Menang, Diuji, Lalu Sunyi dari Pemberitaan: Ke Mana Kelanjutan Pompa Surya Lawamena?

AMBON — Pada November 2024, inovasi tim Lawamena mendapat perhatian setelah meraih juara pertama kompetisi inovasi energi terbarukan yang digelar NZMATES. Gagasan mereka sederhana sekaligus dekat dengan kebutuhan petani: menggerakkan pompa irigasi memakai energi surya, lalu mengendalikan penyiraman dan pemupukan melalui sistem Internet of Things (IoT).

Setelah pemberitaan tentang kemenangan, prototipe dan aplikasi Lawamena tak banyak muncul lagi dalam penelusuran media terbuka. Itu bukan bukti bahwa timnya berhenti atau alatnya tak lagi digunakan. Namun, minimnya kabar lanjutan memunculkan pertanyaan yang layak dijawab: bagaimana kondisi prototipe hari ini, siapa yang merawatnya, dan apakah manfaatnya sudah menjangkau petani lain?

Pertanyaan itu penting karena inovasi tersebut tidak berhenti pada konsep di atas kertas. ANTARA melaporkan pada 22 November 2024 bahwa tim menyebut sistem telah diuji coba selama dua bulan pada seorang petani sayuran di Desa Poka, Ambon. Dalam uji yang dilaporkan itu, petani disebut dapat mengoperasikan penyiraman dan pemupukan dari jarak jauh melalui aplikasi Lawamena.

Tim Lawamena berasal dari Fakultas Teknik Universitas Pattimura. Laporan media menyebut anggota tim antara lain Stevic Ilela, Marthin Salakory, Excellion Soplero, Hendra Wattimena, dan Ekaristi Rupilu, dengan pembagian peran teknis, pemrograman, desain, dan manajemen proyek. ANTARA menyebut prototipe itu sebagai sistem perencanaan irigasi pertanian dengan pompa tenaga surya berbasis IoT dan melaporkan tim memperoleh juara pertama kompetisi.

Dari keluhan biaya menuju prototipe

Menurut keterangan yang dikutip beberapa laporan saat itu, ide Lawamena berangkat dari keluhan petani mengenai biaya listrik dan bahan bakar untuk mengairi lahan. Sistemnya dirancang memanfaatkan panel surya, sensor kondisi tanah dan udara, serta aplikasi smartphone untuk mengatur operasi pompa dan penyiraman.

Dalam laporan ANTARA, juru bicara tim menyebut petani dapat menghemat sekitar Rp800 ribu per bulan untuk pembelian BBM berdasarkan pengalaman uji coba yang mereka ceritakan. Angka ini adalah klaim yang dikaitkan dengan uji pada satu petani, bukan hasil evaluasi independen berskala luas atau jaminan penghematan bagi semua lahan.

Laporan lain menyebut fitur aplikasi termasuk pemupukan otomatis, pengaturan aliran air, pompa otomatis bertenaga surya, dan kendali panel. Petani yang menjadi lokasi uji menyampaikan bahwa otomatisasi membantu pekerjaan penyiraman dan pemupukan. Detail tersebut memberi gambaran bahwa Lawamena mencoba menggabungkan perangkat fisik, perangkat lunak dan kebutuhan pertanian dalam satu sistem.

Penggabungan itu menarik bagi daerah kepulauan seperti Maluku, tempat kebutuhan pertanian, sumber air, akses energi, dan biaya operasi berbeda-beda antarlokasi. Pompa surya berpotensi mengurangi ketergantungan pada listrik jaringan atau BBM, sementara kendali jarak jauh dapat membantu mengatur jadwal irigasi. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kecocokan kapasitas panel dan pompa, kondisi sumber air, cuaca, biaya penggantian komponen, konektivitas, serta kemampuan pengguna merawat alat.

Karena itu, pertanyaan setelah prototipe diuji bukan hanya apakah alat bisa bekerja, tetapi bagaimana ia bertahan setelah pendampingan kompetisi selesai. Siapa yang memeriksa pompa dan sensor ketika rusak? Apakah suku cadang tersedia di Ambon? Bagaimana aplikasi dan koneksi IoT berfungsi ketika jaringan internet tidak stabil? Apakah petani dapat mengoperasikan sistem tanpa bantuan tim? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menentukan apakah inovasi dapat direplikasi dengan aman dan terjangkau.

Ada serah-terima—tetapi kabar pemanfaatan lanjut masih dicari

Dalam publikasi resminya mengenai kompetisi GENIUS, NZMATES menyebut prototipe dari tiga tim teratas—Lawamena, Luxin Tenebris, dan Seistric—telah diserahkan kepada masyarakat untuk penggunaan praktis. Ini merupakan langkah lebih lanjut daripada sekadar pengumuman pemenang. Namun, pernyataan serah-terima belum menjelaskan secara rinci lokasi penggunaan setelahnya, durasi operasi, catatan pemeliharaan, jumlah petani penerima manfaat, atau hasil pemantauan jangka panjang.

Penelusuran pemberitaan terkait menemukan sejumlah artikel yang terbit berdekatan pada November 2024: laporan ANTARA tentang kemenangan dan uji coba, tulisan Kompasiana, serta pemberitaan Kabar Nusantara dan MalukuTerkini mengenai tim dan aplikasi Lawamena. Sebagian artikel mengulang keterangan yang sama dari tim atau penyelenggara. Karena itu, banyaknya tautan tidak serta-merta berarti banyak verifikasi independen atas dampak sistemnya.

Dalam sumber yang berhasil ditemukan untuk penelusuran ini, belum ada laporan lanjutan yang menjelaskan status teknis pompa, perkembangan aplikasi, atau perluasan penggunaan setelah fase kompetisi dan serah-terima pada 2024. Kesimpulan ini terbatas pada hasil pencarian berita dan sumber publik yang dapat diakses; bukan kepastian bahwa tidak ada kegiatan, dokumentasi internal, atau pembaruan di kanal lain.

Ada pula potensi kebingungan nama. Portal Lawamena Satu Data Maluku milik pemerintah provinsi diluncurkan pada 15 Mei 2025 untuk mengintegrasikan data pemerintahan daerah. Portal tersebut berbeda konteks dan fungsi dari aplikasi pertanian Lawamena.Id yang dikembangkan tim mahasiswa pada 2024. Kesamaan nama di hasil pencarian tidak membuktikan keduanya merupakan proyek yang sama atau bahwa portal pemerintah melanjutkan pompa irigasi tim.

Inovasi perlu jembatan menuju tahap berikutnya

Perjalanan prototipe menuju pemanfaatan rutin biasanya memerlukan lebih dari pendanaan awal dan penghargaan. Dibutuhkan mitra pengguna yang jelas, pencatatan performa, rencana pemeliharaan, pelatihan, pembiayaan suku cadang, dan evaluasi manfaat yang bisa diperiksa. Untuk alat pertanian, pengujian lintas musim dan jenis tanaman juga penting sebelum menyimpulkan dampak produktivitas atau penghematan.

Bagi tim inovator muda, tantangan setelah kompetisi sering kali adalah menemukan waktu dan sumber daya untuk terus mendampingi alat ketika anggota tim telah lulus atau berpindah pekerjaan. Bagi pemerintah, perguruan tinggi, kelompok tani, dan mitra energi, dukungan dapat berupa lokasi uji jangka panjang, pendamping teknis, pengadaan suku cadang, serta model kerja sama yang memberi petani peran dalam perawatan. Langkah-langkah ini bukan tuduhan bahwa dukungan tidak ada; melainkan pertanyaan umum yang perlu dijawab agar prototipe tidak kehilangan jejak setelah seremoni.

Lawamena sudah memiliki modal penting: masalah yang hendak dijawab berasal dari kebutuhan petani, prototipenya pernah diuji di lapangan, timnya mendapat pengakuan kompetisi, dan NZMATES menyatakan prototipe diserahkan kepada masyarakat. Tahap berikutnya adalah dokumentasi yang menjelaskan apa yang terjadi sesudah itu. Catatan pemakaian, foto kondisi alat terkini, wawancara petani, dan pembaruan dari tim atau penerima prototipe akan membantu publik menilai kemajuan secara adil.

Maka, pertanyaan “ke mana kabarnya?” sebaiknya tidak dibaca sebagai vonis bahwa inovasi itu gagal atau ditinggalkan. Pertanyaan itu adalah ajakan kepada tim Lawamena, kelompok tani penerima, Universitas Pattimura, NZMATES, dan instansi terkait untuk berbagi pembaruan: apakah sistem masih berjalan, apa kendala yang ditemui, serta dukungan apa yang dibutuhkan untuk memperluas manfaatnya.

Inovasi pompa air surya berbasis IoT ini menunjukkan potensi anak muda Maluku menghubungkan teknologi energi bersih dengan kebutuhan pertanian setempat. Agar potensinya dapat dinilai dan dikembangkan, publik membutuhkan kabar yang lebih baru daripada dokumentasi kompetisi 2024—bukan sekadar klaim keberhasilan, tetapi juga cerita jujur tentang perawatan, hambatan, dan hasil penggunaan di lapangan. Sampai ada konfirmasi lanjutan, hal paling akurat untuk dikatakan ialah: prototipe Lawamena pernah diuji dan diserahkan kepada masyarakat, sementara jejak pemanfaatan setelah itu belum banyak terdokumentasi dalam sumber publik yang ditemukan.