Polda Maluku mendorong penguatan pembinaan generasi muda sebagai bagian dari upaya mencegah potensi konflik sosial di masyarakat. Dorongan itu disampaikan dalam pertemuan dengan pengurus Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Ambon di Ambon, Jumat, 25 September 2026.

Pertemuan tersebut menempatkan pemuda sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga suasana aman dan rukun. Polda Maluku menilai pembinaan yang dilakukan secara terarah dapat membantu membangun kesadaran hukum, memperkuat karakter, dan mendorong anak muda terlibat dalam kegiatan sosial yang produktif.

Pemuda Dipandang sebagai Mitra Pencegahan

Kapolda Maluku Irjen Pol Dadang Hartanto mengatakan Ambon merupakan pusat aktivitas masyarakat Maluku dengan keberagaman suku, agama, dan latar belakang sosial. Dalam kondisi seperti itu, organisasi kepemudaan memiliki ruang yang besar untuk membantu merawat hubungan antarkelompok.

Kapolda berharap BKPRMI dapat mengambil peran strategis dalam membangun generasi muda yang religius, memiliki kesadaran hukum, dan menjadi pelopor perdamaian di tengah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan saat Kapolda menerima audiensi pengurus BKPRMI Kota Ambon di Ruang Tamu Polda Maluku.

Arah pembinaan yang didorong bukan hanya berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Polda juga mengajak organisasi kepemudaan memperluas kegiatan pendidikan, sosial, dan pengembangan keterampilan sehingga remaja memiliki ruang yang sehat untuk belajar serta berinteraksi.

Pembinaan sejak dini dinilai penting karena persoalan sosial yang melibatkan kelompok pemuda dapat berkembang apabila tidak ditangani dengan komunikasi dan pendampingan. Karena itu, kegiatan yang mempertemukan anak muda dalam suasana positif diharapkan dapat menjadi bagian dari pencegahan.

Masjid sebagai Ruang Pembinaan

Dalam audiensi itu, Polda Maluku mendorong penguatan peran masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda. Fungsi tersebut tidak berhenti pada kegiatan ibadah, tetapi dapat dikembangkan melalui pendidikan Al-Qur’an, pembentukan karakter, peningkatan kesadaran hukum, pembelajaran teknologi, dan pengembangan keterampilan.

Polda juga mendorong pengembangan satu masjid percontohan di Kota Ambon. Gagasan itu diarahkan untuk menghadirkan tempat pembinaan yang mampu menjangkau remaja dan pemuda secara lebih luas.

Masjid percontohan dapat menjadi ruang perjumpaan yang aman bagi anak muda dari berbagai latar belakang. Programnya perlu disusun sesuai kebutuhan peserta, dengan kegiatan yang mudah diikuti, terbuka, dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari.

Pendidikan agama tetap menjadi unsur penting dalam pembinaan. Namun, materi dan kegiatan dapat dilengkapi dengan pendidikan kewargaan, pengenalan hukum, literasi digital, serta keterampilan yang membantu pemuda mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Pendekatan semacam itu juga memungkinkan organisasi kepemudaan mengenali persoalan yang dihadapi remaja. Pendampingan yang dekat dapat membantu mengarahkan anak muda ketika mereka menghadapi tekanan pergaulan, konflik komunikasi, atau informasi yang belum jelas kebenarannya.

Tantangan Informasi di Media Sosial

Perkembangan teknologi informasi dan media sosial menjadi salah satu tantangan yang disoroti dalam upaya menjaga keamanan. Informasi tentang sebuah peristiwa dapat menyebar cepat dan memengaruhi persepsi masyarakat di wilayah lain.

Kecepatan penyebaran informasi membuat kemampuan memeriksa kabar menjadi penting. Pesan yang belum terverifikasi dapat memicu kesalahpahaman apabila diteruskan tanpa melihat sumber, waktu kejadian, dan konteksnya.

Karena itu, pembinaan pemuda perlu memasukkan kebiasaan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Remaja perlu didorong untuk membedakan informasi resmi, laporan media, pendapat pribadi, dan kabar yang belum terkonfirmasi.

Keterampilan tersebut bukan hanya berguna untuk menjaga ketenangan, tetapi juga membantu pemuda berperan sebagai penyampai informasi yang lebih hati-hati di lingkungan masing-masing. Sebelum membagikan suatu kabar, mereka dapat memeriksa sumber dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Ruang digital juga dapat digunakan untuk menyebarkan pesan perdamaian, kegiatan sosial, edukasi hukum, dan program organisasi. Dengan demikian, teknologi tidak hanya dipandang sebagai sumber risiko, tetapi juga sebagai sarana memperluas jangkauan pembinaan.

Kolaborasi Polda dan BKPRMI

Ketua Umum BKPRMI Kota Ambon La Arufin menyampaikan apresiasi atas penerimaan dan arahan Kapolda Maluku. Pertemuan itu diharapkan menjadi awal penguatan kerja sama antara BKPRMI dan Polda Maluku dalam pembinaan remaja masjid di Kota Ambon.

Kerja sama tersebut membutuhkan komunikasi yang berkelanjutan. Organisasi kepemudaan dapat menyampaikan kebutuhan dan kondisi di lapangan, sedangkan aparat kepolisian dapat memberikan penguatan dalam hal kesadaran hukum serta pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Koordinasi juga penting agar kegiatan pembinaan tidak berjalan sendiri-sendiri. Program yang dibuat bersama dapat disusun berdasarkan kebutuhan remaja, kemampuan organisasi, dan kondisi lingkungan tempat kegiatan berlangsung.

Kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain diskusi kepemudaan, pendidikan hukum, pelatihan teknologi, penguatan literasi digital, kegiatan sosial, dan pembinaan keagamaan. Pelaksanaannya tetap perlu disesuaikan dengan aturan serta karakter masyarakat setempat.

Keterlibatan pemuda dalam kegiatan sosial memberi manfaat ganda. Di satu sisi, remaja memperoleh pengalaman bekerja bersama dan menyelesaikan kegiatan secara bertanggung jawab. Di sisi lain, masyarakat melihat kontribusi langsung anak muda dalam menjaga lingkungan sosial.

Pencegahan Konflik Membutuhkan Peran Bersama

Pencegahan konflik tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga. Polisi memiliki kewenangan menjaga keamanan dan menegakkan hukum, tetapi ketahanan sosial juga dibangun melalui keluarga, sekolah, organisasi keagamaan, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, serta media.

Organisasi kepemudaan berada dekat dengan kelompok remaja. Kedekatan itu dapat membantu mengenali persoalan lebih awal dan membuka ruang dialog sebelum masalah berkembang. Pendekatan persuasif tetap perlu berjalan bersama penegakan hukum yang adil ketika terjadi pelanggaran.

Peran keluarga juga penting dalam memberikan pendampingan dan mengajarkan cara menyelesaikan perbedaan. Sekolah dan perguruan tinggi dapat memperkuat pendidikan karakter, kewargaan, serta kemampuan berdiskusi secara sehat.

Pemerintah daerah dapat mendukung kegiatan pemuda melalui fasilitas, program pemberdayaan, dan koordinasi lintas sektor. Media massa dapat membantu menyampaikan informasi yang akurat serta memberi ruang bagi pesan-pesan yang memperkuat kerukunan.

Polda Maluku dan BKPRMI Kota Ambon menyatakan komitmen untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam mendukung pembinaan generasi muda. Komitmen itu menjadi dasar untuk mengembangkan kegiatan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Menjaga Kerukunan di Maluku

Dorongan pembinaan pemuda berlangsung dalam konteks kebutuhan menjaga kerukunan masyarakat Maluku. Keberagaman merupakan bagian dari kehidupan sosial di wilayah ini, sehingga komunikasi antarwarga perlu dirawat melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.

Pencegahan tidak cukup dilakukan setelah masalah muncul. Pembinaan yang rutin, penyampaian informasi yang bertanggung jawab, dan ruang perjumpaan yang terbuka dapat membantu membangun kepercayaan di antara kelompok masyarakat.

Setiap organisasi yang terlibat perlu memastikan kegiatan berjalan inklusif dan tidak menjadi ruang penyebaran kebencian. Pesan keagamaan dan sosial harus disampaikan dengan menghormati perbedaan serta menghindari tuduhan yang tidak berdasar.

Bagi pemuda, keterlibatan dalam menjaga kerukunan dapat dimulai dari tindakan sederhana: memeriksa informasi sebelum membagikannya, menghormati perbedaan, menyelesaikan masalah melalui dialog, dan melaporkan persoalan kepada pihak yang berwenang bila diperlukan.

Polda Maluku berharap pembinaan dapat menjangkau remaja dan pemuda yang belum terlibat dalam aktivitas masjid maupun kegiatan sosial produktif. Perluasan jangkauan menjadi penting agar program tidak hanya diikuti oleh kelompok yang sudah aktif, tetapi juga oleh anak muda yang membutuhkan ruang pendampingan.

Pada tahap berikutnya, pelaksanaan kegiatan perlu dievaluasi bersama. Evaluasi dapat melihat jumlah peserta, jenis kegiatan, kesinambungan program, dan manfaat yang dirasakan oleh pemuda serta masyarakat. Hasil evaluasi menjadi bahan untuk memperbaiki program berikutnya.

Pertemuan Polda Maluku dan BKPRMI Kota Ambon belum merupakan akhir dari proses pembinaan. Pertemuan itu menjadi titik awal untuk membangun kerja sama yang lebih nyata antara aparat keamanan dan organisasi kepemudaan.

Dengan komunikasi yang terjaga, kegiatan sosial yang produktif, serta pembelajaran hukum dan literasi digital, pemuda dapat mengambil bagian dalam menjaga suasana aman. Peran tersebut penting agar upaya pencegahan konflik berjalan sebelum persoalan membesar.

Masyarakat tetap diharapkan tidak mudah terpancing oleh kabar yang belum jelas. Setiap informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan sebaiknya diperiksa melalui sumber resmi dan disampaikan kepada pihak berwenang apabila membutuhkan penanganan.

Perkembangan kerja sama antara Polda Maluku dan BKPRMI Kota Ambon selanjutnya akan bergantung pada tindak lanjut kegiatan di lapangan. Yang menjadi perhatian utama adalah memastikan pembinaan tidak berhenti pada pertemuan, melainkan hadir dalam program yang dapat diikuti dan dirasakan manfaatnya oleh generasi muda.

Langkah Tindak Lanjut

Pembinaan pemuda perlu dilanjutkan dengan kegiatan yang memiliki tujuan, jadwal, dan penanggung jawab yang jelas. Pertemuan awal dapat membuka komunikasi, tetapi perubahan perilaku membutuhkan pendampingan yang konsisten dan evaluasi berkala. Organisasi pelaksana perlu memastikan program menjangkau remaja yang belum aktif dalam kegiatan masjid maupun organisasi sosial.

Kegiatan perlu memberi ruang bagi pemuda untuk menyampaikan pengalaman mereka. Dengan mendengarkan peserta, pengelola program dapat mengetahui persoalan yang berkembang di sekolah, lingkungan tempat tinggal, komunitas, dan ruang digital. Pendekatan sebaya dapat membuat peserta lebih terbuka menyampaikan masalah dan mencari solusi.

Materi pembinaan dapat mencakup kesadaran hukum, literasi digital, pendidikan karakter, kegiatan sosial, keterampilan teknologi, serta penguatan keagamaan. Program harus disusun secara inklusif dan menghormati keragaman masyarakat. Perbedaan latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk menyebarkan kebencian atau mengucilkan warga.

Pemuda juga perlu mengetahui saluran resmi untuk menyampaikan laporan ketika menemukan ancaman, provokasi, atau informasi yang berpotensi mengganggu keamanan. Laporan sebaiknya memuat informasi yang dapat diperiksa dan tidak memperbesar kabar yang belum terbukti.

Pencegahan konflik merupakan pekerjaan bersama. Polisi, pemerintah, organisasi keagamaan, keluarga, sekolah, perguruan tinggi, media, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Kolaborasi akan lebih bermanfaat apabila setiap pihak menjalankan tanggung jawab secara terbuka dan saling menghormati.

Keberhasilan pembinaan tidak hanya dilihat dari jumlah kegiatan, tetapi juga dari meningkatnya partisipasi pemuda, membaiknya komunikasi antarwarga, bertambahnya kemampuan memeriksa informasi, dan tersedianya cara penyelesaian masalah yang tidak mengandalkan kekerasan.

Bagi masyarakat Ambon dan Maluku, pesan utama dari pertemuan tersebut adalah pentingnya menjaga komunikasi dan tidak mudah dipengaruhi informasi provokatif. Pemuda dapat menjadi bagian dari solusi melalui kegiatan produktif, sikap kritis di ruang digital, dan kesediaan merawat hubungan baik dengan warga lain.

Polda Maluku dan BKPRMI Kota Ambon diharapkan melanjutkan komunikasi melalui kegiatan nyata. Dengan begitu, pembinaan generasi muda tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi berkembang menjadi kerja bersama untuk menjaga keamanan, ketertiban, kerukunan, dan kondusivitas masyarakat Maluku.

Peran Organisasi dan Masyarakat

Organisasi kepemudaan dapat membantu membangun kebiasaan dialog di lingkungan masing-masing. Pertemuan rutin memberi kesempatan kepada remaja untuk membahas persoalan secara tenang sebelum berkembang menjadi kesalahpahaman. Pengurus juga dapat mengarahkan peserta untuk mencari informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keluarga dan sekolah tetap menjadi lingkungan penting dalam pembentukan karakter. Orang tua dapat mengingatkan anak agar tidak meneruskan pesan yang belum jelas, sedangkan guru dapat membantu siswa memahami cara berdiskusi dan menyelesaikan perbedaan. Dukungan dari lingkungan terdekat membuat pesan keamanan lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah daerah dan aparat keamanan perlu menjaga agar komunikasi dengan warga berlangsung terbuka. Penjelasan yang cepat dan jelas dapat mengurangi ruang bagi kabar yang tidak benar. Jika terjadi peristiwa yang menimbulkan perhatian masyarakat, informasi resmi perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa memperbesar ketegangan.

Media massa juga memiliki tanggung jawab untuk memberitakan konflik secara hati-hati. Berita perlu memisahkan fakta, pernyataan pihak terkait, dan informasi yang masih harus diverifikasi. Pemberitaan yang akurat membantu masyarakat memahami situasi tanpa mendorong prasangka terhadap kelompok tertentu.

Di ruang digital, pemuda dapat menjadi penggerak pesan damai. Mereka bisa menggunakan media sosial untuk mengumumkan kegiatan sosial, menyebarkan edukasi, dan mengajak warga menjaga ketertiban. Konten yang dibuat harus menghindari penghinaan, tuduhan, dan penyebaran data pribadi.

Langkah sederhana seperti memeriksa tanggal, lokasi, sumber, dan konteks sebuah unggahan dapat mencegah kabar lama dianggap sebagai kejadian baru. Jika isi unggahan menimbulkan keraguan, masyarakat sebaiknya menahan diri untuk tidak membagikannya sampai ada konfirmasi.

Program pembinaan juga perlu memperhatikan keberlanjutan. Peserta yang telah mengikuti kegiatan dapat dilibatkan sebagai relawan atau pendamping sebaya. Dengan cara itu, manfaat program tidak hanya berhenti pada peserta awal, tetapi dapat menjangkau lingkungan yang lebih luas.

Polda Maluku dan BKPRMI Kota Ambon dapat menyusun evaluasi bersama setelah kegiatan berjalan. Evaluasi dapat mencatat jumlah peserta, kegiatan yang terlaksana, kendala, serta rencana perbaikan. Catatan tersebut membantu memastikan kerja sama memiliki hasil yang dapat dilihat dan dikembangkan.

Semangat menjaga keamanan harus ditempatkan sebagai kepentingan bersama. Masyarakat tidak perlu menunggu konflik terjadi untuk membangun komunikasi. Hubungan yang baik, kepedulian terhadap lingkungan, dan sikap kritis terhadap informasi merupakan bagian dari pencegahan yang dapat dilakukan setiap hari.

Dengan dukungan berbagai pihak, pembinaan pemuda di Ambon dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kerukunan Maluku. Fokusnya bukan hanya mencegah pertikaian, tetapi juga memberi ruang bagi anak muda untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi secara positif.

Konsistensi Pesan Perdamaian

Pesan perdamaian akan lebih mudah diterima apabila disampaikan secara konsisten oleh tokoh masyarakat, pemimpin agama, aparat, dan organisasi pemuda. Masyarakat membutuhkan contoh perilaku yang menghargai perbedaan serta menolak kekerasan. Pemuda dapat membantu menerjemahkan pesan tersebut ke dalam kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti kerja bakti, diskusi, olahraga, pelatihan, dan pelayanan sosial.

Kegiatan lintas kelompok juga dapat memperluas perkenalan dan mengurangi jarak sosial. Ketika warga memiliki pengalaman bekerja bersama, perbedaan tidak mudah dipahami sebagai ancaman. Karena itu, ruang perjumpaan yang aman perlu terus dibangun di tingkat kelurahan, negeri, sekolah, kampus, dan komunitas secara berkelanjutan.