Puncak Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2026 digelar di Pantai Ngurbloat, Ohoi Ngilngof, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (24/10/2026) mulai pukul 14.00 WIT.

Sejak pukul 12.00 WIT, warga Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual bersama wisatawan domestik maupun mancanegara memadati pantai berpasir putih itu.

Hamparan pasir yang membentang sekitar tiga kilometer berubah menjadi panggung terbuka bagi perpaduan budaya, hiburan, dan keindahan alam Kepulauan Kei.

Acara puncak itu menutup rangkaian festival enam hari, 19 hingga 24 Oktober 2026, yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN).

Kilwar Kolosal dari Ribuan Pelajar Kei Kecil

Rangkaian acara puncak diawali penampilan Tari Kilwar Kolosal yang melibatkan sekitar 4.000 siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dari wilayah Kei Kecil.

Mengenakan busana adat Kei berwarna-warni, ribuan penari tampil serempak dengan formasi memanjang dan tertata di sepanjang Pantai Ngurbloat. Gerakan kompak itu menyedot perhatian pengunjung.

Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun menyebut para pelajar tidak berlatih bersama di satu lokasi. Mereka mempersiapkan diri di sekolah masing-masing sebelum berkumpul dan menari dengan gerakan yang sama.

"Ini sesuatu yang luar biasa. Mereka tidak latihan bersama-sama di satu tempat, tetapi berlatih di sekolah masing-masing. Hari ini mereka berkumpul dan menari bersama dalam satu gerakan yang sama," kata Thaher dalam sambutannya.

Bupati menyampaikan terima kasih kepada para guru dan siswa yang menyiapkan penampilan itu. Menurutnya, keterlibatan ribuan pelajar menunjukkan generasi muda dapat mengambil bagian langsung dalam menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan daerah.

Sebelumnya, panitia memperkirakan pertunjukan kolosal itu melibatkan 3.000 hingga 4.000 penari. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama panitia serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan penampilan tersebut.

Keterlibatan pelajar sudah terlihat sejak hari pertama. Karnaval Budaya di kawasan Landmark Kota Langgur pada 19 Oktober 2026 diikuti sekitar 60 peserta dari jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP dengan dukungan Dinas Pendidikan.

Goyang Meti Kei dan Gubernur yang Baru Pertama Kali Hadir

Usai penampilan Kilwar Kolosal, suasana berubah lebih meriah ketika Goyang Meti Kei Jilid 3 dimulai. Momen paling menyita perhatian terjadi saat Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama istri, Bupati Thaher Hanubun, serta dua penyanyi jebolan Indonesian Idol, Pice Kota dan Vanessa Zee, turun dari panggung kehormatan.

Ribuan warga yang memadati pantai ikut larut dalam suasana penuh kegembiraan. Pejabat, artis, masyarakat lokal, hingga wisatawan berbaur di atas hamparan pasir putih Ngurbloat tanpa sekat.

Kebersamaan itu digambarkan mencerminkan filosofi Ain Ni Ain, nilai luhur masyarakat Kei yang menegaskan bahwa semua adalah satu dan saling memiliki. Festival tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai kalangan dalam semangat persaudaraan.

Bagi Gubernur Lewerissa, puncak FPMK 2026 menjadi pengalaman pertamanya. Ia mengaku menyesal karena baru hadir tahun ini meski festival telah beberapa kali digelar.

"Untuk pertama kalinya beta hadir dalam kemeriahan dan sukacita Festival Pesona Meti Kei ini. Padahal sudah beberapa kali dilaksanakan. Ternyata beta taidu, beta menyesal sekali, Pak Bupati. Luar biasa acara ini!" ungkap Lewerissa.

Ia bahkan berkelakar, andaikan punya kemampuan memutar kembali mesin waktu, dirinya ingin kembali ke penyelenggaraan Festival Meti Kei sebelumnya.

Pernyataan itu bukan sekadar kekaguman. Lewerissa menilai FPMK punya nilai strategis sebagai ruang pelestarian budaya, promosi pariwisata, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara, panitia penyelenggara, masyarakat adat, pelaku pariwisata, dan seluruh pihak yang bekerja menyukseskan festival.

Dua Penyanyi, Satu Panggung di Pasir Panjang

Kemeriahan berlanjut ketika Pice Kota dan Vanesha Zee tampil di panggung utama. Keduanya membawakan lagu andalan dan mengajak pengunjung bernyanyi serta bergoyang bersama.

Penampilan keduanya menjadi salah satu daya tarik puncak festival tahun ini. Ribuan warga dan wisatawan mengikuti acara yang dijadwalkan berlangsung hingga selesai pada Sabtu sore.

Pemberitaan menyebut nama penyanyi kedua dengan dua ejaan berbeda, yakni Vanesha Zee dan Vanessa Zee. Keduanya merujuk pada penyanyi jebolan Indonesian Idol yang sama.

Kerumunan penggemar yang terbentuk di sekitar panggung menjadi bagian dari dinamika acara. Panitia dan petugas keamanan di lokasi mengatur alur pengunjung agar tetap berada di area yang telah disediakan.

Perpaduan pertunjukan budaya dan musik populer memberi warna tersendiri bagi FPMK 2026. Tradisi lokal tetap menjadi fondasi acara, sementara hiburan modern memperluas daya tarik festival bagi pengunjung dari berbagai kalangan.

UMKM Bergeliat di Tepi Pantai

Di balik kemeriahan panggung, puncak FPMK 2026 menghadirkan peluang ekonomi bagi warga setempat. Puluhan stan UMKM menawarkan aneka makanan, minuman, dan produk kerajinan khas Kei.

Enbal, lat, ubi, ikan asar, sambal colo-colo, serta berbagai minuman segar menjadi pilihan kuliner yang menarik perhatian pengunjung. Kerajinan tangan khas Kei juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Salah satu produk yang menarik perhatian adalah tipa, kerajinan tradisional dengan beragam bentuk, motif, dan ukuran. Produk itu ditawarkan mulai Rp100 ribu hingga jutaan rupiah, bergantung jenis dan ukurannya.

Selain tipa, pengunjung dapat menemukan batik Kei, kaus bertuliskan identitas Kei, serta pernak-pernik bernuansa adat yang berpotensi menjadi cendera mata wisatawan.

Ramainya stan UMKM menunjukkan festival budaya dapat menjadi ruang promosi produk lokal sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan warga. Manfaat FPMK tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga pelaku usaha kecil.

Harapan itu sejalan dengan penegasan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Maluku Tenggara Budi Toffi. Menurutnya, FPMK bukan hanya seremoni, tetapi harus berdampak langsung pada manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.

"FPMK ini bukan hanya seremoni, tetapi bagaimana berdampak langsung terhadap manfaat ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di Kabupaten Maluku Tenggara," kata Budi.

Anggaran Rp300 Juta dan Tradisi Gotong Royong

Di tengah kemeriahan, Bupati Thaher Hanubun mengungkapkan penyelenggaraan festival menggunakan anggaran sekitar Rp300 juta. Dengan anggaran terbatas itu, acara tetap meriah berkat dukungan masyarakat dan kolaborasi berbagai organisasi perangkat daerah.

Thaher menceritakan reaksi Gubernur Lewerissa yang sempat terkejut saat mengetahui besaran anggaran tersebut.

"Ketika saya bilang anggarannya kurang lebih Rp300 juta, beliau heran. Kalau melihat kegiatan seperti ini, mungkin anggarannya di atas Rp1 miliar," ungkap Thaher dalam sambutannya.

"Dengan swadaya masyarakat dan dukungan penuh dari semua OPD, hanya dengan Rp300 juta kita bisa melaksanakan kegiatan ini. Itulah kami orang Kei yang punya tradisi gotong royong," tegasnya.

Bupati menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang berkontribusi, mulai dari jajaran Satpol PP, Dinas Pariwisata, para guru, siswa, hingga masyarakat yang bekerja bersama menyukseskan festival.

Angka Rp300 juta itu disebut sebagai anggaran penyelenggaraan festival. Pemberitaan tidak merinci apakah angka tersebut mencakup seluruh rangkaian enam hari atau hanya kegiatan tertentu, sehingga rincian pos anggaran belum dapat dipastikan dari sumber yang tersedia.

Ketika Air Laut Surut, Warga Turun ke Meti

Festival ini berakar pada fenomena alam meti, yakni kondisi ketika air laut surut jauh sehingga hamparan pesisir terbuka luas. Saat itulah warga Kepulauan Kei turun mencari berbagai hasil laut tanpa harus melaut.

"Meti Kei adalah cara alam memberi berkah-Nya kepada manusia. Masyarakat memperoleh hasil laut hanya dengan pergi ke meti dan tanpa harus melaut. Ini tradisi turun-temurun yang diperoleh dari alam Kepulauan Kei," jelas Gubernur Lewerissa.

Tradisi itu diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bukti eratnya hubungan masyarakat Kei dengan laut sebagai sumber kehidupan. Festival kemudian mengangkat praktik tersebut menjadi atraksi budaya yang bisa disaksikan wisatawan.

Rangkaian festival tahun ini memuat tiga atraksi tradisi utama. Fan Kurkurat atau tradisi buka tutup sasi digelar di Ohoi Kolser pada 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIT. Tradisi itu dikenal sebagai kegiatan memanah ikan secara tradisional.

Sehari berselang, giliran Wer Warat digelar di Ohoi Danar Sare. Tradisi itu berupa penangkapan ikan bersama saat air laut surut, dilakukan secara berkelompok menggunakan tali dan daun nyiur kelapa oleh masyarakat Elaar Lamagorang.

Jadwal resmi festival menempatkan Wer Warat pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 09.00 WIT. Satu pemberitaan menyebut atraksi itu berlangsung Kamis (22/10/2026), sehingga tanggal pastinya belum sepenuhnya seragam antarsumber.

Lomba Goyang Meti Kei dijadwalkan berlangsung dua hingga tiga hari dengan kategori peserta SD, SMP, remaja, dan umum. Panitia memperkirakan jumlah peserta mencapai 120 regu yang menampilkan kreativitas melalui gerakan dan pertunjukan khas festival.

Fan Kurkurat, Tradisi yang Hanya Ada di Ohoi Kolser

Di antara atraksi tradisi, Fan Kurkurat mendapat perhatian tersendiri. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Maluku Tenggara Budi Toffi menyebut tradisi itu memiliki karakter endemik teritorial karena keberadaan dan pelaksanaannya melekat pada Ohoi Kolser.

"Kegiatan ini sangat khas dan endemik teritorial karena hanya ada di Ohoi Kolser. Ini menjadi ikon untuk promosi pariwisata, mulai dari keunikan alam hingga budaya," kata Budi saat ditemui di Ohoi Kolser, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, promosi pariwisata Kepulauan Kei tidak hanya bertumpu pada panorama alam, tetapi juga dapat mengangkat kekayaan tradisi dan kehidupan masyarakat setempat. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga mengenal kebudayaan masyarakat Kei.

Namun Budi mengungkapkan jumlah tamu pada rangkaian Fan Kurkurat tahun ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah kabut asap yang mengganggu penerbangan dan membuat sejumlah jadwal tertunda.

Kesan Wisatawan dari Belanda

Daya tarik alam dan budaya Ohoi Kolser juga dirasakan wisatawan mancanegara. Vera Anthony, wisatawan asal Belanda, mengaku baru pertama kali mengunjungi Kepulauan Kei.

Ia menyatakan keinginannya datang ke Kei Kecil sudah muncul sejak lama setelah mendengar banyak cerita tentang keindahan kawasan itu. Menurutnya, kunjungan tersebut memberinya pengalaman berkesan karena alam Kei Kecil sesuai dengan gambaran yang selama ini didengarnya.

Selain menikmati pemandangan, Vera tertarik mengenal kehidupan dan tradisi masyarakat setempat yang berbeda dengan budaya di negeri asalnya. Pengalaman itu membuat kunjungannya bukan sekadar wisata alam, tetapi juga kesempatan mengenal kebudayaan Kei secara langsung.

Sebelumnya, Budi menyebut wisatawan mancanegara dari Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia telah tiba di Maluku Tenggara dan menyaksikan Karnaval Budaya pada 19 Oktober 2026.

KEN 2027 dan Ambisi Sepuluh Besar Nasional

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menargetkan FPMK masuk jajaran 10 event prioritas nasional melalui kurasi Karisma Event Nusantara 2027. Penilaian Kementerian Pariwisata dijadwalkan pada 5 November 2026.

Budi Toffi menyebut FPMK telah enam kali berturut-turut masuk program KEN hingga 2026. Jika kembali terpilih pada 2027, festival itu akan mencatat tujuh kali keikutsertaan beruntun.

"Maluku Tenggara beruntung karena sampai saat ini, tahun 2026, sudah enam kali berturut-turut. Ini belum dipecahkan oleh kabupaten/kota lain di Provinsi Maluku," kata Budi di Langgur, Jumat (23/10/2026).

Persiapan kurasi mencakup peningkatan kualitas atraksi budaya, tata kelola penyelenggaraan, promosi, keamanan, kenyamanan pengunjung, serta dampak ekonomi bagi masyarakat. Menurut Budi, target sepuluh besar menuntut kesiapan lebih tinggi dibanding sekadar mempertahankan keikutsertaan dalam KEN.

"Skalanya lebih dari KEN. Tentunya segala kualitas dan indikator harus kita jaga," ujarnya.

Soal keamanan, Budi menilai pengalaman pengunjung memengaruhi citra destinasi karena kesan yang diperoleh wisatawan berpotensi disampaikan kepada masyarakat luas.

"Untuk itu, mari sama-sama. Salah satu penilaian yang paling kita ingat adalah soal keamanan dan kenyamanan, karena itu akan diceritakan ke mana-mana," katanya.

Dukungan pengamanan melibatkan Kepolisian Resor Maluku Tenggara, Satuan Polisi Pamong Praja, masyarakat, dan pemuda di lokasi kegiatan. Dukungan juga datang dari Bandara Karel Sadsuitubun Langgur serta unsur CIQP yang mencakup Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, dan otoritas pelabuhan.

Promosi festival melibatkan media massa, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Maluku Tenggara, LPP RRI, serta Telkomsel. Kerja sama melalui pemberitaan, media sosial, dan berbagai saluran komunikasi dinilai perlu untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus memperkenalkan potensi wisata Maluku Tenggara.

Kabut Asap dan Wisatawan yang Tertahan

Di tengah persiapan festival, gangguan penerbangan akibat kabut asap menjadi kendala kedatangan wisatawan ke Maluku Tenggara. Budi Toffi mengungkapkan lebih dari 100 wisatawan yang telah merencanakan perjalanan masih tertahan di Ambon akibat terganggunya penerbangan.

Sebagian wisatawan mempertimbangkan transportasi laut menggunakan kapal Pelni KM Labobar yang dijadwalkan tiba Rabu (21/10/2026).

"Promosi kita besar dan banyak yang ingin datang, tetapi akhirnya tidak datang karena faktor penerbangan. Kita berdoa supaya kabut asap ini cepat berlalu," ungkap Budi.

Meski begitu, sejumlah wisatawan mancanegara dari Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia telah tiba di Maluku Tenggara dan menyaksikan Karnaval Budaya. Sebagian dari mereka memiliki keterbatasan waktu kunjungan sehingga belum tentu dapat mengikuti seluruh rangkaian festival.

Gangguan penerbangan akibat kabut asap bukan persoalan baru di Maluku pada Oktober 2026. General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Pattimura Ambon, Johan Seno Acton, menyatakan seluruh jadwal penerbangan pada Selasa (20/10/2026) dibatalkan karena cuaca buruk dan jarak pandang rendah.

Rute yang terdampak pembatalan meliputi penerbangan menuju Jakarta, Makassar, Surabaya, Ternate, Saumlaki, Nabire, Langgur, Namlea, Sorong, Moa, dan Dobo. Pembatalan serupa berlangsung sejak 14 Oktober 2026 dan berlanjut pada hari-hari berikutnya.

Rute Langgur termasuk salah satu yang terdampak pembatalan dan penundaan penerbangan dari Ambon sejak 14 Oktober 2026. Bagi warga Kei Kecil yang bergantung pada jalur udara itu, gangguan tersebut memaksa penyesuaian jadwal perjalanan, termasuk mempertimbangkan moda laut.

"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang dialami oleh seluruh pengguna jasa. Situasi bad weather dan low visibility ini sangat tidak terprediksi, namun keselamatan dan keamanan penerbangan mutlak menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar," kata Johan.

Pengelola bandara membagikan makanan ringan dan minuman melalui program Service Recovery Action bagi penumpang yang tertahan. Penumpang yang penerbangannya dibatalkan diarahkan ke loket layanan pelanggan masing-masing maskapai untuk mengurus pengembalian dana atau penjadwalan ulang.

Ngurbloat dan Wajah Pariwisata Maluku Tenggara

Pantai Ngurbloat di Ohoi Ngilngof, Kecamatan Manyeuw, dikenal dengan pasir putihnya yang sangat halus. Pantai itu menjadi lokasi puncak FPMK 2026 dan salah satu ikon pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara.

Dinas Pariwisata Provinsi Maluku menyebut lokasi itu juga dikenal sebagai Pantai Pasir Panjang. Kedua nama merujuk pada pantai yang sama di Kabupaten Maluku Tenggara.

Festival tahun ini mengusung tema pelestarian budaya. Dinas Pariwisata Provinsi Maluku menyebut tema tersebut sebagai upaya melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya lokal sekaligus memperkenalkan potensi pariwisata Maluku Tenggara kepada masyarakat luas.

Ukuran Sukses Bukan Keramaian

Gubernur Lewerissa menekankan keberhasilan kegiatan pariwisata tidak cukup diukur dari ramainya acara atau besarnya jumlah wisatawan. Menurutnya, ukuran sesungguhnya adalah manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.

"Festival ini sesungguhnya berhasil jika sektor ekonomi UMKM, ekonomi kreatif, masyarakat sekitar, pelaku pariwisata, serta pelaku seni dan budaya juga mendapatkan manfaat ekonomi," tegasnya.

Pesan itu menempatkan festival budaya sebagai lebih dari seremoni tahunan. Acara seperti ini dinilai perlu membuka ruang usaha dan memperluas pasar produk lokal warga setempat.

Di sisi lain, Gubernur menyoroti tradisi war-warat atau tarik tali sebagai salah satu daya tarik festival. Tradisi itu tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menggambarkan kerja sama, semangat kolektif, dan kebersamaan masyarakat.

"Di sinilah kita melihat makna aini ai—kita semua bersaudara, saling menopang dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bersama," ujarnya.

Kolaborasi Maluku Tenggara dan Tual

Dalam sambutannya, Lewerissa mengajak Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dan Pemerintah Kota Tual memperkuat kolaborasi pengembangan pariwisata. Kedua wilayah dinilai memiliki kekayaan alam, pesisir, dan budaya yang berpotensi besar menjadi daya tarik wisata.

Potensi itu, menurutnya, harus didukung sumber daya manusia yang terampil, profesional, serta mampu memenuhi kebutuhan industri pariwisata. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian laut dan lingkungan agar keindahan Kepulauan Kei tetap terpelihara.

"Mari kita galakkan pariwisata kita di dua wilayah yang luar biasa ini dengan menciptakan sumber daya manusia yang terampil, profesional, dan sesuai dengan kebutuhan pasar wisata," ajaknya.