Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX Ambon memadamkan kebakaran yang melanda lebih dari 10 hektare kawasan hutan dan kebun warga di Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Informasi ini disampaikan Komandan Kodaeral IX, Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, di Ambon, Sabtu (17/10/2026).

Kronologi dan Respons

Api itu menyala selama hampir sebulan dan baru benar-benar padam setelah personel TNI Angkatan Laut turun tangan. Selama ini warga sekitar hanya berusaha memadamkan api secara manual dengan fasilitas yang sangat terbatas, sehingga mereka cepat kelelahan dan kehabisan tenaga saat kobakan api meluas.

Peristiwa itu bermula saat terjadi pembakaran di lahan dan kebun warga. Api segera meluas ke area hutan sehingga kebutuhan tenaga dan peralatan pemadam makin besar. Warga sekitar kewalahan menghadapi api yang sudah merembet ke pepohonan, tanpa dukungan alat pemadam yang memadai. Kondisi itu membuat mereka kelelahan dan kehabisan tenaga.

Krisis itu mendapat respons cepat dari pihak TNI Angkatan Laut. Pada Selasa (13/10/2026), sebanyak 15 personel TNI Angkatan Laut beserta peralatan dan sarana pendukung dilepas Komandan Kodaeral IX, Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, dari Lapangan Markas Komando Kodaeral IX di Halong, Kota Ambon, menuju lokasi kebakaran di Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah.

Dalam misi tersebut, Satuan Tugas penanganan Karhutla Kodaeral IX dipimpin Letda Laut (T) Arya Maulana Kampai sebagai Komandan Tim, dengan kekuatan 15 personel. Tim ini bertugas membantu warga memadamkan kobakan api sekaligus menjaga agar api tidak meluas ke area hutan dan kebun di sekitar lokasi kebakaran.

Pengerahan personel itu berawal dari permohonan bantuan. Pemerintah Desa Saleman pada 12 Oktober 2026 mengirim surat permohonan bantuan sarana dan prasarana penanganan karhutla kepada Kodaeral IX. Permohonan itu menjadi dasar pengerahan 15 personel TNI Angkatan Laut untuk membantu warga memadamkan api yang sudah berlarut lama di kawasan tersebut.

Untuk menunjang tugas di lapangan, 15 personel itu membawa satu unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit truk pengangkut logistik. Personel juga membawa perlengkapan penanganan keadaan darurat, antara lain generator set dan mesin pompa air alkon, agar penyediaan air dan pemadam api di lapangan dapat berjalan optimal selama operasi berlangsung.

Selain itu, tim diiringi peralatan kesehatan dan bahan makanan untuk kebutuhan fungsional. Untuk tempat tinggal di lapangan, personel tersebut menyiapkan satu unit tenda dan 15 unit tempat tidur, karena lokasi kebakaran berada di kawasan hutan yang jauh dari permukiman warga di sekitar Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat.

Di lapangan, tim membagi diri menjadi beberapa kelompok kerja. Sebagian personel fokus memadamkan kobakan api di titik-titik baru, sementara kelompok lain membersihkan sisa bara dan material bakar agar api tidak muncul kembali setelah semalam, terutama di area dengan lapisan gambut tebal yang mudah terbakar.

Warga sekitar membantu tim dengan cara mereka sendiri. Sebagian menyiapkan makanan bagi personel yang bekerja semalaman, sebagian lagi membantu mengangkut peralatan pemadam melalui jalur lintasan yang berlumpur dan sempit menuju titik kobakan api di dalam kawasan hutan. Kerjasama itu membuat penanganan api jauh lebih cepat daripada bila dikerjakan sendiri.

Mematikan api saja belum cukup. Personel bekerja bergantian menjaga titik-titik rawan di sekitar lokasi, memastikan tidak ada bara yang masih tersembunyi di bawah tumpukan material kering, seperti ranting dan daun kering, yang mudah terbakar kembali pada jam-jam berikutnya. Di titik-titik itu, tim juga terus memantau kondisi lapangan.

Usaha memadamkan api menuntut ketekunan panjang, tetapi hasilnya membanggakan. Setelah seluruh titik kobakan berhasil dipadamkan, areal bekas kebakaran disiram ulang dengan air untuk mencegah bara tersisa menyala kembali. Tindakan ini juga menjadi tahap awal pemulihan lahan agar warga dapat kembali menggarap kebunnya seperti sebelumnya.

Upaya Pemadaman di Lapangan

Memasuki hari keempat operasi pemadaman, warga Negeri Saleman di Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, mulai melihat tandanya. Secara kumulatif, tim pemadam berhasil memadamkan api di sekitar 2 hektar lahan yang terbakar sejak awal kejadian. Capaian itu adalah hasil kerja keras selama empat hari tanpa jeda.

Alat utama yang digunakan adalah mobil pemadam dari Kodaeral IX Ambon, termasuk beberapa unit kendaraan pemadam api (truk) yang dikawal personil. Mobil truk tersebut menjadi tumpuan operasi karena mampu membawa tangki air berkapasitas besar ke titik-titik kobakan yang jauh dari akses kendaraan biasa.

Selain mobil pemadam api, tim juga mengoperasikan genset penghisap air yang disuap dari sungai dan sumur di sekitar lokasi. Air dipompa tanpa henti, lalu disalurkan ke titik-titik api yang masih menyala. Pompa ini penting karena tanah landai dan malam yang gelap menyulitkan penanganan lapangan.

Hari keempat, tim pemadam Kodaeral IX tidak berhenti bekerja di Negeri Saleman. Mobil pemadam kebakaran dari Kodaeral IX menjadi tulang punggung pertahanan, mengangkut air dan personel pendukung ke titik-titik api yang masih aktif terbakar.

Di lapangan, genset dan pompa alkon yang dibawa tim punya dua fungsi vital: menjaga tekanan air saat sumber terdekat tidak cukup, dan menjangkau petak sempit yang tidak bisa dimasuki kendaraan berat seperti mobil pemadam.

Capaian dua hektar yang padam pada hari keempat tercatat setelah empat hari operasi tanpa jeda. Sisa area masih menjadi fokus kerja tim, yang terus menjaga garis api agar bara tidak naik lagi ke arah lahan dan permukiman warga.

Tantangan terbesar tim bukan api itu sendiri, melainkan air. Sumber air yang bisa dipakai berjarak sekitar 10 kilometer dari titik api, sehingga tim harus mengangkut air jauh-jauh sebelum sempat menyalakan pompa alkon di lokasi.

Dengan sumber air sekitar 10 kilometer dari titik api, satu kali angkut tidak akan pernah cukup untuk satu petak lahan. Karena itu tim bekerja bergantian, mengisi ulang di sumber lalu kembali ke garis api dengan tekanan waktu yang ketat.

Hari keempat operasi, tim Kodaeral IX sudah memadamkan api di sekitar 2 hektar lahan di Negeri Saleman. Capaian itu tidak datang cepat: setiap jam penyiraman air dihitung, dan setiap waktu bara menyala kembali tim harus mengulang pekerjaan yang sama.

Bagi warga, dua hektar yang sudah padam bukan sekadar angka: kebun, sawah, dan pekarangan mereka tidak lagi berada dalam garis api. Tim pun masih menahan diri menyatakan operasi selesai, karena bara di titik lain belum sepenuhnya mereda.

Selama operasi, personel Kodaeral IX tetap menjaga komunikasi dengan warga: memberi tahu jalur evakuasi, memperingatkan bagian lahan yang masih rawan, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal di area dekat garis api.

Dampak bagi Warga Saleman

Dampak kebakaran hutan dan lahan di Negeri Saleman langsung dirasakan oleh warga di sekitarnya. Asap tebal membuat kualitas udara menurun tajam. Untuk mengurangi risiko menghirup asap, Kodaeral IX Ambon membagikan 1.000 masker gratis kepada warga Saleman. Masker dibagikan secara cuma-cuma kepada warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.

Kodaeral IX Ambon membagikan 1.000 masker gratis kepada warga Negeri Saleman di Kabupaten Maluku Tengah. Penyerahan masker dilakukan oleh Pengurus Daerah Kodaeral IX Jalasenastri Koarmada RI kepada warga yang tinggal di sekitar kawasan kebakaran hutan dan lahan.

Masker gratis itu menjadi lapisan perlindungan awal bagi warga yang tinggal dekat lokasi kebakaran. Masker membantu menahan partikel kecil dan mengurangi asap yang masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika kegiatan harian di luar rumah masih harus berjalan.

Kodaeral IX meminta warga Saleman untuk membatasi aktivitas di luar rumah selama kebakaran hutan dan lahan masih berlangsung. Memperpendek waktu berada di luar rumah mengurangi paparan langsung terhadap asap, sementara warga menjaga rumah dan sekitarnya tetap sebersih mungkin.

Para otoritas juga meminta masyarakat menghindari area yang terdampak kebakaran. Pindah dari zona yang masih tertutup asap adalah pilihan teraman, dan warga diminta tetap waspada selama operasi pemadaman di Saleman berlangsung.

Kelompok rentan diminta untuk ekstra perhatian. Anak-anak, warga lanjut usia, dan perempuan hamil diminta untuk tetap berada di dalam rumah sebisa mungkin dan menggunakan masker yang dibagikan setiap kali harus keluar rumah selama periode asap.

Warga dengan asma atau gangguan pernapasan lain termasuk kelompok yang paling berisiko terhadap paparan asap. Setiap gejala yang memburuk, seperti batuk terus-menerus, iritasi tenggorokan, atau sesak napas, seharusnya mendorong warga untuk segera berkonsultasi ke layanan kesehatan daripada menahannya.

Pencegahan sederhana juga membantu. Warga diminta menutup jendela dan pintu, menyediakan air minum, serta mencuci tangan dan wajah setelah pulang dari luar rumah agar partikel asap tidak menempel di kulit atau di mata.

Bagi rumah tangga di Saleman, 1.000 masker gratis menjadi bantuan praktis selama pemadaman masih berlangsung. Dipadukan dengan pengurangan aktivitas di luar rumah, menghindari area terdampak, dan perhatian ekstra pada anak-anak, warga lanjut usia, serta perempuan hamil, tujuannya menjaga warga tetap aman dari asap.

Lahan Kebun Pala dan Cengkeh yang Hangus

Api di Negeri Saleman, Seram Utara Barat, Maluku Tengah, Oktober 2026, tidak hanya membakar hutan. Lebih dari sepuluh hektar lahan, termasuk kebun pala dan cengkeh milik warga, ikut hangus. Vegetasi rapat dan kondisi kering membuat api merambat cepat ke lahan sekitar.

Pala dan cengkeh bukan tanaman yang cepat memberi hasil. Pohonnya baru bisa dipanen pertama kali beberapa tahun setelah ditanam. Artinya, satu malam api dapat menghapus pendapatan warga Saleman untuk musim-musim yang akan datang, bukan sekadar satu kali panen.

Bagi rumah tangga di Saleman, pala dan cengkeh bukan tanaman cadangan, melainkan sumber utama keluarga. Saat keduanya hangus, keluarga kehilangan cara paling cepat untuk mencari nafkah di kampung sendiri, dan harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan harian.

Selain nilai jual, yang hilang adalah waktu. Menanam ulang pala dan cengkeh berarti menunggu beberapa tahun lagi sebelum panen pertama kembali datang. Bagi keluarga di Saleman, itu berarti menunda cicilan dan kebutuhan sehari-hari, sementara biaya hidup tetap berjalan terus.

Ketika lebih dari sepuluh hektar hutan dan kebun hangus di Saleman, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga pendapatan keluarga yang bergantung pada pala dan cengkeh. Pohon baru harus tumbuh lagi berbulan-bulan sebelum pendapatan pulih seperti semula bagi warga.

Perkembangan Terbaru dan Pemantauan

Hujan turun tiga kali dalam empat hari terakhir di Saleman, sebagian besar berlangsung pada sore hari. Hujan itu memberi harapan api akan mereda, tetapi pemantauan di lapangan terus berlanjut sampai api benar-benar padam.

Memasuki hari keempat penanganan, personel Kodaeral IX Ambon tetap berjaga di lokasi. Seluruh personel dilaporkan dalam kondisi sehat. Pemantauan wilayah terus dilakukan agar api tidak kembali menyala di area yang sebelumnya terbakar.

Hujan sore turun tiga kali dalam empat hari di Saleman. Hujan membantu meredam bara api, tetapi tim masih memantau secara berkala karena bara di bawah tanah sulit dikenali dari luar. Pemantauan tetap berjalan sampai api benar-benar padam.

Bagi warga Saleman, masker gratis dari Kodaeral IX Ambon adalah lapisan perlindungan pertama. Masker membantu menahan partikel kecil yang mengganggu saluran pernapasan, tetapi bukan pengganti masker jenis lain yang sesuai.

Warga Saleman diminta tetap memakai masker dan menjauh dari area sekitar lokasi api. Masker melindungi saluran pernapasan dari asap dan debu yang masih tersisa di udara, terutama ketika cuaca berubah menjadi sangat kering dan berangin.

Warga Saleman diminta segera melapor kepada pihak setempat bila melihat bara atau asap di lahan yang pernah terbakar. Laporan yang cepat sangat membantu tim memadamkan titik api baru sebelum api berkembang meluas ke lahan sekitar.

Secara resmi Kodaeral IX Ambon menyatakan seluruh personel dalam keadaan sehat. Penanganan di Saleman masih berlanjut dan pemantauan wilayah terus dilakukan sampai api benar-benar padam serta kondisi lahan dinyatakan aman.

Penutupan penanganan di Saleman tidak mungkin terjadi tanpa bantuan seluruh pihak. Hujan yang turun tiga kali dalam empat hari membantu meredam api, sementara warga tetap berjaga menjaga lingkungan sekitar agar api tidak kembali muncul.

Misi Kemanusiaan dan Peran TNI AL

Hanarko menyebut peristiwa ini sebagai misi kemanusiaan. Bagi TNI AL, pengadieran ini bukan tugas sampingan, melainkan bagian dari Operasi Militer Selain Perang.

Lahan bekas bakar di Negeri Saleman kini menjadi perhatian utama warga dan pemerintah setempat. Tim TNI AL masih memantau bara yang menyala di bawah permukaan tanah. Hujan yang turun tiga kali dalam empat hari membantu, tetapi titik-titik panas di lereng perlu dicek setiap hari.

Pohon pala dan cengkeh ikut hangus bersama pepohonan keras lainnya sehingga harus disulam ulang. Penanaman kembali akan berjalan perlahan karena tanah bekas bakar perlu dinormalkan lebih dulu, sementara warga diminta menjaga petak yang telah disulam agar api kecil tidak muncul lagi.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah memegang peran penting dalam pemulihan Saleman. Koordinasi dengan TNI AL dan warga perlu berlanjut, terutama dalam pengawasan area bekas bakar dan penentuan bibit yang akan ditanam kembali oleh masyarakat agar lahan kembali produktif dalam waktu yang relatif singkat.

Kerja sama warga membuat penanganan api di Saleman berjalan jauh lebih cepat. Warga menyiapkan makanan dan air untuk tim serta membantu langsung di lapangan, sementara seribu masker dibagikan. Semua 15 personel TNI AL dipastikan dalam keadaan sehat tanpa korban.

Hujan yang turun tiga kali dalam empat hari membantu meredam api, sementara seribu masker telah dibagikan kepada warga. Pemulihan lahan Saleman masih panjang dan butuh kerja bersama pemerintah dan warga, agar pohon pala dan cengkeh dapat tumbuh kembali.

Penutup