta Frigo Supeleli.

Pilihan Ambon sebagai lokasi sebenarnya sejalan dengan reputasi kota ini. UNESCO mencatat bahwa hampir 90 persen warga Ambon dapat bernyanyi pada level profesional karena keterlibatan mereka dalam paduan suara dan pelatihan sejak usia dini.

Reputasi itu bukan hal yang tiba-tiba. Ambon adalah kota dengan tradisi paduan suara gereja yang panjang, dan kebiasaan bernyanyi bersama sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak keluarga di kota ini.

Panitia juga menyebut kegiatan ini sebagai ruang doa bagi Indonesia, Maluku, dan Ambon. Kerangka berpikirnya sederhana: mereka ingin mendoakan negeri ini bersama-sama, bukan hanya berdoa untuk kepentingan kota atau kelompok tertentu.

Sisi itu yang membuat kegiatan ini menonjol di antara agenda-agenda daerah. Maluku Bermazmur memadukan doa, budaya, dan kunjungan internasional dalam satu rangkaian yang seluruhnya berlangsung di Ambon.